Presiden Prabowo Subianto mengungkap harapannya skenario
terburuk yang dibayangkan berbagai pihak di Timur Tengah tidak terjadi,
terutama setelah perang antara Iran melawan Amerika Serikat dan zionis Israel
telah berlangsung selama kurang lebih dua pekan.
Di hadapan para menteri dan pejabat negara pada Sidang
Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jakarta, Jumat, Presiden menekankan
pemerintah telah mengambil sejumlah langkah untuk mengantisipasi dampak perang
di kawasan Asia Barat, sekaligus mengkaji beberapa opsi penghematan.
"Kita berharap skenario yang terburuk tidak terjadi di
Timur Tengah, tetapi ramalan-ramalan juga banyak mengatakan ini bisa jadi
perang yang sangat panjang, perang yang sangat panjang," kata Prabowo.
Walaupun demikian, Presiden menyatakan Indonesia sejauh ini
dalam kondisi yang relatif aman.
Namun, Presiden mengingatkan jajarannya untuk tetap waspada
dan tidak lengah. "Walaupun merasa aman, tidak panik, kita tidak boleh
tidak mempersiapkan diri untuk kemungkinan paling jelek," ujar Presiden.
Dalam Sidang Kabinet Paripurna hari ini, dampak perang
antara Iran versus zionis Israel dan Amerika Serikat turut menjadi sorotan.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dan Ketua Dewan
Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan yang melaporkan langsung catatan
masing-masing terkait isu tersebut dan dampaknya terhadap Indonesia.
Airlangga, saat memaparkan laporannya kepada Presiden,
membuka kemungkinan defisit APBN dapat melampaui angka 3 persen manakala
skenarionya perang berlangsung berlarut hingga lima bulan, enam bulan, dan 10
bulan.
Dalam skenario yang dibuat pemerintah, harga minyak mentah
dunia diprediksi mencapai 90 dolar AS per barel jika perang berlangsung hingga
lima bulan, kemudian 97 dolar AS per barel jika perang berlarut hingga enam
bulan, dan 115 dolar AS per barel jika perang berlangsung selama 10 bulan.
"Kalau kita masukkan terhadap APBN kita Pak, yang
sekarang, ini skenario pertama, ICP-nya di 86 (dolar AS per barel), kursnya di
Rp17.000, Pak. APBN kita kursnya Rp16.500, kemudian dengan growth kita
pertahankan Pak. Jadi, ini yang kita pertahankan growth di 5,3 (persen). (Imbal
hasil, red.) Surat Berharga Negara (SBN) angkanya lebih tinggi Pak, 6,8 persen
maka defisitnya adalah 3,18 persen," kata Airlangga.
Kemudian, Airlangga melanjutkan dalam skenario moderat, yang
artinya harga minyak 97 dolar AS per barel, kurs rupiah terhadap dolar AS
Rp17.300, asumsi pertumbuhan ekonomi 5,2 persen, dan imbal hasil SBN 7,2
persen, maka defisit APBN diprediksi mencapai 3,53 persen.
"Nah, kemudian kalau skenario terburuk, yang pesimis
itu, dengan harga (minyak mentah) 115 (dolar AS per barel), kurs rupiah kita
Rp17.500, growth-nya 5,2, surat berharganya 7,2, defisitnya 4,06 persen,"
ujar Airlangga.
"Jadi, artinya dengan berbagai skenario ini, defisit
yang 3 persen itu sulit kita pertahankan, kecuali kita mau memotong belanja dan
memotong pertumbuhan, Pak Presiden," sambung Airlangga saat memaparkan
laporannya kepada Presiden Prabowo