-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Bank Indonesia (BI) memperkirakan bank sentral Amerika Serikat (AS

Selasa, 29 September 2026 | September 29, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-09-28T17:26:44Z

 Bank Indonesia (BI) memperkirakan bank sentral Amerika Serikat (AS) atau Federal Reserve (The Fed) masih akan menaikkan suku bunga satu kali lagi pada kuartal IV 2026. Kenaikan tersebut berpotensi memperkuat dolar AS dan menambah tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.



Gubernur BI Destry Damayanti mengatakan tekanan global masih cukup tinggi setelah The Fed kembali menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin. Kondisi ini membuat BI terus mewaspadai pergerakan modal asing dan dampaknya terhadap stabilitas nilai tukar rupiah.


Alasan Rupiah Melemah, BI: Dolar AS hingga Sektor Eksternal Jadi Tekanan

“Seperti kita ketahui, belum lama ini The Fed juga menaikkan suku bunganya sebesar 25 basis points, dan kami masih memperkirakan akan ada kenaikan satu kali lagi di triwulan IV,” kata Destry dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI di Gedung Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (28/9/2026).


Menurut Destry, kenaikan suku bunga global turut mendorong penguatan dolar AS terhadap sejumlah mata uang utama. Kondisi tersebut membuat aset keuangan di negara maju, khususnya Amerika Serikat, semakin menarik bagi investor global.



Dampaknya, aliran modal berisiko keluar dari negara berkembang dan kembali masuk ke negara maju. Kondisi ini dapat menambah tekanan terhadap pasar keuangan dan nilai tukar rupiah.


“Dan yang terasa adalah pelarian arus modal dari emerging market kembali kepada developed countries, khususnya terhadap di Amerika Serikat,” ujarnya.


Destry menilai kondisi tersebut menunjukkan dunia masih menghadapi periode suku bunga tinggi yang bertahan lebih lama atau higher for longer. Situasi ini menjadi salah satu risiko bagi negara berkembang karena dapat memengaruhi arus modal masuk.


“Jadi kesimpulannya di global ini kita akan menghadapi situasi atau fenomena yang dinamakan higher for longer yang pada akhirnya ini akan memberikan tekanan kepada negara emerging market, khususnya terkait dengan aliran modal yang masuk ke negara emerging market termasuk Indonesia,” jelas Destry.


Untuk menghadapi tekanan tersebut, BI tetap menempatkan stabilitas sebagai fokus utama kebijakan moneter. Sementara kebijakan lain, termasuk makroprudensial dan sistem pembayaran, akan diarahkan untuk tetap menopang pertumbuhan ekonomi.


“Kebijakan moneter akan diarahkan untuk lebih pro-stability, sementara kebijakan lainnya diarahkan untuk lebih mendorong pertumbuhan ekonomi,” kata Destry.


Selain melalui kebijakan suku bunga, BI juga memperkuat stabilisasi melalui transaksi swap, repo, dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF). BI turut memberikan insentif hedging untuk membantu pelaku pasar mengurangi risiko akibat perubahan nilai tukar.


BI mencatat aliran modal asing yang masuk hingga saat ini telah mencapai sekitar US$ 6 miliar. Bank sentral juga akan terus memperkuat bauran kebijakan dan koordinasi dengan pemerintah serta otoritas lain untuk menjaga stabilitas sekaligus menekan dampak gejolak global terhadap ekonomi domestik.


“Oleh karena itu, Bank Indonesia akan merespons tantangan tersebut melalui bauran kebijakan yang adaptif dan terintegrasi, selaras dengan kerangka kebijakan yang kita lakukan saat ini juga,” pungkas Destry.


×
Berita Terbaru Update