-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Iran dan Oman disebut hampir mencapai kesepakatan mengenai pengaturan jalur pelayaran di Selat Hormuz.

Minggu, 09 Agustus 2026 | Agustus 09, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-08-08T17:24:47Z

 

Iran dan Oman disebut hampir mencapai kesepakatan mengenai pengaturan jalur pelayaran di Selat Hormuz. Namun, Teheran menegaskan kesepakatan tersebut belum cukup untuk membuka kembali jalur perairan strategis itu sepenuhnya.

 


Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi mengatakan pembahasan dengan Oman telah mendekati kesepakatan mengenai jalur pelayaran baru di Selat Hormuz. Namun, pembukaan kembali jalur tersebut masih bergantung pada sejumlah persyaratan lain, termasuk kompensasi dari Amerika Serikat (AS) kepada Iran.

 

Dilansir dari Reuters, kesepakatan Iran dan Oman dinilai penting dalam upaya mencapai kesepakatan yang lebih luas untuk mengakhiri perang yang dimulai setelah serangan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026. Konflik tersebut kemudian membuat Iran memperketat kendali atas Selat Hormuz, jalur utama perdagangan energi dunia.

 

Seorang pejabat AS yang tidak bersedia disebutkan namanya sebelumnya mengatakan Washington memperkirakan Iran dan Oman segera mencapai kesepakatan. Iran dan Oman merupakan dua negara yang berada di sisi berlawanan Selat Hormuz.

 

Menurut pejabat tersebut, kesepakatan diharapkan memungkinkan kembali normalnya lalu lintas kapal pengangkut minyak melalui selat tersebut. Namun, Araqchi menegaskan pembukaan Selat Hormuz tidak hanya bergantung pada kesepakatan dengan Oman.

 

 

Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Mohammad Baqer Zolqadr menyebut sejumlah tuntutan lain, antara lain penghentian ancaman AS terhadap Iran, penghentian agresi terhadap Iran dan sekutunya di Lebanon, Palestina, Yaman, serta Irak, pencabutan blokade dan sanksi terhadap Iran, serta pembebasan aset Iran.

 

Oman Sambut Positif Perundingan

Oman menyatakan perundingan dengan Iran mengenai pengaturan pelayaran di Selat Hormuz berlangsung positif dan konstruktif. Namun, Oman juga mengecam serangkaian serangan terhadap kapal yang melintas di selat tersebut tanpa menyebut pihak yang bertanggung jawab.

 

Kementerian Luar Negeri Oman menekankan pentingnya menghindari tindakan yang dapat mengganggu proses perundingan dan kemajuan yang telah dicapai.

 

Araqchi mengatakan skema pemisahan jalur pelayaran yang sebelumnya berlaku di Selat Hormuz sudah tidak dapat diterima oleh Iran. Teheran kini membahas jalur sementara dengan Oman sembari menyelesaikan persoalan teknis dan hukum untuk membentuk jalur permanen.

 

Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan saat ini merupakan waktu yang tepat untuk mencapai kesepakatan. Menurut dia, Iran berada dalam kondisi yang kuat dan bersatu.

 

“Di negara ini terdapat kekompakan, kekuatan, dan persatuan. Sepengetahuan saya, Iran dianggap sebagai pihak yang menang dan kuat dalam perang ini,” kata Pezeshkian seperti dikutip kantor berita Iran.

Harga Minyak Naik Saat Iran Kembali Ancam Pembatasan Selat Hormuz

Iran merespons serangan AS dengan menyerang sejumlah pangkalan AS di negara-negara Teluk dan Yordania. Teheran juga menyerang kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz.

 

Sebelum perang berlangsung, Selat Hormuz menjadi jalur bagi sekitar seperlima pengiriman minyak dan gas dunia.

 

Ketegangan kembali meningkat setelah Uni Emirat Arab (UEA) mengatakan Iran menyerang sebuah kapal pengangkut yang terafiliasi dengan perusahaan minyak milik negara tersebut ketika melintas di Selat Hormuz. Serangan menggunakan rudal tersebut tidak menimbulkan korban jiwa.

 

Pemantau perdagangan maritim Inggris, UKMTO, mengatakan sebuah kapal terbakar setelah terkena proyektil yang belum diketahui asalnya. Api kemudian berhasil dipadamkan dan tidak ada dampak lingkungan yang dilaporkan.

 

Hingga kini belum ada tanggapan langsung dari pemerintah Iran mengenai laporan tersebut.


×
Berita Terbaru Update