-->

Notification

×

Iklan

Iklan

banner 728x90

Indeks Berita

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Marco Rubio menekankan Washington tetap membuka peluang penyelesaian diplomatik

Rabu, 22 Juli 2026 | Juli 22, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-07-22T16:52:26Z

 

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Marco Rubio menekankan Washington tetap membuka peluang penyelesaian diplomatik dengan Iran di tengah ketegangan yang masih berlangsung antarkeduanya.

 


Pernyataan tersebut disampaikan Rubio saat menghadiri pertemuan Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) di Manila, Filipina, pada Rabu (22/7/2026).

"AS selalu berkomitmen pada diplomasi. AS tetap terbuka dan bersedia terlibat dalam negosiasi dan pembicaraan yang positif dan konstruktif, selama komitmen yang dibuat ditepati. Kami berpikiran terbuka dan selalu bersedia terlibat dalam penyelesaian perbedaan melalui negosiasi, dan itu tetap berlaku dalam kasus dengan Iran," kata Rubio, dilansir dari Anadolu Agency, Rabu (22/7/2026).

Namun, menurutnya, setiap kesepakatan yang dicapai harus dipatuhi oleh semua pihak.

 “Ketika komitmen tersebut tidak ditepati, seperti yang terjadi dalam kasus khusus ini, maka akan ada konsekuensinya, dan itu harus terjadi," ucapnya.

Berdasarkan keterangan Rubio, pihak Iran telah menjalin komunikasi dengan Washington, baik secara langsung maupun tidak langsung terkait kemungkinan diskusi untuk meredakan ketegangan antara kedua negara yang tengah memanas selama dua pekan terakhir. Namun, ia menyindir Teheran belum menunjukkan keseriusan dalam proses diplomasi dengan Washington.

"Masalah yang kita hadapi saat ini adalah mereka tidak serius tentang pembicaraan. Jika Iran serius, AS juga serius. Jika tidak, maka kami akan melakukan apa yang dibutuhkan untuk melindungi kepentingan AS dan juga kepentingan sekutu kami," tegas Rubio.

Dalam kesempatan yang sama, Rubio juga menegaskan, Iran tidak boleh dibiarkan menguasai lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi salah satu rute utama perdagangan energi dunia.

"Jika kita menciptakan preseden di Timur Tengah, di mana sebuah negara dapat memutuskan mereka akan mengendalikan jalur air internasional, menerapkan biaya tol, dan jika Anda tidak membayar, mereka akan meledakkan kapalmu, maka kita telah menciptakan preseden yang sangat berbahaya yang akan terulang di bagian lain dunia, termasuk di wilayah ini," pungkasnya. 

×
Berita Terbaru Update