Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menuding Rusia tidak
menginginkan konflik di Timur Tengah berakhir. Zelensky menilai hal tersebut
karena Rusia memiliki kepentingan tersendiri agar konflik di Timur Tengah terus
berlanjut.
“Kami tahu dari intelijen bahwa mereka (Rusia) sangat senang
karena tidak ada akhir perang, akhir perang yang sebenarnya di Timur Tengah,”
ujar Zelensky, dikutip dari Anadolu, Jumat (31/7/2026).
Menurutnya, situasi tersebut membuat Amerika Serikat (AS)
tidak lagi dapat memberikan dukungan kepada Ukraina dalam skala yang sama
seperti sebelumnya.
“Karena mereka memahami bahwa sejak Amerika Serikat terlibat
dalam perang ini, mereka tidak dapat membantu Ukraina pada tingkat yang sama
seperti sebelumnya,” imbuhnya.
Dalam wawancara dengan Fox News yang ditayangkan pada Kamis
(30/7/2026), Zelensky juga menuduh Moskow memasok drone kepada Iran. Drone
tersebut, dikatakan orang nomor satu di Ukraina itu, telah digunakan dalam berbagai
serangan di Timur Tengah, termasuk terhadap Israel.
Saat ditanya mengenai posisi Ukraina dalam perang melawan
Rusia, Zelensky menegaskan negaranya belum kalah.
“Menang berarti tidak
kehilangan negara dan kemerdekaan kita. Kita tidak kalah, dan mereka (Rusia)
tidak menang,” tegas Zelensky
Sementara itu, situasi di Timur Tengah kembali memanas
setelah upaya perdamaian antara AS dan Iran mengalami kemunduran. Sebelumnya,
kedua negara menandatangani nota kesepahaman yang dimediasi Pakistan pada Juni
2026 untuk mengakhiri konflik dan mencapai kesepakatan damai yang berkelanjutan
bersifat permaanen.
Ketegangan kembali meningkat setelah Presiden AS Donald
Trump pada 8 Juli mengumumkan gencatan senjata yang tercantum dalam kesepakatan
“Nota Kesepahaman Islamabad" tidak lagi berlaku.
Sejak itu, AS dan Iran kembali saling melancarkan serangan
militer. Washington dilaporkan menargetkan sejumlah lokasi di wilayah Iran,
sementara Teheran mengeklaim telah menyerang fasilitas pangkalan serta
peralatan militer AS di beberapa negara di kawasan Timur Tengah.