-->

Notification

×

Iklan

Iklan

banner 728x90

Indeks Berita

Tahukah Anda bahwa beberapa negara di dunia memberi kesempatan bagi warganya untuk menunaikan ibadah haji tanpa harus menunggu bertahun-tahun

Sabtu, 08 November 2025 | November 08, 2025 WIB | 0 Views Last Updated 2025-11-07T18:02:53Z

 



Tahukah Anda bahwa beberapa negara di dunia memberi kesempatan bagi warganya untuk menunaikan ibadah haji tanpa harus menunggu bertahun-tahun seperti halnya di Indonesia?

Rukun Islam kelima ini merupakan puncak ibadah bagi setiap muslim. Namun, karena keterbatasan kuota yang ditetapkan oleh pemerintah Arab Saudi, sebagian besar negara menerapkan sistem antrean agar pelaksanaannya lebih tertib dan proporsional.

Di Indonesia, persoalan antrean haji masih menjadi tantangan besar. Wakil Menteri Agama RI Dahnil Anzar Simanjuntak, menjelaskan bahwa masa tunggu calon jemaah kini diseragamkan menjadi sekitar 26 tahun.

Pernyataan tersebut ia sampaikan dalam rapat dengan Komisi VIII DPR RI di Senayan, Jakarta, Selasa (28/10/2025). Menurutnya, kebijakan ini merupakan bagian dari penyesuaian kuota haji 2026 yang berbeda cukup signifikan dibanding tahun sebelumnya.

Sebaliknya, ada sejumlah negara yang tidak memiliki antrean panjang sama sekali. Warga di negara-negara tersebut bahkan bisa menunaikan ibadah haji di tahun yang sama setelah mendaftar.

Lalu, negara mana saja yang memungkinkan warganya berhaji tanpa harus menunggu lama? Dihimpun dari berbagai sumber, berikut tujuh negara yang warganya dapat langsung berangkat haji tanpa antrean:

Negara-negara Tanpa Antrean Haji

1. Brunei Darussalam

Brunei Darussalam merupakan negara kecil namun makmur dengan populasi sekitar 400 ribu jiwa, lebih dari 70% di antaranya beragama Islam.

Dengan kuota sekitar 1.000 jemaah haji per tahun, rasio antara jumlah pendaftar dan kuota sangat seimbang. Karena itu, warga Brunei hampir tidak pernah menghadapi antrean panjang untuk ibadah haji.

Keberhasilan Brunei dalam pengelolaan haji terletak pada sistem pemerintahannya yang efisien.

Seluruh proses, mulai dari pendaftaran hingga keberangkatan, diatur oleh Kementerian Agama Brunei melalui sistem digital terintegrasi dan transparan.

Pemerintah juga memberikan subsidi besar terhadap biaya haji, sehingga perjalanan ke Tanah Suci menjadi lebih terjangkau.

2. Maladewa

Maladewa atau Maldives memang terkenal sebagai surga wisata dunia, tetapi mayoritas penduduknya juga beragama Islam.

Dengan jumlah penduduk sekitar setengah juta orang, permintaan haji di negara ini tergolong rendah dibanding kuota dari Arab Saudi.

Pemerintah melalui Maldives Hajj Corporation mengatur keberangkatan jemaah dengan sistem yang disiplin dan transparan.

Karena jumlah pendaftar sedikit, warga Maladewa biasanya dapat langsung berangkat di tahun yang sama. Bahkan, di beberapa tahun tertentu, kuota haji tidak terpakai sepenuhnya akibat minimnya calon jemaah.

3. Suriname

Suriname, negara kecil di Amerika Selatan, memiliki komunitas Muslim keturunan Jawa dan India.

Walaupun hanya sekitar 15% dari total populasi, kegiatan keagamaan masyarakat Muslim di sana cukup aktif, termasuk dalam pelaksanaan ibadah haji.

Karena populasi Muslim relatif kecil, jumlah pendaftar pun sedikit, sehingga warga Suriname dapat menunaikan haji tanpa harus menunggu lama.

Pemerintah dan organisasi keagamaan di negara tersebut bekerja sama untuk mengatur pendaftaran dan keberangkatan, memastikan pelaksanaannya berjalan tertib dan terkoordinasi dengan baik.

4. Guyana

Guyana, yang bertetangga dengan Suriname, juga memiliki komunitas Muslim kecil keturunan India yang tetap mempertahankan tradisi keislaman mereka.

Jumlah pendaftar haji di negara ini sangat sedikit, membuat kuota dari Arab Saudi hampir selalu mencukupi. Calon jemaah hanya perlu memenuhi dokumen dan syarat administratif untuk langsung berangkat di tahun yang sama.

Tantangan utama bagi jemaah asal Guyana bukan antrean, melainkan jarak yang jauh dan biaya perjalanan yang tinggi karena tidak adanya penerbangan langsung ke Arab Saudi.

Meski demikian, semangat masyarakat Muslim Guyana untuk menunaikan haji tetap besar, dengan dukungan penuh dari pemerintah dan komunitas Islam setempat.

5. Seychelles

Seychelles merupakan negara kepulauan kecil di Samudra Hindia dengan populasi sekitar 100 ribu jiwa. Dari jumlah tersebut, hanya sekitar 1% yang beragama Islam. Dengan jumlah pendaftar yang sangat sedikit, permintaan haji pun rendah.

Walau demikian, Arab Saudi tetap memberikan kuota resmi bagi Seychelles sebagai bentuk penghormatan kepada umat Islam di seluruh dunia. Antrean keberangkatan hampir tidak pernah terjadi di negara ini.

6. Fiji

Fiji memiliki komunitas Muslim yang aktif, mayoritas berasal dari keturunan India. Meskipun jumlahnya hanya sekitar 6% dari total populasi, umat Islam di Fiji sangat kompak dalam menjalankan kegiatan keagamaan.

Setiap tahun, jumlah calon jemaah haji relatif sedikit. Dengan kuota memadai dan sistem administrasi yang efisien, warga Fiji dapat berangkat kapan pun mereka siap secara finansial dan spiritual tanpa perlu menunggu lama.

Organisasi Islam di Fiji juga berperan besar dalam membantu jemaah, mulai dari pelaksanaan manasik, pemeriksaan kesehatan, hingga pendampingan pembiayaan.

7. Bosnia dan Herzegovina

Bosnia dan Herzegovina memiliki sejarah panjang dengan Islam sejak masa Kekaisaran Ottoman. Meskipun jumlah penduduk Muslim di sana cukup banyak, minat berhaji masih seimbang dengan kuota yang diberikan Arab Saudi.

Pemerintah Bosnia mengelola pendaftaran haji secara terpusat melalui lembaga resmi, menjadikan prosesnya tertib dan terkoordinasi.

Setiap jemaah mendapatkan pendampingan dan pembinaan sebelum keberangkatan. Umumnya, mereka dapat berangkat di tahun yang sama setelah mendaftar, atau paling lama satu tahun kemudian.

×
Berita Terbaru Update