Firma periset pasar global Counterpoint memperingatkan
potensi kenaikan harga ponsel pintar pada 2026 seiring dengan meningkatnya
biaya komponen RAM memori.
Berdasarkan hasil analisis lembaga tersebut, biaya RAM untuk
ponsel telah meningkat sebesar 50 persen dari kuartal ke kuartal, sementara
biaya penyimpanan NAND telah meningkat lebih dari 90 persen dari kuartal ke
kuartal.
"Harga eceran yang lebih tinggi tidak dapat dihindari
pada 2026 karena kenaikan biaya akan diteruskan ke konsumen," kata Analis
Senior Counterpoint Shenghao Bai, seperti dikutip dari laporan yang disiarkan
di laman resmi mereka, Selasa (10/3).
Biaya memori yang meningkat cukup berdampak pada Bill of
Materials (BoM) atau biaya material untuk ponsel pintar.
Menurut analisis lembaga itu, kategori ponsel kelas bawah
(di bawah 200 dolar Amerika Serikat atau sekitar Rp3,3 jutaan) menjadi yang
paling terpukul.
Saat membuat ponsel khas kelas entry-level dengan RAM
LPDDR4X 6GB dan penyimpanan eMMC 128GB, produsen harus menghabiskan 43 persen
dari total BoM ponsel untuk memori. Persentase itu meningkat 25 persen dibandingkan
kuartal sebelumnya.
Untuk membuat ponsel kelas menengah (400-600 dolar
AS/Rp6,7-10 jutaan) yang memiliki ciri khas konfigurasi memori 8GB RAM LPDDR5X
dan penyimpanan UFS 4.0 256GB, para produsen akan menghabiskan 15 persen lebih
banyak untuk RAM dan 11 persen lebih banyak untuk penyimpanan.
Perkiraan di atas berlaku untuk ponsel yang dirakit pada
kuartal I 2026, sementara pada kuartal II, biaya RAM diperkirakan naik 20 persen
dan penyimpanan 16 persen.
Ponsel kelas atas (di atas 800 dolar AS/Rp13 jutaan) mungkin
memiliki margin yang lebih besar untuk membantu menyerap dampak kenaikan harga,
namun, kelas pasar itu juga menghadapi masalah tambahan yaitu harga chipset 2nm
flagship cukup mahal.
Counterpoint memperkirakan bahwa BoM akan naik sebesar
100-150 dolar AS (sekitar Rp1,5-2,6 jutaan) pada Q2 untuk ponsel dengan RAM
LPDDR5X HKMG 16GB dan penyimpanan UFS 4.1 512GB. Komponen RAM akan menyumbang
23 persen dari BoM dan penyimpanan akan menyumbang 18 persen.
Dengan semua perkiraan biaya material yang meningkat, maka
biaya untuk ponsel pintar yang beredar di pasaran juga mengalami peningkatan.
Counterpoint memperkirakan bahwa ponsel kelas bawah akan
menjadi lebih mahal sekitar 30 dolar AS (sekitar Rp500 ribuan). Ponsel premium
akan mengalami kenaikan harga sebesar 150-200 dolar AS (sekitar Rp1.5-2.6
jutaan).
"Pada 2026, produsen ponsel pintar akan berjuang untuk
menyeimbangkan biaya komponen, margin kotor, dan target pengiriman. Mereka yang
sangat bergantung pada model entry-level untuk mendorong pangsa pasar akan
menghadapi risiko kerugian jangka pendek yang signifikan," kata Bai.