Ketegangan di Timur Tengah belum menunjukkan tanda-tanda mereda setelah konflik terbuka antara Iran, Amerika Serikat (AS), dan Israel dimulai sejak 28 Februari lalu.
Serangkaian serangan balasan antara pihak-pihak yang terlibat meningkatkan kekhawatiran konflik dapat berlangsung lebih lama dari yang diperkirakan dan berpotensi memperluas ketegangan di kawasan.
Pakar hubungan internasional dari Universitas Padjadjaran
(Unpad) Teuku Rezasyah menilai Iran sejak awal telah mempersiapkan diri
menghadapi kemungkinan perang jangka panjang. Hal tersebut terlihat dari
strategi militer yang diterapkan Teheran serta sikap politik yang menunjukkan
negara itu tidak terburu-buru membuka jalur perundingan.
"Iran sejak awal sudah memperkirakan situasi akan
memburuk. Mereka menilai serangan dari Amerika Serikat dan Israel sebagai
bentuk agresi sehingga Iran merasa memiliki hak untuk membalas," ujar
Rezasyah kepada Beritasatu.com, Kamis (12/3/2026).
Menurutnya, Iran telah belajar dari berbagai konflik
sebelumnya dan mengembangkan strategi militer yang dirancang untuk menghadapi
kekuatan militer yang lebih besar. Salah satu pendekatan yang digunakan adalah
memanfaatkan rudal balistik dan persenjataan lama untuk memancing penggunaan
sistem pertahanan mahal milik lawan.
Strategi tersebut dinilai bertujuan menguras sumber daya
militer Amerika Serikat sekaligus menunjukkan Iran masih memiliki kemampuan
bertahan dalam konflik berkepanjangan. Selain itu, serangan Iran juga diarahkan
pada sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
"Iran mencoba memaksimalkan kerugian lawan dengan biaya
yang relatif lebih rendah. Mereka memancing penggunaan sistem pertahanan mahal
dari Amerika Serikat," kata Rezasyah.
Di sisi lain, dinamika perang ini juga memunculkan tekanan
politik di dalam negeri Amerika Serikat. Kritik publik Amerika Serikat terhadap
pemerintahan Presiden Donald Trump mulai meningkat seiring dengan kekhawatiran
bahwa konflik tersebut dapat menyeret Amerika Serikat ke perang yang lebih
luas.
Rezasyah menilai tekanan domestik tersebut dapat memengaruhi
strategi Washington dalam menghadapi konflik. Meski demikian, pemerintah
Amerika Serikat tetap berusaha menunjukkan bahwa operasi militer yang dilakukan
masih berada dalam kendali."Trump tentu tidak ingin terlihat kalah. Karena
itu narasi yang muncul dari Washington tetap menekankan bahwa Amerika Serikat
masih memegang kendali situasi," ujarnya.
Kemunculan Mojtaba Khamenei
Di tengah situasi perang tersebut, Iran juga menghadapi
dinamika politik internal setelah tewasnya Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali
Khamenei dalam serangan udara pada awal konflik. Posisi tersebut kemudian diisi
oleh putranya, Mojtaba Khamenei, yang ditunjuk melalui keputusan Majelis Ahli
Iran.
Rezasyah menilai perubahan kepemimpinan ini justru
berpotensi memperkuat sikap keras Iran dalam menghadapi konflik dengan Amerika
Serikat. Menurutnya, sistem kepemimpinan Iran memiliki dimensi religius yang
membuat posisi pemimpin tertinggi memiliki kedekatan ideologis dengan
masyarakat.
"Iran memiliki sistem marja taklid dengan pemimpin
agama yang sangat dihormati oleh masyarakat yang setia kepada negara,"
ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa pemimpin tertinggi di Iran harus
memenuhi sejumlah kriteria moral dan religius, antara lain memiliki kecerdasan,
kejujuran dalam berbicara, rekam jejak yang jelas, serta kemampuan menjalankan
amanah yang dipercayakan kepadanya.
Karena itu, menurut Rezasyah, kemunculan Mojtaba Khamenei
sebagai pemimpin baru tidak serta-merta melemahkan posisi politik Iran. Justru
kepemimpinan baru tersebut dapat memperkuat mobilisasi politik dan militer negara
tersebut di tengah perang.
"Mojtaba dinilai mampu membangun komunikasi dengan
masyarakat serta memiliki pengaruh dalam struktur militer Iran, termasuk
terhadap kekuatan darat, laut, dan udara," katanya.
Dalam konteks konflik yang sedang berlangsung, kepemimpinan
baru Iran tersebut dinilai dapat membuat perang berlangsung lebih lama jika
Teheran masih merasa berada dalam posisi diserang oleh Amerika Serikat.
"Selama Iran merasa diserang oleh Amerika Serikat,
kepemimpinan baru ini kemungkinan akan tetap melanjutkan perang karena Iran
merasa harus mempertahankan kedaulatannya," ujar Rezasyah.
Ia menilai peluang meredakan konflik tetap ada apabila
Amerika Serikat secara bertahap menghentikan serangan militer dan membuka
kembali jalur komunikasi dengan Iran. Namun hingga saat ini tingkat kepercayaan
Teheran terhadap Washington dinilai sangat rendah.
"Iran tidak percaya pada janji Amerika Serikat. Mereka
merasa diserang lebih dahulu sehingga perang dianggap sebagai bentuk pembelaan
diri," katanya.
Rezasyah menilai perang baru berpotensi mereda apabila
Amerika Serikat mengubah pendekatan politiknya terhadap Iran. Beberapa
perubahan yang dapat mendorong penurunan ketegangan antara lain penghentian
serangan militer, pengurangan tekanan politik terhadap pemerintahan Iran, serta
perubahan kebijakan Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
Namun, hingga saat ini belum terlihat sinyal kuat bahwa
Washington akan mengambil langkah tersebut. Situasi ini membuat prospek
perdamaian dalam waktu dekat masih sulit terwujud.
"Selama kedua pihak masih mempertahankan posisi
masing-masing, konflik ini kemungkinan akan terus berlanjut," ujarnya.
Selain dinamika militer dan politik, konflik ini juga
berpotensi memicu tekanan hukum internasional terhadap Amerika Serikat jika
korban sipil terus bertambah. Hal ini menyusul laporan tewasnya lebih dari 170
orang dalam serangan terhadap sebuah sekolah di Iran yang saat ini masih dalam
proses investigasi dan menuai kecaman internasional.
Rezasyah menilai Iran dapat memanfaatkan isu tersebut untuk
meningkatkan tekanan politik terhadap Amerika Serikat melalui jalur hukum
internasional.
"Iran bisa saja membuat tuntutan bersifat rahasia di
Mahkamah Pidana Internasional atau ICC dengan mencatat berbagai dugaan
kejahatan perang, termasuk serangan terhadap fasilitas sipil seperti
sekolah," ujarnya.
Ia menjelaskan proses tersebut tetap memerlukan persetujuan
majelis praperadilan ICC sebelum kasus dapat dibawa ke tahap persidangan. Meski
prosesnya tidak mudah, langkah tersebut dinilai dapat meningkatkan tekanan
internasional terhadap Amerika Serikat.
"Jika bukti-bukti itu diterima dan proses hukum
berjalan, tekanan global terhadap Amerika Serikat bisa meningkat. Hal itu bisa
mempengaruhi dinamika konflik," kata Rezasyah.
Dengan berbagai dinamika tersebut, konflik antara Iran dan
Amerika Serikat diperkirakan masih akan menjadi salah satu sumber ketegangan
utama di Timur Tengah dalam waktu ke depan.