Amerika Serikat (AS) selama beberapa pekan terakhir gencar
mmendesak Uni Emirat Arab (UEA) untuk meningkatkan tekanan ekonomi terhadap
Iran.
Menurut laporan The Wall Street Journal pada Kamis
(20/8/2026), yang mengutip sejumlah sumber, desakan tersebut muncul di tengah
upaya Pemerintahan Trump untuk memperketat tekanan ekonomi terhadap Iran dan
membatasi akses negara tersebut terhadap jalur perdagangan serta keuangan
internasional.
Direktur Departemen Komunikasi Strategis Kementerian Luar
Negeri UEA Afra Al Hameli, pada Selasa (18/8/2026) mengatakan UEA telah
menghentikan aktivitas perdagangan dan keuangan dengan Iran.
Namun, menurut sumber yang dikutip The Wall Street Journal,
sejumlah pejabat UEA khawatir strategi Washington untuk meningkatkan tekanan
ekonomi terhadap Iran justru dapat berdampak terhadap perekonomian
negara-negara Teluk.
Kekhawatiran tersebut terutama berkaitan dengan sektor
ekonomi yang bergantung pada pariwisata dan perdagangan, bukan minyak.
Pada sisi lain, beberapa pejabat UEA disebut ingin tetap
mempertahankan jalur komunikasi dengan Teheran. Langkah tersebut dinilai dapat
menjadi instrumen diplomatik apabila upaya AS untuk menekan perekonomian Iran
tidak mencapai hasil yang diharapkan, mengutip Antara, Jumat (21/8/2026).
Sementara itu, Trump pada hari yang sama mengatakan Teheran
telah menyia-nyiakan kesempatan untuk mencapai kesepakatan dengan Washington.
Menurut Trump, kondisi tersebut mendorong AS melancarkan operasi ekonomi
berskala besar terhadap Iran.
Pada Rabu (19/8/2026), Trump sebelumnya, mengumumkan apa
yang disebutnya sebagai operasi ekonomi paling menghancurkan yang pernah
dilakukan terhadap negara mana pun. Presiden berusia 79 tahun itu bahkan
memperingatkan keras negara-negara dan perusahaan yang membantu Iran akan
menghadapi konsekuensi ekonomi berat dari Washington.
“Saya juga mengumumkan setiap negara yang mengizinkan
lembaga keuangan, perusahaan, bandara, atau entitas pemerintahnya memberikan
bantuan dalam bentuk apa pun kepada Iran akan menghadapi konsekuensi ekonomi
yang sangat besar,” seru Trump.