Radio Siaran sejak awal dikenal sebagai media massa—menjangkau banyak orang dalam waktu bersamaan, tanpa batas geografis yang kaku. Namun, ketika kita mendengarkan seorang penyiar berbicara di udara, sering kali terasa seperti dia sedang berbicara langsung kepada kita secara pribadi. Di sinilah muncul pertanyaan penting: apakah penyiar radio seharusnya menggunakan komunikasi massa atau komunikasi personal?
Radio sebagai Media Massa
Secara teori, radio adalah bagian dari komunikasi massa.
Artinya, pesan yang disampaikan ditujukan kepada khalayak luas, heterogen, dan
anonim. Karakteristik komunikasi massa meliputi:
• Pesan bersifat umum dan tidak spesifik ke individu
• Disampaikan melalui saluran teknologi (frekuensi siaran,
streaming)
• Audiens tidak terlihat langsung oleh komunikator
Umpan balik (feedback) cenderung tertunda. Dalam konteks
ini, penyiar radio sebenarnya sedang berbicara kepada ribuan, bahkan jutaan
pendengar sekaligus.Tapi Mengapa Terasa Personal? Menariknya, kekuatan radio
justru terletak pada kemampuannya menciptakan ilusi komunikasi personal.
Penyiar yang baik tidak terdengar seperti “berpidato kepada massa”, melainkan
seperti “mengobrol dengan satu orang”.
Hal ini terjadi karena, Penggunaan bahasa sehari-hari (tidak
kaku, tidak formal berlebihan)
Gaya penyampaian yang hangat dan akrab, sapaan langsung
seperti “kamu”, “teman”, atau “sobat” Intonasi suara yang ekspresif dan
natural. Pendengar akhirnya merasa punya hubungan dekat dengan penyiar,
meskipun tidak pernah bertemu.
Jadi, Harus Pilih yang Mana?
Jawaban yang lebih tepat: bukan memilih salah satu, tetapi
menggabungkan keduanya secara strategis. Secara konsep tetap komunikasi massa.
Karena radio memang menjangkau audiens luas, penyiar harus sadar bahwa
kontennya dikonsumsi oleh berbagai latar belakang pendengar. Maka Hindari
bahasa yang terlalu eksklusif atau hanya dipahami kelompok tertentu. Jaga etika
dan norma penyiaran, pastikan pesan tetap jelas dan mudah dipahami banyak
orang.
Secara gaya, gunakan pendekatan komunikasi personal. Dalam
penyampaian, penyiar sebaiknya menggunakan gaya yang terasa dekat dan
individual. Bayangkan berbicara kepada satu orang, bukan kerumunan. Gunakan
storytelling agar lebih hidup libatkan emosi dan empati dalam penyampaian.
Kunci Sukses: “Mass Communication with Personal Touch”.
Inilah formula ideal dalam dunia penyiaran radio: komunikasi massa yang dikemas
dengan sentuhan personal. Pendekatan ini memberikan dua keuntungan
sekaligus.Jangkauan luas tetap tercapai (fungsi media massa). Kedekatan
emosional tetap terbangun (fungsi komunikasi personal).
Tantangan di Era Multi-Platform. Di era sekarang, penyiar
radio tidak hanya berbicara di udara, tetapi juga hadir di media sosial, live
streaming, hingga podcast. Interaksi dengan audiens menjadi lebih langsung dan
real-time. Ini membuat batas antara komunikasi massa dan personal semakin
tipis. Penyiar dituntut untuk. Responsif terhadap komentar dan pesan pendengar.
Konsisten antara persona on-air dan off-air (di platform digital). Lebih
autentik dan tidak dibuat-buat.
Penyiar radio tidak perlu memilih antara komunikasi massa
atau komunikasi personal. Secara fungsi, radio tetaplah media massa. Namun,
kekuatan utamanya justru terletak pada cara menyampaikan pesan secara personal.
Dengan kata lain, penyiar yang efektif adalah mereka yang
mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi terasa seperti berbicara hanya
kepada satu orang saja.
Editor : S. Fatra 29042026
Foto : gambar ilustrasi dari AI.
