Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bekasi memastikan sumber
pencemaran yang menyebabkan air Kali Bekasi berubah hitam pekat dalam beberapa
hari terakhir berasal dari wilayah Kabupaten Bogor. Kesimpulan tersebut
diperoleh setelah hasil uji laboratorium menunjukkan karakteristik pencemar
yang sama pada sampel air dari Kabupaten Bogor hingga Kota Bekasi.
Kepala DLH Kota Bekasi, Kiswatiningsih, menjelaskan
pengambilan sampel pertama dilakukan pada Senin (20 /7/2026) setelah pihaknya
menerima laporan dari lurah Bantargebang mengenai perubahan warna air Sungai
Cileungsi menjadi hitam pekat sehari sebelumnya.
"Hasil uji sampel dari Bogor dan yang masuk ke Kali
Bekasi menunjukkan karakteristik sumber pencemar atau parameternya sama.
Artinya sumber pencemarnya berasal dari Kabupaten Bogor," kata
Kiswatiningsih di Bantargebang, Kota Bekasi, Rabu (5/8/2026).
Hasil Uji Laboratorium
DLH kembali mengambil sampel air pada Rabu (22/7/2026) di
sejumlah lokasi setelah kondisi Kali Bekasi di wilayah Bekasi Utara kembali
menghitam. Hasil pengujian kemudian dibandingkan dengan sampel yang diambil dua
hari sebelumnya.
Menurut Kiswatiningsih, kedua hasil uji laboratorium
menunjukkan parameter pencemar yang identik sehingga memperkuat dugaan sumber
limbah berasal dari Kabupaten Bogor. "Hasil uji laboratorium tanggal 20
dan 22 Juli juga sama. Parameter pencemarnya identik sehingga dapat disimpulkan
pencemar berasal dari Kabupaten Bogor," ujarnya.
Perbatasan Bogor
Untuk memastikan asal pencemaran, tim DLH melakukan
penelusuran dari wilayah Kota Bekasi hingga perbatasan Kabupaten Bogor,
termasuk kawasan Klaster Ontario, Kota Wisata. Di lokasi tersebut, aliran
sungai juga ditemukan berwarna hitam pekat.
DLH kemudian membandingkan sampel air dari wilayah Kabupaten
Bogor dengan air yang masuk ke Kota Bekasi. "Kami harus membuktikan dengan
data laboratorium, jangan sampai dianggap Kota Bekasi menuduh daerah lain tanpa
dasar," ujar Kiswatiningsih.
Berdasarkan hasil pemantauan, limbah membutuhkan waktu
sekitar dua hari untuk mengalir dari wilayah Bekasi Selatan menuju Bekasi
Utara. Kondisi tersebut mengindikasikan pencemaran berlangsung secara
terus-menerus sejak pertama kali terdeteksi pada MInggu (19/7/2026).
Selain itu, pemeriksaan di titik pertemuan Sungai Cikeas dan
Sungai Cileungsi menunjukkan perbedaan warna air yang cukup mencolok. Air
Sungai Cikeas tampak cokelat akibat sedimentasi, sedangkan Sungai Cileungsi
berwarna hitam keabu-abuan.
"Nah ini menunjukkan perjalanan limbah terjadi
terus-menerus dari Kabupaten Bogor sampai ke Kota Bekasi," katanya.
Perusahaan Kota Bekasi
DLH Kota Bekasi juga telah mengevaluasi kemungkinan
pencemaran berasal dari perusahaan-perusahaan yang berada di sepanjang aliran
Kali Bekasi di wilayah Kota Bekasi. Namun, menurut Kiswatiningsih, seluruh
perusahaan tersebut telah mengikuti program penilaian peringkat kinerja
perusahaan (Proper) dan berada di bawah pengawasan rutin DLH.
"Perusahaan di wilayah Kota Bekasi dapat kami
kendalikan dan diawasi, maka kami berkesimpulan sumber pencemarnya berasal dari
Kabupaten Bogor," tegasnya.
Berulang Sejak 2019
Kiswatiningsih mengungkapkan, fenomena air Kali Bekasi yang
menghitam bukan kali pertama terjadi. Berdasarkan catatan DLH Kota Bekasi,
kondisi serupa rutin muncul saat puncak musim kemarau sejak 2023. Sementara
itu, data Komunitas Peduli Sungai Cileungsi Cikeas (KP2C) mencatat peristiwa
serupa telah berulang sejak 2019.
Mengingat lokasi dugaan sumber pencemaran berada di luar
kewenangan Pemerintah Kota Bekasi, DLH telah melaporkan hasil investigasi
kepada Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Barat, Kementerian Lingkungan
Hidup, serta Bupati Bogor.
Selain itu, DLH Kota Bekasi akan segera berkoordinasi dengan
DLH Kabupaten Bogor untuk menindaklanjuti temuan tersebut sekaligus mendorong
langkah penanganan agar pencemaran tidak terus berulang.