Kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) semakin banyak
digunakan di berbagai negara, termasuk Indonesia. EV menawarkan sejumlah
keunggulan, mulai dari torsi instan, emisi lebih rendah, hingga biaya perawatan
yang lebih murah.
Namun, berpindah dari mobil berbahan bakar bensin ke mobil
listrik bukan sekadar mengganti mesin dengan motor listrik. Ada sejumlah
kebiasaan lama yang justru bisa mempercepat penurunan performa, mengurangi
jarak tempuh, hingga memperpendek usia baterai EV.
Dilansir dari Slashgear, Minggu (4/1/2026), berikut lima
kebiasaan yang sebaiknya segera dihentikan apabila Anda mengendarai mobil
listrik.
1. Terlalu Sering Mengisi Daya hingga 100%
Kebiasaan mengisi penuh tangki bahan bakar pada mobil
konvensional sering terbawa saat beralih ke EV. Padahal, mengisi daya baterai
EV hingga 100% setiap hari tidak dianjurkan, kecuali untuk perjalanan jauh.
Pengisian penuh secara terus-menerus dapat mempercepat
degradasi baterai, terutama pada baterai selain lithium iron phosphate (LFP).
Untuk penggunaan harian, idealnya baterai dijaga di kisaran 20%–80%.
Selain lebih sehat bagi baterai, pengisian hingga 80% juga
lebih cepat dibanding menunggu 20% terakhir yang membutuhkan waktu lebih lama.
Sebagian besar EV modern sudah menyediakan fitur pembatas pengisian daya secara
otomatis.
2. Terlalu Bergantung pada DC Fast Charger
Pengisian cepat menggunakan direct current (DC) fast charger
memang sangat membantu, terutama saat perjalanan jauh. Namun, penggunaan fast
charging setiap hari tidak disarankan.
Pengisian arus searah bertegangan tinggi menghasilkan panas
berlebih pada baterai. Apabila terlalu sering dilakukan, panas ini dapat
menurunkan kapasitas simpan daya baterai dalam jangka panjang.
DC fast charging sebaiknya digunakan saat benar-benar
dibutuhkan, seperti di perjalanan luar kota atau saat baterai hampir habis.
3. Mengabaikan Kondisi Ban
Mobil listrik umumnya lebih berat dibanding mobil bensin
karena membawa paket baterai besar di bagian bawah kendaraan. Bobot ekstra ini
membuat ban EV lebih cepat aus.
Selain itu, torsi instan pada EV juga mempercepat keausan
tapak ban, terutama apabila sering berakselerasi mendadak. Ban yang aus tidak
hanya berbahaya, tetapi juga bisa mengurangi jarak tempuh akibat hambatan gulir
yang meningkat.
Pengguna EV disarankan rutin memeriksa tekanan dan kondisi
ban, serta menggunakan ban khusus EV yang dirancang untuk daya tahan,
efisiensi, dan kebisingan rendah.
4. Terlalu Sering Menginjak Pedal Gas Dalam-dalam
Torsi instan adalah daya tarik utama EV. Namun, terlalu
sering menginjak pedal akselerator secara agresif bisa berdampak negatif.
Akselerasi mendadak membutuhkan daya besar dari baterai,
sehingga konsumsi energi melonjak tajam. Akibatnya, jarak tempuh nyata bisa
jauh lebih rendah dari klaim pabrikan.
Sebagai contoh, EV dengan klaim jarak tempuh 480 kilometer
(km) bisa hanya menempuh 320–350 km apabila sering dipacu agresif. Selain boros
energi, kebiasaan ini juga mempercepat keausan ban dan meningkatkan frekuensi
pengisian daya.
5. Mengabaikan Pembaruan Perangkat Lunak
Mobil listrik modern sangat bergantung pada perangkat lunak,
mulai dari sistem hiburan, manajemen baterai (BMS), hingga fitur keselamatan
seperti ADAS. Beberapa model, seperti milik Tesla, bahkan mengandalkan
pembaruan perangkat lunak untuk peningkatan performa dan fitur mengemudi
otonom.
Mengabaikan pembaruan bisa membuat kendaraan kurang aman dan
kurang optimal. Pengguna disarankan rutin mengecek update melalui layar
infotainment atau mengaktifkan fitur pembaruan otomatis.