Anggapan perempuan tanpa riwayat keluarga penderita kanker
tidak berisiko terkena kanker payudara masih banyak dipercaya masyarakat awal.
Padahal, anggapan tersebut merupakan mitos karena kanker payudara dipengaruhi
oleh berbagai faktor dan tidak semata-mata ditentukan oleh faktor keturunan.
Dokter subspesialis bedah onkologi, dr I Gusti Ayu Nari
Laksmi Dewi, mengungkapkan, kanker payudara merupakan penyakit multifactorial.
Artinya, selain faktor genetik, ada sejumlah penyebab lain yang dapat
meningkatkan risiko seseorang mengalami kanker payudara.
Mengacu pada informasi Direktorat Jenderal Kesehatan
Lanjutan Kementerian Kesehatan, faktor risiko tersebut meliputi perubahan
hormonal, terutama kadar hormon estrogen yang tinggi, paparan radiasi
elektromagnetik dari lingkungan, hingga pola hidup yang kurang sehat, seperti
konsumsi alkohol secara berlebihan.
Selain itu, dr Gusti juga meluruskan anggapan setiap
benjolan pada payudara pasti merupakan kanker. Menurutnya, anggapan tersebut
adalah hal keliru, karena benjolan pada
payudara, khususnya pada perempuan berusia di bawah 35 tahun, cukup sering
ditemukan dan tidak selalu bersifat ganas.
“Benjolan dapat berupa tumor jinak maupun tumor ganas. Oleh
karena itu, pemeriksaan medis tetap diperlukan untuk memastikan diagnosis
sehingga penanganan tepat dapat segera diberikan,” ungkap dr Gusti, mengutip
Antara, Sabtu (1/8/2026).
Lebih lanjut, dr Gusti mengatakan kanker payudara pada
stadium awal sering kali tidak menimbulkan gejala. Banyak pasien baru
mengetahui dirinya mengidap kanker setelah benjolan membesar karena pada tahap
awal benjolan umumnya tidak disertai rasa nyeri.
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi salah satu alasan
mengapa kanker payudara kerap terlambat terdiagnosis. Padahal, benjolan yang
awalnya tidak menimbulkan keluhan dapat berkembang dengan cepat sebelum
akhirnya memicu gejala lain.
Salah satu langkah sederhana yang dapat dilakukan adalah
melakukan pemeriksaan payudara sendiri (Sadari) setiap bulan. Jika ditemukan
benjolan atau perubahan mencurigakan, maka sebaiknya segera memeriksakan diri
ke dokter untuk memastikan apakah benjolan tersebut adalah tumor jinak atau
ganas.
Berdasarkan data BPJS Kesehatan, jumlah kasus kanker
payudara di Indonesia meningkat signifikan dalam lima tahun terakhir. Sepanjang
periode 2021 hingga 2025, jumlah kasus bertambah sekitar 860.000, dari
1.080.031 kasus pada 2021 menjadi 1.941.410 kasus pada 2025.