-->

Notification

×

Iklan

Iklan

banner 728x90

Indeks Berita

Ketegangan di Timur Tengah belum menunjukkan tanda-tanda mereda setelah konflik terbuka antara Iran, Amerika Serikat (AS), dan Israel dimulai sejak 28 Februari

Jumat, 13 Maret 2026 | Maret 13, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-03-12T19:58:27Z

 Ketegangan di Timur Tengah belum menunjukkan tanda-tanda mereda setelah konflik terbuka antara Iran, Amerika Serikat (AS), dan Israel dimulai sejak 28 Februari lalu.

 


Serangkaian serangan balasan antara pihak-pihak yang terlibat meningkatkan kekhawatiran konflik dapat berlangsung lebih lama dari yang diperkirakan dan berpotensi memperluas ketegangan di kawasan.

Pakar hubungan internasional dari Universitas Padjadjaran (Unpad) Teuku Rezasyah menilai Iran sejak awal telah mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan perang jangka panjang. Hal tersebut terlihat dari strategi militer yang diterapkan Teheran serta sikap politik yang menunjukkan negara itu tidak terburu-buru membuka jalur perundingan.

"Iran sejak awal sudah memperkirakan situasi akan memburuk. Mereka menilai serangan dari Amerika Serikat dan Israel sebagai bentuk agresi sehingga Iran merasa memiliki hak untuk membalas," ujar Rezasyah kepada Beritasatu.com, Kamis (12/3/2026).

Menurutnya, Iran telah belajar dari berbagai konflik sebelumnya dan mengembangkan strategi militer yang dirancang untuk menghadapi kekuatan militer yang lebih besar. Salah satu pendekatan yang digunakan adalah memanfaatkan rudal balistik dan persenjataan lama untuk memancing penggunaan sistem pertahanan mahal milik lawan.

Strategi tersebut dinilai bertujuan menguras sumber daya militer Amerika Serikat sekaligus menunjukkan Iran masih memiliki kemampuan bertahan dalam konflik berkepanjangan. Selain itu, serangan Iran juga diarahkan pada sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.

"Iran mencoba memaksimalkan kerugian lawan dengan biaya yang relatif lebih rendah. Mereka memancing penggunaan sistem pertahanan mahal dari Amerika Serikat," kata Rezasyah.

Di sisi lain, dinamika perang ini juga memunculkan tekanan politik di dalam negeri Amerika Serikat. Kritik publik Amerika Serikat terhadap pemerintahan Presiden Donald Trump mulai meningkat seiring dengan kekhawatiran bahwa konflik tersebut dapat menyeret Amerika Serikat ke perang yang lebih luas.

Rezasyah menilai tekanan domestik tersebut dapat memengaruhi strategi Washington dalam menghadapi konflik. Meski demikian, pemerintah Amerika Serikat tetap berusaha menunjukkan bahwa operasi militer yang dilakukan masih berada dalam kendali."Trump tentu tidak ingin terlihat kalah. Karena itu narasi yang muncul dari Washington tetap menekankan bahwa Amerika Serikat masih memegang kendali situasi," ujarnya.

Kemunculan Mojtaba Khamenei

Di tengah situasi perang tersebut, Iran juga menghadapi dinamika politik internal setelah tewasnya Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dalam serangan udara pada awal konflik. Posisi tersebut kemudian diisi oleh putranya, Mojtaba Khamenei, yang ditunjuk melalui keputusan Majelis Ahli Iran.

Rezasyah menilai perubahan kepemimpinan ini justru berpotensi memperkuat sikap keras Iran dalam menghadapi konflik dengan Amerika Serikat. Menurutnya, sistem kepemimpinan Iran memiliki dimensi religius yang membuat posisi pemimpin tertinggi memiliki kedekatan ideologis dengan masyarakat.

"Iran memiliki sistem marja taklid dengan pemimpin agama yang sangat dihormati oleh masyarakat yang setia kepada negara," ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa pemimpin tertinggi di Iran harus memenuhi sejumlah kriteria moral dan religius, antara lain memiliki kecerdasan, kejujuran dalam berbicara, rekam jejak yang jelas, serta kemampuan menjalankan amanah yang dipercayakan kepadanya.

Karena itu, menurut Rezasyah, kemunculan Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin baru tidak serta-merta melemahkan posisi politik Iran. Justru kepemimpinan baru tersebut dapat memperkuat mobilisasi politik dan militer negara tersebut di tengah perang.

"Mojtaba dinilai mampu membangun komunikasi dengan masyarakat serta memiliki pengaruh dalam struktur militer Iran, termasuk terhadap kekuatan darat, laut, dan udara," katanya.

Dalam konteks konflik yang sedang berlangsung, kepemimpinan baru Iran tersebut dinilai dapat membuat perang berlangsung lebih lama jika Teheran masih merasa berada dalam posisi diserang oleh Amerika Serikat.

"Selama Iran merasa diserang oleh Amerika Serikat, kepemimpinan baru ini kemungkinan akan tetap melanjutkan perang karena Iran merasa harus mempertahankan kedaulatannya," ujar Rezasyah.

Ia menilai peluang meredakan konflik tetap ada apabila Amerika Serikat secara bertahap menghentikan serangan militer dan membuka kembali jalur komunikasi dengan Iran. Namun hingga saat ini tingkat kepercayaan Teheran terhadap Washington dinilai sangat rendah.

"Iran tidak percaya pada janji Amerika Serikat. Mereka merasa diserang lebih dahulu sehingga perang dianggap sebagai bentuk pembelaan diri," katanya.

Rezasyah menilai perang baru berpotensi mereda apabila Amerika Serikat mengubah pendekatan politiknya terhadap Iran. Beberapa perubahan yang dapat mendorong penurunan ketegangan antara lain penghentian serangan militer, pengurangan tekanan politik terhadap pemerintahan Iran, serta perubahan kebijakan Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.

Namun, hingga saat ini belum terlihat sinyal kuat bahwa Washington akan mengambil langkah tersebut. Situasi ini membuat prospek perdamaian dalam waktu dekat masih sulit terwujud.

"Selama kedua pihak masih mempertahankan posisi masing-masing, konflik ini kemungkinan akan terus berlanjut," ujarnya.

 

Selain dinamika militer dan politik, konflik ini juga berpotensi memicu tekanan hukum internasional terhadap Amerika Serikat jika korban sipil terus bertambah. Hal ini menyusul laporan tewasnya lebih dari 170 orang dalam serangan terhadap sebuah sekolah di Iran yang saat ini masih dalam proses investigasi dan menuai kecaman internasional.

 

Rezasyah menilai Iran dapat memanfaatkan isu tersebut untuk meningkatkan tekanan politik terhadap Amerika Serikat melalui jalur hukum internasional.

 

"Iran bisa saja membuat tuntutan bersifat rahasia di Mahkamah Pidana Internasional atau ICC dengan mencatat berbagai dugaan kejahatan perang, termasuk serangan terhadap fasilitas sipil seperti sekolah," ujarnya.

Ia menjelaskan proses tersebut tetap memerlukan persetujuan majelis praperadilan ICC sebelum kasus dapat dibawa ke tahap persidangan. Meski prosesnya tidak mudah, langkah tersebut dinilai dapat meningkatkan tekanan internasional terhadap Amerika Serikat.

"Jika bukti-bukti itu diterima dan proses hukum berjalan, tekanan global terhadap Amerika Serikat bisa meningkat. Hal itu bisa mempengaruhi dinamika konflik," kata Rezasyah.

Dengan berbagai dinamika tersebut, konflik antara Iran dan Amerika Serikat diperkirakan masih akan menjadi salah satu sumber ketegangan utama di Timur Tengah dalam waktu ke depan.

×
Berita Terbaru Update