Iran dan Oman disebut hampir mencapai kesepakatan mengenai
pengaturan jalur pelayaran di Selat Hormuz. Namun, Teheran menegaskan
kesepakatan tersebut belum cukup untuk membuka kembali jalur perairan strategis
itu sepenuhnya.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi mengatakan pembahasan
dengan Oman telah mendekati kesepakatan mengenai jalur pelayaran baru di Selat
Hormuz. Namun, pembukaan kembali jalur tersebut masih bergantung pada sejumlah
persyaratan lain, termasuk kompensasi dari Amerika Serikat (AS) kepada Iran.
Dilansir dari Reuters, kesepakatan Iran dan Oman dinilai
penting dalam upaya mencapai kesepakatan yang lebih luas untuk mengakhiri
perang yang dimulai setelah serangan AS dan Israel terhadap Iran pada 28
Februari 2026. Konflik tersebut kemudian membuat Iran memperketat kendali atas
Selat Hormuz, jalur utama perdagangan energi dunia.
Seorang pejabat AS yang tidak bersedia disebutkan namanya
sebelumnya mengatakan Washington memperkirakan Iran dan Oman segera mencapai
kesepakatan. Iran dan Oman merupakan dua negara yang berada di sisi berlawanan
Selat Hormuz.
Menurut pejabat tersebut, kesepakatan diharapkan
memungkinkan kembali normalnya lalu lintas kapal pengangkut minyak melalui
selat tersebut. Namun, Araqchi menegaskan pembukaan Selat Hormuz tidak hanya
bergantung pada kesepakatan dengan Oman.
Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Mohammad
Baqer Zolqadr menyebut sejumlah tuntutan lain, antara lain penghentian ancaman
AS terhadap Iran, penghentian agresi terhadap Iran dan sekutunya di Lebanon,
Palestina, Yaman, serta Irak, pencabutan blokade dan sanksi terhadap Iran,
serta pembebasan aset Iran.
Oman Sambut Positif Perundingan
Oman menyatakan perundingan dengan Iran mengenai pengaturan
pelayaran di Selat Hormuz berlangsung positif dan konstruktif. Namun, Oman juga
mengecam serangkaian serangan terhadap kapal yang melintas di selat tersebut
tanpa menyebut pihak yang bertanggung jawab.
Kementerian Luar Negeri Oman menekankan pentingnya
menghindari tindakan yang dapat mengganggu proses perundingan dan kemajuan yang
telah dicapai.
Araqchi mengatakan skema pemisahan jalur pelayaran yang
sebelumnya berlaku di Selat Hormuz sudah tidak dapat diterima oleh Iran.
Teheran kini membahas jalur sementara dengan Oman sembari menyelesaikan
persoalan teknis dan hukum untuk membentuk jalur permanen.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan saat ini
merupakan waktu yang tepat untuk mencapai kesepakatan. Menurut dia, Iran berada
dalam kondisi yang kuat dan bersatu.
“Di negara ini terdapat kekompakan, kekuatan, dan persatuan.
Sepengetahuan saya, Iran dianggap sebagai pihak yang menang dan kuat dalam
perang ini,” kata Pezeshkian seperti dikutip kantor berita Iran.
Harga Minyak Naik Saat Iran Kembali Ancam Pembatasan Selat
Hormuz
Iran merespons serangan AS dengan menyerang sejumlah
pangkalan AS di negara-negara Teluk dan Yordania. Teheran juga menyerang
kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz.
Sebelum perang berlangsung, Selat Hormuz menjadi jalur bagi
sekitar seperlima pengiriman minyak dan gas dunia.
Ketegangan kembali meningkat setelah Uni Emirat Arab (UEA)
mengatakan Iran menyerang sebuah kapal pengangkut yang terafiliasi dengan
perusahaan minyak milik negara tersebut ketika melintas di Selat Hormuz.
Serangan menggunakan rudal tersebut tidak menimbulkan korban jiwa.
Pemantau perdagangan maritim Inggris, UKMTO, mengatakan
sebuah kapal terbakar setelah terkena proyektil yang belum diketahui asalnya.
Api kemudian berhasil dipadamkan dan tidak ada dampak lingkungan yang
dilaporkan.
Hingga kini belum ada tanggapan langsung dari pemerintah
Iran mengenai laporan tersebut.