Sebagian berburu takjil, sebagian lain memilih cara berbeda menunggu azan magrib dengan mengaspal di lintasan kelas dunia yang berada di jantung Pertamina Mandalika International Circuit.
Ngabuburide, istilah yang memadukan ngabuburit dan berkendara, menjadi fenomena khas Ramadhan di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB).
Sirkuit sepanjang 4,3 kilometer dengan 17 tikungan itu tak hanya menjadi panggung balap tahunan MotoGP, tetapi juga ruang publik yang lebih inklusif.
Masyarakat kini bisa merasakan sensasi berada di lintasan yang sama dengan para pembalap dunia, meski dengan kecepatan yang tentu berbeda.
Di tengah geliat sore itu, deru motor bercampur hembusan angin laut. Bukit-bukit hijau dan pasir putih di sekeliling sirkuit membentuk lanskap yang jarang dimiliki arena balap lain di dunia. Inilah yang membuat Mandalika berbeda, yakni sport tourism yang berpadu harmonis dengan keindahan alam sekitarnya.
Direktur Utama Mandalika Grand Prix Association (MGPA) Priandhi Satria menegaskan, sirkuit ini tidak semata untuk ajang balap.
“Promo Ramadhan ini kami hadirkan agar masyarakat dapat merasakan pengalaman di Sirkuit Mandalika dengan lebih terjangkau selama Ramadhan, tanpa mengurangi kualitas layanan. Kami berharap aktivitas ini dapat menjadi pilihan kegiatan positif selama bulan suci,” ujarnya.
Pernyataan itu mencerminkan satu hal, yakni transformasi fungsi sirkuit dari arena eksklusif menjadi ruang interaksi sosial dan ekonomi. Ramadhan menjadi momentum untuk membumikan sirkuit sebagai milik bersama.
Selama periode Ramadhan, MGPA menghadirkan sejumlah program dengan tarif khusus. Aktivitas Lampaq di Sirkuit, misalnya, ditawarkan Rp50.000 per orang dari harga normal Rp75.000.
Kegiatan ini berlangsung setiap akhir pekan pada pukul 06.00–09.00 WITA dan 17.00–18.00 WITA. Pada hari kerja, aktivitas serupa bisa dibuka dengan minimal 20 peserta dan sistem pemesanan.
Ada pula Taxi Ride dan CBR 250 Experience yang dibuka setiap hari pada pukul 09.00–16.00 WITA, selama tidak ada agenda balap atau track day.
Taxi Ride dipatok Rp400.000 untuk dua lap, sementara CBR 250 Experience Rp400.000 untuk tiga lap. Bagi komunitas atau rombongan, tersedia Track Experience dengan potongan harga 15 persen selama Ramadhan.
Angka-angka itu penting, tetapi yang lebih penting adalah maknanya. Kebijakan harga promo memperluas akses masyarakat terhadap fasilitas yang sebelumnya terkesan mahal dan terbatas.
Kegiatan ini memiliki dimensi mendidik publik tentang sport tourism, memberdayakan komunitas otomotif, mencerahkan lewat pengalaman positif, dan menanamkan kebanggaan nasional terhadap infrastruktur kelas dunia di tanah air.
Sirkuit Mandalika memang menjadi simbol baru Indonesia di mata dunia. Setiap penyelenggaraan MotoGP menghadirkan sorotan global. Namun, ajang itu hanya berlangsung setahun sekali. Tantangannya adalah bagaimana menjaga denyut ekonomi dan kunjungan wisata di luar kalender balap.
Program ngabuburide menjawab sebagian tantangan itu. Ia menciptakan ritme kunjungan yang lebih rutin, terutama di bulan Ramadhan. Arus kendaraan roda dua dan roda empat meningkat pada sore hari dibanding sebelum Ramadhan. Warga yang awalnya hanya mencari takjil, kini memiliki alternatif ruang publik yang unik.
Efek berantainya terasa hingga ke pelaku usaha. Restoran, kafe, hotel, dan bazar UMKM di sekitar kawasan ikut merasakan lonjakan kunjungan. Wisatawan yang datang untuk mengaspal biasanya melanjutkan dengan berbuka puasa di sekitar sirkuit. Di sinilah sport tourism berkelindan dengan ekonomi kerakyatan.
Riyan, seorang pengunjung, mengaku pengalaman itu berbeda dari ngabuburit biasa. “Warga atau wisatawan harus memaksimalkan pengalaman tersebut untuk berkunjung ke Mandalika Circuit agar bisa menikmati fasilitas seperti lampaq, berkendara di sana, bisa drive dengan mobil ataupun motor,” katanya.
Pernyataan sederhana itu menyimpan pesan penting, yakni sirkuit tidak lagi terasa jauh dari masyarakat. Ia menjadi ruang kebersamaan, tempat komunitas bertemu, keluarga berjalan santai, dan anak muda merasakan atmosfer balap secara aman.
Pengembangan KEK Mandalika sejak awal dirancang untuk mendorong pertumbuhan ekonomi di Lombok Tengah dan Nusa Tenggara Barat secara luas. Infrastruktur megah tanpa keterlibatan masyarakat lokal akan kehilangan makna. Karena itu, keberlanjutan program seperti ngabuburide perlu dipandang sebagai bagian dari strategi besar penguatan ekosistem.
Secara nasional, tren sport tourism terus meningkat. Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif mencatat sektor ini menjadi salah satu motor pemulihan pascapandemi. Mandalika berada di posisi strategis karena memiliki kombinasi lintasan balap, pantai, dan budaya lokal.
Namun, keberlanjutan tetap menjadi kunci. Program musiman seperti Ramadhan harus diikuti inovasi lain sepanjang tahun. Komunitas sepeda, lari, hingga otomotif bisa diajak memanfaatkan sirkuit sebagai ruang aktivitas terjadwal. Edukasi keselamatan berkendara, pelatihan mekanik muda, atau festival UMKM otomotif dapat menjadi agenda pendamping.
Dari sisi tata kelola, transparansi harga, keamanan lintasan, dan koordinasi dengan pelaku usaha sekitar harus terus diperkuat. Sirkuit kelas dunia menuntut standar pelayanan kelas dunia pula. Kepercayaan publik dibangun dari konsistensi.
Lebih jauh, ngabuburide menunjukkan bagaimana ruang publik modern bisa diintegrasikan dengan nilai religius. Ramadhan bukan hanya bulan ibadah, tetapi juga momentum memperkuat solidaritas sosial dan ekonomi. Aktivitas positif menjelang berbuka dapat mengurangi potensi kegiatan kurang produktif sekaligus membangun kebiasaan sehat.
Di ujung hari, ketika azan magrib berkumandang dan kendaraan mulai meninggalkan lintasan, sirkuit kembali hening. Namun jejak roda di aspal menyimpan cerita tentang kebanggaan dan peluang.
Mandalika membuktikan bahwa infrastruktur olahraga tidak harus eksklusif. Ia bisa menjadi rumah bagi komunitas, ruang ekonomi bagi UMKM, sekaligus simbol nasionalisme yang membumi.
Pertanyaannya kemudian, mampukah semangat ini dijaga di luar Ramadhan. Jika jawabannya ya, maka Mandalika bukan sekadar tuan rumah balap dunia, melainkan contoh bagaimana sport tourism dikelola untuk kesejahteraan bersama.
Dan setiap senja di lintasan itu akan selalu mengingatkan bahwa kebanggaan nasional lahir dari ruang yang terbuka bagi rakyatnya.