-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Harga bahan bakar minyak (BBM) di Iran terancam naik tajam di tengah tekanan ekonomi yang semakin berat. Pemerintah Iran kini mempertimbangkan penyesuaian harga bensin

Selasa, 25 Agustus 2026 | Agustus 25, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-08-24T18:43:20Z

 


Harga bahan bakar minyak (BBM) di Iran terancam naik tajam di tengah tekanan ekonomi yang semakin berat. Pemerintah Iran kini mempertimbangkan penyesuaian harga bensin untuk mengurangi beban subsidi energi yang ditanggung negara.

 

Tekanan ekonomi Iran dipicu blokade Amerika Serikat (AS), sanksi finansial, serta eskalasi konflik militer. Dana Moneter Internasional (IMF) bahkan memproyeksikan produk domestik bruto (PDB) Iran menyusut 5,4% pada 2026.

 

Kondisi tersebut semakin diperparah oleh anjloknya nilai tukar rial yang mencapai rekor terendah, yakni sekitar 2 juta rial per dolar AS di pasar bebas Teheran.

 

Biaya produksi bensin di tingkat kilang mencapai sekitar 1,3 juta rial atau setara Rp 16.724 per liter. Namun, masyarakat Iran masih dapat membeli bensin dengan harga bersubsidi terendah sebesar 15.000 rial atau sekitar Rp 192 per liter, mengutip berbagai sumber, Senin (24/8/2026).

 

 

Kesenjangan harga tersebut membuat pemerintah harus menanggung beban subsidi yang sangat besar. Sejumlah langkah telah ditempuh untuk mengatasi persoalan tersebut, mulai dari meningkatkan produksi kilang, menggunakan produk petrokimia, hingga menurunkan kualitas bahan bakar dengan cara mengencerkannya. Di tengah tekanan tersebut, pemerintah Iran kini mengkaji tiga pilihan kebijakan untuk mengatasi persoalan harga BBM dan subsidi energi.

 

3 Opsi Kebijakan BBM Iran

1. Mempertahankan Harga dan Membatasi Stok

 

Opsi pertama adalah mempertahankan harga BBM seperti saat ini, tetapi memberlakukan pembatasan stok harian di setiap stasiun pengisian bahan bakar.

 

2. Memberikan Kuota 30 Liter per Bulan

 

Pilihan kedua adalah memberikan bensin bersubsidi sebanyak 30 liter per bulan kepada setiap warga, termasuk mereka yang tidak memiliki kendaraan. Kuota tersebut nantinya dapat diperjualbelikan kembali.

 

3. Meliberalisasi Harga hingga Rp 11.000 per Liter

 

Pilihan paling ekstrem adalah meliberalisasi harga bensin hingga mendekati biaya keekonomian kilang, yakni sekitar 872.000 rial atau sekitar Rp 11.218 per liter.

 

Wakil Presiden Pertama Iran Mohammad-Reza Aref mengisyaratkan pemerintah cenderung memilih liberalisasi harga secara bertahap dengan mengalokasikan penghematan subsidi kepada masyarakat rentan.

 

"Tingkatan harga termurah dengan kuota 60 liter harus tetap diberlakukan. Namun, kuota kedua dapat secara bertahap diturunkan, dan harga pada akhirnya harus diliberalisasi secara transparan dengan hasil yang dialokasikan untuk masyarakat yang rentan," kata Aref.

 

Presiden Iran Masoud Pezeshkian meminta masyarakat memahami kondisi yang tengah dihadapi pemerintah.

 

"Saya memahami bahwa kita memiliki banyak masalah di masyarakat saat ini. Kita melakukan yang terbaik agar rakyat tidak menderita, tetapi musuh melakukan yang terbaik agar kita tidak berhasil," sambungnya,” ujar Pezeshkian, dikutip dari Al Jazeera, Minggu (23/8/2026).

 

Pernyataan tersebut disampaikan ketika perekonomian Iran semakin tertekan, termasuk setelah Presiden AS Donald Trump mengancam melancarkan operasi sanksi ekonomi skala besar terhadap Iran, bahkan turut mengancam negara, perusahaan, atau lembaga mana pun yang membantu ekonomi Iran.

 

Warga Khawatir Harga Kebutuhan Semakin Berat

Rencana perubahan harga BBM menimbulkan kekhawatiran di kalangan masyarakat Iran yang sudah menghadapi inflasi tinggi. Data Pusat Statistik Iran menunjukkan inflasi tahunan mencapai 88%. Sementara itu, inflasi sektor pangan bahkan melampaui 128%.

 

Mostafa, seorang pekerja ritel di Teheran barat, mengkritik perbandingan harga bahan bakar Iran dengan negara lain yang menurutnya tidak memperhitungkan tingkat pendapatan masyarakat.

 

"Pemerintah terus berbicara tentang bagaimana harga bahan bakar tidak sebanding dengan negara lain, tetapi mereka tidak mau berbicara tentang bagaimana gaji bahkan tidak mendekati harga di tempat lain, atau pengeluaran lainnya. Kita sudah terbebani oleh harga yang kita hadapi saat ini," keluh Mostafa.

 

Pemerintah Iran kini menghadapi pilihan sulit untuk mengurangi beban subsidi energi tanpa semakin membebani masyarakat. Salah satu skenario yang dikaji dapat membuat harga BBM mendekati Rp 11.218 per liter, meski pemerintah juga mempertimbangkan pemberian kuota dan liberalisasi harga secara bertahap.

×
Berita Terbaru Update