Otoritas Nepal pada Sabtu (28/3) menangkap mantan Perdana
Menteri (PM) K. P. Sharma Oli dan mantan Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Ramesh
Lekhak atas dugaan kelalaian pidana terkait kematian demonstran muda pada
September 2025.
"Janji tetaplah janji. Tak ada yang kebal hukum,"
tulis Menteri Dalam Negeri Sudan Gurung di Facebook. "Mantan perdana
menteri dan mantan menteri dalam negeri telah ditangkap."
Gurung, yang terlibat dalam aksi protes massal tersebut,
mengatakan penangkapan itu bukan bentuk balas dendam.
"Ini baru awal dari keadilan. Saya berharap negara ini
akan bergerak ke arah baru," ujarnya.
Oli merupakan ketua Partai Komunis Unified Marxist Leninist
(UML), sementara Lekhak adalah pemimpin senior Nepali Congress.
Puluhan polisi dikerahkan ke kediaman Oli di Bhaktapur
setelah rapat kabinet pada Jumat memutuskan untuk menindaklanjuti laporan
Komisi Yudisial terkait protes Gen Z tahun lalu.
Komisi yang dipimpin Gauri Bahadur Karki merekomendasikan
penyelidikan terhadap Oli, Lekhak, dan Kepala Kepolisian Chandra Kuber Khapung
atas dugaan kelalaian pidana dan kematian demonstran.
Sejumlah pendukung UML bentrok dengan polisi di luar
kediaman Oli, tetapi aparat berhasil membubarkan massa di gerbang utama lalu
menangkap mantan PM yang digulingkan itu.
Rapat kabinet juga memutuskan melaksanakan rekomendasi itu
dan membentuk komite kajian atas pejabat keamanan yang diduga terlibat
penembakan, setelah penunjukan Balendra Shah sebagai PM.
Para pemimpin UML dan Nepali Congress menilai laporan tersebut
tidak lengkap dan bias.
UML menggelar rapat darurat untuk membahas situasi tersebut
dan diperkirakan akan mengumumkan aksi protes.
"Ini adalah bentuk prasangka dan balas dendam terhadap
kami," kata Sekretaris UML Mahesh Basnet, seraya mendesak kader partai
untuk turun ke jalan.
Sedikitnya 25 demonstran, sebagian besar anak muda, tewas
dan 700 lainnya terluka pada September lalu saat protes meluas setelah
pelarangan sejumlah media sosial.