Hujan abu vulkanik dampak erupsi Gunung Anak Krakatau di
perairan Selat Sunda mulai melanda kawasan pesisir Kabupaten Serang, Banten,
pada Sabtu malam, yang menyebabkan warga mengeluhkan mata perih hingga
mengganggu aktivitas belajar mengajar di sekolah.
Sanan (42), warga Kampung Pasauran Satu, Desa Umbul Tanjung,
Kecamatan Cinangka, saat ditemui di Pos Pemantau Gunung Api (PGA) Anak Krakatau
di Kabupaten Serang, Sabtu malam, mengatakan paparan abu vulkanik mulai
dirasakan menebal di sekitar permukiman warga sejak pukul 17.00 WIB.
"Dari jam lima sore mulai banyak debu. Saya bawa motor
di jalan mata pada sakit kalau tidak pakai helm. Ke badan juga menempel
debunya, membuat tidak nyaman. Bahkan di depan rumah saya sudah banyak debu
yang menempel di lantai," katanya.
Sanan menambahkan, rentetan suara gemuruh dan getaran yang
tidak kunjung berhenti sejak Jumat (4/9) malam mendorongnya berinisiatif
mendatangi langsung Pos Pemantau Gunung Api (PGA) Anak Krakatau di Pasauran
untuk memastikan kondisi keamanan gunung tersebut.
Kekhawatiran serupa turut dirasakan oleh Kepala SDN Pasir
Menteng, Kecamatan Cinangka, Ajat Sudrajat.
Ajat sengaja mendatangi Pos PGA Anak Krakatau malam itu
untuk memastikan secara langsung status dan kondisi gunung, guna mendapatkan
informasi valid yang nantinya akan disampaikan kepada para siswa dan wali murid
di sekolah.
Ajat membenarkan bahwa sebaran debu vulkanik tersebut sangat
mengganggu kenyamanan dan kesehatan tubuh saat beraktivitas di luar ruangan.
"Di perjalanan, kalau keadaan tidak memakai masker itu
sudah lumayan sakit ke tenggorokan, kemudian mata juga perih kalau tidak pakai
kacamata. Walaupun kita tidak terlihat jelas di udara, tapi debu-debunya di pos
pemantauan Krakatau ini kelihatan menumpuk," ujarnya.
Informasi langsung dari pos pemantau dirasa sangat penting
oleh Ajat, mengingat aktivitas erupsi tersebut telah memicu kecemasan di tengah
masyarakat dan berdampak pada sepinya kehadiran siswa di sekolah.
Lebih lanjut, Ajat menuturkan bahwa getaran dan dentuman
erupsi ini sebenarnya dianggap sebagai fenomena biasa oleh sebagian besar warga
Pasauran, namun ada sebagian warga yang berinisiatif untuk mengamankan diri.
"Masyarakat itu masih aman-aman saja karena hal-hal ini
sudah biasa dan alami di warga Pasauran. Tetapi memang ada beberapa warga yang
berinisiatif mengamankan dirinya sendiri ke daerah pegunungan," katanya.