Duta Besar Iran untuk Indonesia Mohammad Boroujerdi kembali
menegaskan bahwa Teheran menolak tawaran mediasi sejumlah negara dalam
meredakan eskalasi konflik Timur Tengah karena Iran tidak akan berunding dengan
Amerika Serikat.
Pernyataan itu disampaikan Dubes Boroujerdi saat ditemui di
kediamannya di Jakarta, Kamis, merujuk pada pernyataan Kementerian Luar Negeri
Republik Indonesia yang menyatakan Indonesia siap untuk memfasilitasi dialog
agar kondisi keamanan dan kondusif dapat tercipta kembali dan kesediaan
Presiden Prabowo Subianto untuk menjadi mediator.
“Usulan dari pemerintah Indonesia, kami ingin menyampaikan
bahwa kami tidak ada negosiasi dalam bentuk apa pun dengan kaum musuh,
dikarenakan kami sudah tidak percaya dengan yang namanya negosiasi,” kata Dubes
Boroujerdi.
Diplomat itu menegaskan bahwa Iran telah melalukan negosiasi
dengan Amerika Serikat sebanyak tiga kali, dan selalu berujung Washington yang
melanggar perjanjian atau melancarkan serangan.
Dia merinci, negosiasi pertama terkait nuklir yang telah
mencapai Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA)—kesepakatan internasional
mengenai program nuklir Iran yang dicapai pada 2015 antara Iran dan
negara-negara besar dunia. AS kemudian menarik diri dari perjanjian
“Negosiasi kedua adalah lima putaran kami melakukan
negosiasi dengan mereka dan di tengah-tengah negosiasi mereka telah menyerang
negara kami,” ucapnya merujuk pada serangan Juni 2025 lalu.
Adapun negosiasi ketiga adalah yang ketika itu berlangsung
dengan Oman bertindak sebagai mediator.
Delegasi Iran dan AS sedang melakukan negosiasi tak langsung
putaran ketiga di Jenewa, Swiss, sebelum akhirnya operasi militer AS-Iran
dilancarkan.
Merujuk pada negosiasi yang berakhir di tengah jalan, Dubes
Boroujerdi menekankan bahwa untuk kali ini, Iran tidak akan membuka ruang
negosiasi dan akan memperjuangkan kemenangan Iran.
“Ini berkaitan dengan komitmen terhadap sebuah negosiasi dan
jaminan akan berlangsungnya sebuah negosiasi sampai pencapaian hasil. Untuk
kali ini kami tidak akan menerima bentuk negosiasi apapun dan kami akan
mengejar perang ini sampai kemenangan Iran,” ucapnya.
Selain Indonesia, Presiden Rusia, Vladimir Putin turut
menyampaikan kesiapan untuk menjadi mediator.
Menurut pernyataan Kremlin, Putin menawarkan untuk bertindak
sebagai perantara dengan menyampaikan keluhan UEA tentang serangan tersebut
kepada Iran.
Pemimpin Rusia itu menyampaikan penawaran tersebut saat
sedang melakukan panggilan telepon dengan Presiden UEA Mohammed bin Zayed Al Nahyan.