Striker Alejandro Garnacho menjadi sorotan setelah mengklik
lambang suka (like) pada unggahan Instagram yang mengumumkan pemecatan mantan
manajernya di Manchester United, Ruben Amorim. Aksi tersebut memicu spekulasi
baru terkait hubungan keduanya yang sejak lama disebut tidak harmonis.
Pada Senin (5/1/2026) siang waktu London, jurnalis ternama
Fabrizio Romano mengunggah foto di Instagram yang menyebut Manchester United
telah resmi memecat Amorim. Kurang dari 20 menit kemudian, Garnacho terlihat
memberikan tanda suka pada unggahan tersebut, sebelum akhirnya menjadi perbincangan
luas di media sosial.
Di bawah asuhan Amorim, Garnacho tercatat menjadi starter
dalam 25 dari 40 pertandingan bersama Manchester United. Namun, hubungan
keduanya kerap diwarnai ketegangan. Puncaknya terjadi seusai final Liga Europa
melawan Tottenham, ketika Garnacho secara terbuka memprotes keputusan Amorim
yang mencadangkannya dan menggantinya dengan Mason Mount.
Sebelumnya, Garnacho bersama Marcus Rashford juga sempat
tidak masuk skuad saat Manchester United menyingkirkan Manchester City di babak
16 besar Liga Inggris pada 26 Februari 2025. Pada 24 November 2024, pemain
timnas Argentina itu bahkan mengunggah foto bernada protes setelah ditarik
keluar saat menghadapi Ipswich Town.
Akibat unggahan tersebut, Garnacho dilaporkan harus
mendatangi kamar Amorim untuk meminta maaf dan berjanji menebus kesalahan
dengan mentraktir seluruh tim makan malam.
Ketegangan makin memuncak pada bursa transfer musim panas
2025. Amorim disebut memperingatkan Garnacho bahwa ia akan dicadangkan
sepanjang musim jika tetap bertahan di Old Trafford. Pada akhir Agustus,
penyerang berusia 21 tahun itu akhirnya pindah ke Chelsea dengan nilai transfer
US$ 51 juta dan menandatangani kontrak hingga 2032. Namun, performanya belum maksimal
dengan catatan satu gol dari 13 laga Premier League musim ini.
Sementara itu, Ruben Amorim kehilangan jabatannya setelah 14
bulan menangani Manchester United. Selama periode tersebut, Setan Merah
memainkan 63 pertandingan, dengan rincian 25 kemenangan, 18 hasil imbang, dan
21 kekalahan, mencatat tingkat kemenangan 38,1 persen, mencetak 122 gol, dan
kebobolan 114 gol.
Menjelang pemecatannya, Amorim beberapa kali melontarkan
pernyataan publik yang mengindikasikan konflik dengan manajemen klub, khususnya
Direktur Sepak Bola Jason Wilcox. Ia menegaskan bahwa penerapan formasi 3-4-3
membutuhkan waktu dan dana besar, serta secara terbuka menyindir Wilcox dengan
pernyataan, “Lakukan pekerjaanmu dengan baik.”
Pernyataan tersebut menuai kritik tajam dari para legenda
Premier League. Dalam program The Rest Is Football, Alan Shearer menilai nasib
Amorim sudah dapat ditebak sejak awal. Menurutnya, sang pelatih mencoba
menegaskan otoritas sebagai “bos”, bukan sekadar pelatih, di tengah minimnya
dukungan transfer.
Analisis serupa disampaikan Wayne Rooney, yang mengaku heran
dengan keyakinan Amorim saat melontarkan kritik terbuka.
“Pilihan kata-katanya aneh dan membingungkan. Dia berbicara
seperti akan bertahan lama, padahal performa tim buruk,” ujar Rooney.
Rooney menegaskan Amorim belum berada di posisi untuk
menuntut banyak hal di klub sebesar Manchester United.
“Kalau itu Pep
Guardiola, semua orang akan mendengarkan. Tapi Amorim bukan Pep atau Klopp,”
katanya.
Meski demikian, Rooney masih menunjukkan sedikit simpati,
mengingat keterbatasan skuad dan dominasi pemain muda di bangku cadangan. Ia
menilai kesenjangan antara ambisi, kewenangan, dan prestasi menjadi faktor
utama yang membuat pernyataan Amorim berujung fatal.
Pendapat senada disampaikan mantan bek Liverpool Jamie
Carragher, yang menilai Amorim belum memiliki legitimasi untuk mempertanyakan
kebijakan dewan direksi Manchester United di level Premier League.