Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan pemerintah masih memiliki kemampuan untuk menahan harga bahan bakar minyak (BBM) hingga akhir tahun di tengah tekanan harga energi global dampak konflik di Timur Tengah.
"Sampai sekarang belum ada hitungan untuk menaikkan
harga BBM karena kita punya uang masih cukup untuk level harga BBM yang
sekarang," kata Purbaya usai mengunjungi Pasar Beringharjo, Kota
Yogyakarta, Selasa.
Purbaya menyebut pemerintah mengandalkan Anggaran Pendapatan
dan Belanja Negara (APBN) sebagai peredam guncangan ("shock
absorber") untuk menjaga daya beli masyarakat.
"Fungsi anggaran meng-'absorb shock' dari luar. Sampai
sekarang yang 'absorb' adalah APBN pemerintah," ujarnya.
Ia menambahkan kemampuan fiskal tersebut memungkinkan
pemerintah menahan harga BBM hingga akhir tahun, bergantung pada kebijakan Presiden.
"Kalau segini saja mah, kalau presiden mau sih sampai
akhir tahun juga bisa. Jadi saya punya uang cukup banyak. Yang masih bisa
dipakai, yang pengamat, pengamat itu, nggak tahu uangnya di mana,"
ujarnya.
Sebelumnya, PT Pertamina (Persero) menyebut harga minyak
dunia melonjak hingga melampaui 100 dolar AS per barel akibat eskalasi konflik
di Timur Tengah.
Kenaikan tersebut dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik
yang berdampak pada pasokan dan distribusi energi global, sehingga mendorong
tekanan terhadap harga minyak di pasar internasional.
"Pertamina terus memonitor dinamika harga minyak dunia
yang saat ini berada di kisaran 100 dolar AS per barel," ujar Vice
President Corporate Communication Pertamina Muhammad Baron.
Selain itu, Pertamina menjalin komunikasi dengan pemerintah
terkait kebijakan energi nasional dalam merespons lonjakan harga minyak dunia.