-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Anggapan perempuan tanpa riwayat keluarga penderita kanker tidak berisiko terkena kanker payudara masih banyak dipercaya masyarakat awal

Minggu, 02 Agustus 2026 | Agustus 02, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-08-01T18:41:30Z

 

Anggapan perempuan tanpa riwayat keluarga penderita kanker tidak berisiko terkena kanker payudara masih banyak dipercaya masyarakat awal. Padahal, anggapan tersebut merupakan mitos karena kanker payudara dipengaruhi oleh berbagai faktor dan tidak semata-mata ditentukan oleh faktor keturunan.

 


Dokter subspesialis bedah onkologi, dr I Gusti Ayu Nari Laksmi Dewi, mengungkapkan, kanker payudara merupakan penyakit multifactorial. Artinya, selain faktor genetik, ada sejumlah penyebab lain yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami kanker payudara.

 

Mengacu pada informasi Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan Kementerian Kesehatan, faktor risiko tersebut meliputi perubahan hormonal, terutama kadar hormon estrogen yang tinggi, paparan radiasi elektromagnetik dari lingkungan, hingga pola hidup yang kurang sehat, seperti konsumsi alkohol secara berlebihan.

 

Selain itu, dr Gusti juga meluruskan anggapan setiap benjolan pada payudara pasti merupakan kanker. Menurutnya, anggapan tersebut adalah hal keliru,  karena benjolan pada payudara, khususnya pada perempuan berusia di bawah 35 tahun, cukup sering ditemukan dan tidak selalu bersifat ganas.

 

“Benjolan dapat berupa tumor jinak maupun tumor ganas. Oleh karena itu, pemeriksaan medis tetap diperlukan untuk memastikan diagnosis sehingga penanganan tepat dapat segera diberikan,” ungkap dr Gusti, mengutip Antara, Sabtu (1/8/2026).

 

Lebih lanjut, dr Gusti mengatakan kanker payudara pada stadium awal sering kali tidak menimbulkan gejala. Banyak pasien baru mengetahui dirinya mengidap kanker setelah benjolan membesar karena pada tahap awal benjolan umumnya tidak disertai rasa nyeri.

 

Menurutnya, kondisi tersebut menjadi salah satu alasan mengapa kanker payudara kerap terlambat terdiagnosis. Padahal, benjolan yang awalnya tidak menimbulkan keluhan dapat berkembang dengan cepat sebelum akhirnya memicu gejala lain.

 

Salah satu langkah sederhana yang dapat dilakukan adalah melakukan pemeriksaan payudara sendiri (Sadari) setiap bulan. Jika ditemukan benjolan atau perubahan mencurigakan, maka sebaiknya segera memeriksakan diri ke dokter untuk memastikan apakah benjolan tersebut adalah tumor jinak atau ganas.

 

Berdasarkan data BPJS Kesehatan, jumlah kasus kanker payudara di Indonesia meningkat signifikan dalam lima tahun terakhir. Sepanjang periode 2021 hingga 2025, jumlah kasus bertambah sekitar 860.000, dari 1.080.031 kasus pada 2021 menjadi 1.941.410 kasus pada 2025.

×
Berita Terbaru Update