Bank Indonesia meningkatkan intensitas intervensi di pasar
keuangan guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, menyusul gejolak ekonomi
eksternal yang semakin tereskalasi akibat ketegangan geopolitik global.
Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter (DKEM) BI
Juli Budi Winantya dalam pertemuan media di Bandung, Jumat, mengatakan BI
memperkuat intervensi, baik melalui pasar spot, domestic non-deliverable
forward (DNDF), termasuk transaksi di pasar offshore.
Selain itu, BI juga mengoptimalkan bauran kebijakan moneter,
termasuk penguatan instrumen pasar uang guna menjaga stabilitas nilai tukar
sekaligus mendukung ketahanan eksternal ekonomi.
"Intensitas BI dalam intervensi semakin kuat, didukung
tidak hanya di spot, tapi di forward, baik dalam negeri maupun luar negeri DNDF
dan kebijakan terkait transaksi valas akan kita lakukan sebagai bentuk komitmen
BI menjaga stabilitas," kata dia.
Bank Sentral memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia
pada 2026 berada di rentang 4,9-5,7 persen dan menetapkan sasaran inflasi 2,5
persen dengan deviasi 1 persen.
Saat ini, kata Juli, tekanan eksternal belum mereda. Tekanan
itu berasal dari konflik geopolitik di Timur Tengah yang mendorong kenaikan
harga energi dan komoditas akibat disrupsi produksi dan distribusi di kawasan
ladang migas sekaligus jalur pelayaran global itu.
Disrupsi itu membuat harga pangan dan komoditas global
meningkat yang mengerek tekanan inflasi. Karena itu, BI merevisi ke bawah
proyeksi pertumbuhan ekonomi global menjadi 3 persen dari 3,1 persen, sedangkan
inflasi menjadi 4,2 persen dari 4,1 persen.
Karena proyeksi pertumbuhan ekonomi global yang lebih
rendah, sedangkan inflasi meningkat, BI melihat ruang pelonggaran kebijakan
moneter global kian terbatas.
Arah kebijakan bank sentral dunia, termasuk The Federal
Reserve juga diperkirakan menahan suku bunga lebih lama akibat ketegangan
geopolitik global.
Kondisi tersebut mendorong kenaikan imbal hasil obligasi
pemerintah Amerika Serikat (US Treasury) dan memperkuat dolar AS, sehingga
meningkatkan tekanan terhadap arus modal di negara berkembang, termasuk
Indonesia.
“Daya tarik aset keuangan AS meningkat, sehingga terjadi
pergeseran aliran modal global,” katanya.
Juli melihat neraca perdagangan Indonesia masih mencatat
surplus, terutama ditopang oleh kinerja ekspor nonmigas. Adapun cadangan devisa
pada Maret 2026, tercatat tinggi sebesar 148,2 miliar dolar AS, yang cukup
untuk mendukung stabilitas eksternal.
BI berjanji akan terus mencermati perkembangan global dan
memperkuat respons kebijakan guna menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem
keuangan nasional.
Nilai tukar rupiah pada perdagangan hari ini atau Jumat
(24/4) ditutup pada level Rp17.229 per dolar AS, menguat 57 poin atau 0,33
persen dari penutupan sebelumnya di level Rp17.286 per dolar AS. Pada Kamis
(23/4), nilai tukar rupiah melemah menembus level Rp17.304 per dolar AS.