-->

Notification

×

Iklan

Iklan

banner 728x90

Indeks Berita

Kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) semakin banyak digunakan di berbagai negara, termasuk Indonesia

Senin, 05 Januari 2026 | Januari 05, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-01-04T19:23:08Z

 


Kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) semakin banyak digunakan di berbagai negara, termasuk Indonesia. EV menawarkan sejumlah keunggulan, mulai dari torsi instan, emisi lebih rendah, hingga biaya perawatan yang lebih murah.

Namun, berpindah dari mobil berbahan bakar bensin ke mobil listrik bukan sekadar mengganti mesin dengan motor listrik. Ada sejumlah kebiasaan lama yang justru bisa mempercepat penurunan performa, mengurangi jarak tempuh, hingga memperpendek usia baterai EV.

Dilansir dari Slashgear, Minggu (4/1/2026), berikut lima kebiasaan yang sebaiknya segera dihentikan apabila Anda mengendarai mobil listrik.

1. Terlalu Sering Mengisi Daya hingga 100%

Kebiasaan mengisi penuh tangki bahan bakar pada mobil konvensional sering terbawa saat beralih ke EV. Padahal, mengisi daya baterai EV hingga 100% setiap hari tidak dianjurkan, kecuali untuk perjalanan jauh.

 

Pengisian penuh secara terus-menerus dapat mempercepat degradasi baterai, terutama pada baterai selain lithium iron phosphate (LFP). Untuk penggunaan harian, idealnya baterai dijaga di kisaran 20%–80%.

 

Selain lebih sehat bagi baterai, pengisian hingga 80% juga lebih cepat dibanding menunggu 20% terakhir yang membutuhkan waktu lebih lama. Sebagian besar EV modern sudah menyediakan fitur pembatas pengisian daya secara otomatis.

 

2. Terlalu Bergantung pada DC Fast Charger

Pengisian cepat menggunakan direct current (DC) fast charger memang sangat membantu, terutama saat perjalanan jauh. Namun, penggunaan fast charging setiap hari tidak disarankan.

 

Pengisian arus searah bertegangan tinggi menghasilkan panas berlebih pada baterai. Apabila terlalu sering dilakukan, panas ini dapat menurunkan kapasitas simpan daya baterai dalam jangka panjang.

 

DC fast charging sebaiknya digunakan saat benar-benar dibutuhkan, seperti di perjalanan luar kota atau saat baterai hampir habis.

 

3. Mengabaikan Kondisi Ban

Mobil listrik umumnya lebih berat dibanding mobil bensin karena membawa paket baterai besar di bagian bawah kendaraan. Bobot ekstra ini membuat ban EV lebih cepat aus.

 

Selain itu, torsi instan pada EV juga mempercepat keausan tapak ban, terutama apabila sering berakselerasi mendadak. Ban yang aus tidak hanya berbahaya, tetapi juga bisa mengurangi jarak tempuh akibat hambatan gulir yang meningkat.

Pengguna EV disarankan rutin memeriksa tekanan dan kondisi ban, serta menggunakan ban khusus EV yang dirancang untuk daya tahan, efisiensi, dan kebisingan rendah.

4. Terlalu Sering Menginjak Pedal Gas Dalam-dalam

Torsi instan adalah daya tarik utama EV. Namun, terlalu sering menginjak pedal akselerator secara agresif bisa berdampak negatif.

Akselerasi mendadak membutuhkan daya besar dari baterai, sehingga konsumsi energi melonjak tajam. Akibatnya, jarak tempuh nyata bisa jauh lebih rendah dari klaim pabrikan.

Sebagai contoh, EV dengan klaim jarak tempuh 480 kilometer (km) bisa hanya menempuh 320–350 km apabila sering dipacu agresif. Selain boros energi, kebiasaan ini juga mempercepat keausan ban dan meningkatkan frekuensi pengisian daya.

5. Mengabaikan Pembaruan Perangkat Lunak

Mobil listrik modern sangat bergantung pada perangkat lunak, mulai dari sistem hiburan, manajemen baterai (BMS), hingga fitur keselamatan seperti ADAS. Beberapa model, seperti milik Tesla, bahkan mengandalkan pembaruan perangkat lunak untuk peningkatan performa dan fitur mengemudi otonom.

Mengabaikan pembaruan bisa membuat kendaraan kurang aman dan kurang optimal. Pengguna disarankan rutin mengecek update melalui layar infotainment atau mengaktifkan fitur pembaruan otomatis.

×
Berita Terbaru Update