Pabrikan otomotif asal Jerman, Mercedes-Benz, menghadapi tekanan
cukup berat di tengah persaingan industri otomotif global yang semakin ketat.
Kondisi tersebut membuka kemungkinan perusahaan menutup dua fasilitas
produksinya di dalam negeri.
Mengutip CarsCoops pada Selasa (29/9/2026), langkah tersebut
mengikuti jejak Volkswagen yang juga sedang menghadapi tekanan terhadap
operasional manufakturnya di Jerman.
Kepala Produksi Mercedes-Benz Michael Schiebe mengatakan
perusahaan masih berupaya mempertahankan seluruh fasilitas produksinya di
Jerman. Namun, upaya tersebut bergantung pada kemampuan perusahaan meningkatkan
efisiensi dan menekan biaya.
“Tujuan jelas
perusahaan adalah mempertahankan semua lokasi kami di Jerman,” kata Schiebe
saat berbicara dengan pekerja di pabrik Sindelfingen.
Namun, Schiebe memperingatkan bahwa jika upaya tersebut
tidak tercapai, Mercedes harus menutup satu pabrik perakitan dan satu fasilitas
powertrain di Jerman.
Untuk itu, Mercedes perlu mencapai kesepakatan baru dengan
serikat pekerja IG Metall terkait pengurangan biaya. Perusahaan juga meminta
perubahan kondisi operasional guna meningkatkan produktivitas manufaktur di
Jerman.
Ancaman tersebut langsung mendapat penolakan dari IG Metall.
Serikat pekerja menilai ancaman penutupan pabrik bukan cara untuk menentukan
masa depan perusahaan dan menyatakan siap memberikan perlawanan jika pekerja
ditekan untuk memberikan konsesi.
Mercedes belum mengungkap fasilitas mana yang berpotensi
ditutup. Saat ini, perusahaan mengoperasikan tiga fasilitas perakitan kendaraan
dan tujuh pabrik powertrain di Jerman.
Tekanan terhadap Mercedes tidak hanya berasal dari tingginya
biaya produksi di dalam negeri. Kebangkitan produsen China juga turut mengubah
peta persaingan industri otomotif global.
Merek seperti BYD, Geely, GAC, dan Changan menawarkan
kendaraan dengan harga yang dinilai lebih kompetitif dibandingkan banyak merek
tradisional Eropa.
Dampaknya terlihat di China. Penjualan Mercedes pada kuartal
kedua anjlok 30%, sementara perusahaan mencatat kerugian sekitar US$ 800 juta
di pasar tersebut.
Pada sisi lain, tarif perdagangan turut memperberat tekanan
terhadap perusahaan. Mercedes mencatat kerugian sekitar US$ 1,1 miliar akibat
tarif Amerika Serikat sepanjang 2025.
Kondisi tersebut menunjukkan tantangan yang dihadapi
Mercedes bukan sekadar soal penjualan, tetapi juga kemampuan mempertahankan
struktur produksi di tengah perubahan peta persaingan otomotif dunia.