Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) kembali
meningkat setelah militer Iran mengancam akan membombardir wilayahnya sendiri
apabila pasukan AS melancarkan invasi darat. Pernyataan itu muncul di tengah
pembahasan Washington mengenai berbagai opsi operasi militer terhadap Teheran
yang memicu kekhawatiran akan meluasnya konflik di kawasan Teluk Persia.
Juru Bicara Militer Iran, Brigadir Jenderal Mohammad
Akrami-Nia menegaskan negaranya tidak akan membiarkan wilayah Iran diduduki
pasukan asing.
"Jika Amerika menduduki wilayah kami, kami bahkan akan
membom wilayah kami sendiri. Inilah logika perang," kata Akrami-Nia dalam
siaran televisi pemerintah Iran, Selasa (21/7/2026).
Pernyataan tersebut disampaikan ketika Komando Pusat AS
memasuki hari ke-10 serangan terhadap sasaran di Iran. Sementara itu, Presiden
Donald Trump disebut akan menentukan langkah lanjutan dalam beberapa hari ke
depan, termasuk kemungkinan operasi darat yang kini mulai dibahas secara
terbuka.
Laporan The Washington Post menyebut Pentagon sedang
menyiapkan sejumlah opsi operasi darat di Iran yang tidak mengarah pada invasi
penuh, tetapi berpotensi melibatkan ribuan personel militer selama berminggu-minggu
hingga berbulan-bulan.
Gedung Putih menyatakan Pentagon hanya diminta menyiapkan
berbagai alternatif dan belum ada keputusan akhir dari Presiden Trump.
Pada sisi lain, mantan menteri luar negeri Iran yang kini
menjadi anggota parlemen, Manouchehr Mottaki, mendorong pemerintah mengambil
langkah lebih agresif terhadap AS.
"Ancaman AS semakin intensif, dan mereka mengatakan
akan merebut Pulau Kharg dan mengambil alih fasilitas minyak Iran," kata
Mottaki.
Ia bahkan mengusulkan agar Iran tidak hanya menyerang
pangkalan militer AS di kawasan, tetapi juga menangkap prajurit Amerika.
"Saya sudah lama menganjurkan perang darat. Kita harus
merebut salah satu pangkalan AS di wilayah tersebut, menangkap pasukannya, dan
membawa mereka kembali ke negara kita," ujarnya.
Anggota parlemen Iran Ahmad Bakhshayesh Ardestani juga
menyebut Iran dapat mempertimbangkan operasi darat ke Kuwait dan Bahrain
apabila AS benar-benar menginvasi wilayah Iran.
Menurutnya, apabila AS berhasil menguasai Pulau Kharg,
penguasaan tersebut hanya akan berlangsung sementara karena pulau itu tetap berada
dalam jangkauan rudal Iran.
"Rudal Iran dari Semnan, Zahedan, Isfahan, dan tempat
lain dapat mencapainya. Menduduki Pulau Kharg akan mengubahnya menjadi target
bagi Iran," kata Ardestani.
Di tengah meningkatnya ketegangan, muncul pula spekulasi
mengenai kemungkinan operasi Iran ke Pulau Bubiyan, Kuwait. Sejumlah tokoh
politik Iran dan akun media sosial membahas skenario penggunaan pasukan elite
Saberin dari Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) melalui wilayah Irak selatan
apabila AS melakukan operasi di Iran.
Meski demikian, laporan mengenai pergerakan militer Iran
menuju perbatasan Kuwait belum dapat diverifikasi secara independen.
Sebelumnya, pada 1 Mei 2026, otoritas Kuwait mengeklaim
telah menangkap empat orang yang mengaku anggota IRGC setelah mendarat di Pulau
Bubiyan menggunakan kapal nelayan. Pemerintah Iran membantah tuduhan tersebut
dan menyatakan para perwira memasuki perairan Kuwait akibat gangguan sistem
navigasi.
Trump sebelumnya juga memperingatkan bahwa Iran akan
menghadapi konsekuensi lebih besar apabila terus menyerang kepentingan AS di
kawasan.
"Setiap kali Iran membunuh seorang tentara AS, mereka
akan membayar pembunuhan itu berkali-kali lipat," tulis Trump melalui
media sosial Truth Social.