Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Marco Rubio
menekankan Washington tetap membuka peluang penyelesaian diplomatik dengan Iran
di tengah ketegangan yang masih berlangsung antarkeduanya.
Pernyataan tersebut disampaikan Rubio saat menghadiri
pertemuan Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) di Manila, Filipina,
pada Rabu (22/7/2026).
"AS selalu berkomitmen pada diplomasi. AS tetap terbuka
dan bersedia terlibat dalam negosiasi dan pembicaraan yang positif dan
konstruktif, selama komitmen yang dibuat ditepati. Kami berpikiran terbuka dan
selalu bersedia terlibat dalam penyelesaian perbedaan melalui negosiasi, dan
itu tetap berlaku dalam kasus dengan Iran," kata Rubio, dilansir dari Anadolu
Agency, Rabu (22/7/2026).
Namun, menurutnya, setiap kesepakatan yang dicapai harus
dipatuhi oleh semua pihak.
“Ketika komitmen
tersebut tidak ditepati, seperti yang terjadi dalam kasus khusus ini, maka akan
ada konsekuensinya, dan itu harus terjadi," ucapnya.
Berdasarkan keterangan Rubio, pihak Iran telah menjalin
komunikasi dengan Washington, baik secara langsung maupun tidak langsung
terkait kemungkinan diskusi untuk meredakan ketegangan antara kedua negara yang
tengah memanas selama dua pekan terakhir. Namun, ia menyindir Teheran belum
menunjukkan keseriusan dalam proses diplomasi dengan Washington.
"Masalah yang kita hadapi saat ini adalah mereka tidak
serius tentang pembicaraan. Jika Iran serius, AS juga serius. Jika tidak, maka
kami akan melakukan apa yang dibutuhkan untuk melindungi kepentingan AS dan
juga kepentingan sekutu kami," tegas Rubio.
Dalam kesempatan yang sama, Rubio juga menegaskan, Iran
tidak boleh dibiarkan menguasai lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz, jalur
strategis yang menjadi salah satu rute utama perdagangan energi dunia.
"Jika kita menciptakan preseden di Timur Tengah, di
mana sebuah negara dapat memutuskan mereka akan mengendalikan jalur air
internasional, menerapkan biaya tol, dan jika Anda tidak membayar, mereka akan
meledakkan kapalmu, maka kita telah menciptakan preseden yang sangat berbahaya
yang akan terulang di bagian lain dunia, termasuk di wilayah ini,"
pungkasnya.