-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Deflasi sebesar 0,14% pada Juli 2026 dinilai belum sepenuhnya menjadi kabar baik bagi perekonomian. Pengamat ekonomi Center of Reform on Economics (Core) Indonesia

Rabu, 05 Agustus 2026 | Agustus 05, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-08-04T18:06:29Z

Deflasi sebesar 0,14% pada Juli 2026 dinilai belum sepenuhnya menjadi kabar baik bagi perekonomian. Pengamat ekonomi Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai penurunan harga tersebut justru menunjukkan konsumsi rumah tangga masih belum pulih, meski pasokan pangan sedang melimpah.

 


"Deflasi Juli lebih banyak dipengaruhi faktor musiman dan sisi pasokan, bukan sepenuhnya mencerminkan perbaikan fundamental ekonomi. Ketika pasokan meningkat tetapi konsumsi belum mampu menyerapnya, tekanan harga akan cenderung turun," ujar Yusuf kepada Beritasatu.com, Selasa (4/8/2026).

 

GliaStudios

Menurut Yusuf, turunnya harga memang menguntungkan konsumen dalam jangka pendek. Namun, kondisi tersebut juga menjadi sinyal bahwa permintaan domestik belum cukup kuat untuk menyerap peningkatan pasokan bahan pangan.

 

Secara tahunan, inflasi yang melambat menjadi 2,88% juga menunjukkan tekanan permintaan masih terkendali. Sementara inflasi inti di level 2,76% mengindikasikan pemulihan konsumsi masyarakat masih berlangsung secara bertahap. Yusuf mengingatkan pemerintah agar tidak hanya berfokus pada manfaat harga pangan yang lebih murah, tetapi juga memperhatikan dampaknya terhadap petani dan pelaku usaha.

 

"Kondisi ini memang menguntungkan konsumen dalam jangka pendek, tetapi pemerintah perlu memperhatikan dampaknya terhadap produsen pangan. Jika harga terus berada di level rendah dalam waktu lama, margin petani dan pelaku usaha bisa tertekan dan berisiko mengurangi produksi pada periode berikutnya," tegasnya.

 

Menurut Yusuf, tantangan pemerintah dan Bank Indonesia ke depan adalah menjaga stabilitas harga melalui peningkatan produktivitas dan distribusi pangan, bukan hanya mengandalkan penurunan harga akibat melimpahnya pasokan.

 

"Tantangannya adalah memastikan stabilitas harga tidak hanya dicapai melalui penurunan harga sementara, melainkan melalui penguatan produktivitas dan distribusi pangan. Ke depan, faktor cuaca, harga energi global, dan kekuatan konsumsi domestik akan menjadi penentu arah inflasi," tambah Yusuf.

 

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indonesia mengalami deflasi sebesar 0,14% (month-to-month/mtm) pada Juli 2026. Secara tahunan, inflasi tercatat 2,88% (year-on-year/yoy) dengan indeks harga konsumen (IHK) turun dari 111,89 pada Juni menjadi 111,73 pada Juli 2026.

 

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar deflasi dengan andil 0,26%.

 

"Beberapa komoditas yang menyumbang deflasi pada kelompok makanan, minuman dan tembakau adalah bawang merah, cabai merah, cabai rawit, telur ayam ras, dan tomat dengan andil deflasi masing-masing sebesar 0,11%, 0,06%, 0,06%, 0,03%, dan 0,03%," ucap Ateng.


×
Berita Terbaru Update