Deflasi sebesar 0,14% pada Juli 2026 dinilai belum
sepenuhnya menjadi kabar baik bagi perekonomian. Pengamat ekonomi Center of
Reform on Economics (Core) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai penurunan
harga tersebut justru menunjukkan konsumsi rumah tangga masih belum pulih,
meski pasokan pangan sedang melimpah.
"Deflasi Juli lebih banyak dipengaruhi faktor musiman
dan sisi pasokan, bukan sepenuhnya mencerminkan perbaikan fundamental ekonomi.
Ketika pasokan meningkat tetapi konsumsi belum mampu menyerapnya, tekanan harga
akan cenderung turun," ujar Yusuf kepada Beritasatu.com, Selasa
(4/8/2026).
GliaStudios
Menurut Yusuf, turunnya harga memang menguntungkan konsumen
dalam jangka pendek. Namun, kondisi tersebut juga menjadi sinyal bahwa
permintaan domestik belum cukup kuat untuk menyerap peningkatan pasokan bahan
pangan.
Secara tahunan, inflasi yang melambat menjadi 2,88% juga
menunjukkan tekanan permintaan masih terkendali. Sementara inflasi inti di
level 2,76% mengindikasikan pemulihan konsumsi masyarakat masih berlangsung
secara bertahap. Yusuf mengingatkan pemerintah agar tidak hanya berfokus pada manfaat
harga pangan yang lebih murah, tetapi juga memperhatikan dampaknya terhadap
petani dan pelaku usaha.
"Kondisi ini memang menguntungkan konsumen dalam jangka
pendek, tetapi pemerintah perlu memperhatikan dampaknya terhadap produsen
pangan. Jika harga terus berada di level rendah dalam waktu lama, margin petani
dan pelaku usaha bisa tertekan dan berisiko mengurangi produksi pada periode
berikutnya," tegasnya.
Menurut Yusuf, tantangan pemerintah dan Bank Indonesia ke
depan adalah menjaga stabilitas harga melalui peningkatan produktivitas dan
distribusi pangan, bukan hanya mengandalkan penurunan harga akibat melimpahnya
pasokan.
"Tantangannya adalah memastikan stabilitas harga tidak
hanya dicapai melalui penurunan harga sementara, melainkan melalui penguatan
produktivitas dan distribusi pangan. Ke depan, faktor cuaca, harga energi
global, dan kekuatan konsumsi domestik akan menjadi penentu arah inflasi,"
tambah Yusuf.
Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indonesia
mengalami deflasi sebesar 0,14% (month-to-month/mtm) pada Juli 2026. Secara
tahunan, inflasi tercatat 2,88% (year-on-year/yoy) dengan indeks harga konsumen
(IHK) turun dari 111,89 pada Juni menjadi 111,73 pada Juli 2026.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng
Hartono mengatakan kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang
terbesar deflasi dengan andil 0,26%.
"Beberapa komoditas yang menyumbang deflasi pada
kelompok makanan, minuman dan tembakau adalah bawang merah, cabai merah, cabai
rawit, telur ayam ras, dan tomat dengan andil deflasi masing-masing sebesar
0,11%, 0,06%, 0,06%, 0,03%, dan 0,03%," ucap Ateng.