PT Bank Saqu Indonesia mengingatkan nasabah agar lebih
waspada terhadap berbagai modus penipuan digital menjelang Lebaran 2026 ketika
aktivitas transaksi digital masyarakat biasanya meningkat.
Chief Digital & Retail Business Officer Bank Saqu Angela
Lew Dermawan dalam keterangan di Jakarta, Sabtu, mengatakan bahwa inisiatif
perusahaannya menghadirkan kampanye edukatif bertajuk "Awas Hantu
Cyber" merupakan bagian dari upaya untuk terus mendampingi nasabah agar
dapat bertransaksi secara aman di era digital.
Angela mengingatkan bahwa di dunia digital saat ini, ancaman
kejahatan siber sering datang tanpa disadari dan tidak selalu terlihat jelas,
tetapi dampaknya bisa sangat nyata bagi masyarakat.
“Menjelang Idul Fitri, ketika aktivitas transaksi digital
masyarakat biasanya meningkat, kami ingin mengingatkan nasabah untuk tetap
waspada terhadap berbagai modus penipuan. Melalui ‘Awas Hantu Cyber’, Bank Saqu
berharap masyarakat dapat lebih memahami cara melindungi diri dan menjaga
keamanan data pribadi saat bertransaksi,” katanya.
“Awas Hantu Cyber”, menurut dia, akan hadir dalam bentuk
serial konten edukasi yang disebarkan melalui berbagai kanal digital Bank Saqu,
termasuk media sosial dan platform digital lainnya.
Melalui konten tersebut, masyarakat akan diajak mengenali
berbagai karakter “hantu cyber” yang merepresentasikan modus penipuan yang
sering terjadi, sekaligus mempelajari langkah-langkah sederhana untuk
menghindarinya.
Ia mengatakan pendekatan storytelling yang ringan dan mudah
dipahami. Bank Saqu ingin membantu masyarakat mengenali berbagai modus penipuan
sekaligus memahami langkah-langkah sederhana untuk melindungi diri.
Selain itu, lanjutnya, Bank Saqu berharap, masyarakat dapat
semakin memahami pentingnya menjaga keamanan data pribadi serta meningkatkan
kewaspadaan terhadap berbagai modus penipuan digital, sehingga bersama-sama
menciptakan ekosistem keuangan digital yang lebih aman.
Kampanye itu, menurut dia, dilatarbelakangi dengan Data
Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) yang mencatat bahwa Indonesia mengalami
ratusan juta anomali trafik siber setiap tahunnya yang berpotensi mengarah pada
berbagai serangan digital.
Sementara itu, laporan Otoritas Jasa Keuangan (OJK)
menunjukkan bahwa kerugian masyarakat akibat penipuan digital, termasuk social
engineering dan penyalahgunaan OTP, diperkirakan mencapai lebih dari Rp2,5
triliun pada 2024.
Laporan industri juga mencatat bahwa sepanjang November 2024
hingga September 2025 terdapat lebih dari 274 ribu laporan penipuan finansial
di Indonesia, dengan estimasi kerugian publik mencapai lebih dari Rp6 triliun.
Selain menghadirkan edukasi kepada masyarakat, Bank Saqu
juga terus memperkuat sistem keamanan serta meningkatkan upaya perlindungan transaksi
digital guna memberikan pengalaman perbankan yang aman bagi nasabah.
Sebagai bank milik Astra Financial dan WeLab, ia mengatakan
perseroan menyatakan tidak hanya berfokus pada inovasi layanan keuangan, tetapi
juga aktif mendorong peningkatan literasi keuangan digital bagi masyarakat.
“Bank Saqu ingin menjadi lebih dari sekadar penyedia layanan
perbankan. Kami ingin hadir sebagai mitra finansial yang membantu nasabah
merasa lebih aman dan percaya diri dalam menjalani aktivitas finansial di dunia
digital,” kata Angela.