-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Ketegangan di kawasan tersebut turut mendorong harga minyak dunia. Harga minyak kembali menembus US$ 100 per barel

Selasa, 15 September 2026 | September 15, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-09-14T18:19:14Z

 Ketegangan antara Iran dan Amerika Srikat (AS) kembali meningkat setelah Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran mengeklaim telah mencegat dan menghancurkan pesawat nirawak MQ-1 milik AS di atas Selat Hormuz.


IRGC dalam pernyataannya pada Senin (14/9/2026) mengatakan sistem pertahanan yang baru dikembangkan berhasil menjatuhkan drone tersebut. Namun, Iran tidak menjelaskan lebih jauh mengenai misi maupun aktivitas pesawat nirawak itu ketika berada di kawasan Selat Hormuz.


MQ-1 merupakan pesawat nirawak yang diproduksi perusahaan pertahanan AS, General Atomics. Pesawat tersebut secara historis banyak digunakan oleh Angkatan Udara AS dan badan intelijen CIA.


Insiden terbaru ini menambah rangkaian konfrontasi antara Iran dan AS yang melibatkan sistem militer tanpa awak di kawasan Teluk. Konflik yang telah berlangsung selama tujuh bulan itu masih belum menunjukkan tanda-tanda mereda, sementara upaya diplomatik terkait Selat Hormuz juga mengalami kebuntuan.


Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengatakan Washington masih dapat melanjutkan kampanye militernya terhadap Iran. Ia bahkan membuka kemungkinan AS mempertahankan kendali atas minyak Iran dengan membandingkannya dengan kesepakatan yang dibuat Washington dengan Venezuela.


“Kita pada akhirnya akan keluar (dari perang), kecuali jika kita memutuskan untuk tetap tinggal dan mempertahankan minyak seperti Venezuela,” kata Trump saat menghadiri Irish Open di Irlandia, Minggu (13/9/2026).


Trump juga menyebut pendapatan AS dari kesepakatan dengan Venezuela telah membayar biaya perang berkali-kali.


Berdasarkan kesepakatan yang dicapai pada Agustus, Venezuela disebut memberikan mayoritas kendali kepada AS atas lebih dari 65 miliar barel cadangan minyak. Sebagai imbalannya, Venezuela memperoleh US$ 209 miliar untuk kas negara.


Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan kesepakatan tersebut juga diperkirakan menarik hampir US$ 100 miliar investasi swasta untuk membantu menghidupkan kembali perekonomian Venezuela.


Trump juga memperkirakan perang dengan Iran yang telah berlangsung selama tujuh bulan dapat berakhir tahun ini, kemungkinan setelah pemilihan paruh waktu pada November.


Ia juga mengatakan harga bensin akan turun drastis setelah konflik berakhir. Namun, Trump menegaskan Washington hanya akan menyepakati perdamaian dengan persyaratan yang dinilainya tepat.


Presiden AS tersebut menyatakan Teheran telah terus-menerus menyerukan pembicaraan damai, meski Iran sebelumnya telah membantah klaim tersebut.


Di tengah meningkatnya ketegangan militer, pembicaraan mengenai masa depan Selat Hormuz juga mengalami hambatan.


Menteri Luar Negeri Oman Badr Albusaidi mengatakan pertemuan antara negara-negara Teluk dan Iran yang sedianya membahas kemungkinan kesepakatan terkait jalur pelayaran tersebut ditunda. Ia menyebut penundaan dilakukan karena masih diperlukan konsensus.


Pejabat Iran dan negara-negara Teluk sebelumnya diperkirakan bertemu pada Senin untuk membahas serta menandatangani kesepakatan mengenai jalur pelayaran Iran-Oman melalui Selat Hormuz.


Namun, hingga kini belum terdapat pembicaraan langsung antara AS dan Iran.


Selat Hormuz menjadi salah satu titik paling strategis dalam konflik yang pecah pada Februari. Blokade dan operasi militer di kawasan tersebut telah mengganggu arus perdagangan energi dan menjaga harga minyak global tetap tinggi.


Kesepakatan yang dicapai Washington dan Teheran pada Juni juga menghadapi persoalan terkait pengaturan jalur perairan tersebut. Dalam perkembangan lain, serangkaian serangan kelompok Houthi di Yaman dalam beberapa hari terakhir turut memberikan tekanan tambahan terhadap jalur pelayaran di kawasan.


Kelompok yang bersekutu dengan Teheran tersebut memiliki pengaruh terhadap Bab el-Mandeb, jalur strategis lain bagi perdagangan energi dan pelayaran internasional.


Di sisi lain, kapal yang dinilai tidak mematuhi aturan Iran dilaporkan menjadi sasaran serangan. AS juga secara berkala melancarkan serangan terhadap wilayah pesisir Iran dalam upaya menantang kendali Teheran atas Selat Hormuz.


Ketegangan di kawasan tersebut turut mendorong harga minyak dunia. Harga minyak kembali menembus US$ 100 per barel untuk pertama kalinya sejak Mei dan melanjutkan penguatan pada Senin.



Pergerakan harga tersebut terjadi setelah Arab Saudi menutup jalur pipa energi utama East-West Pipeline menyusul kerusakan yang dikaitkan dengan serangan drone dari Irak.


Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik 2,3% menjadi US$ 102,39 per barel. Sementara itu, minyak mentah Brent sebagai patokan internasional menguat 2,4% menjadi US$ 107,11 per barel.


Kenaikan harga tersebut menunjukkan bahwa setiap eskalasi di sekitar Selat Hormuz berpotensi memberikan dampak langsung terhadap pasar energi global, mengingat pentingnya kawasan tersebut bagi lalu lintas minyak dan gas internasional.


×
Berita Terbaru Update