-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Pabrikan otomotif asal Jerman, Mercedes-Benz, menghadapi tekanan cukup berat di tengah persaingan industri otomotif global yang semakin keta

Rabu, 30 September 2026 | September 30, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-09-29T20:11:58Z

 


Pabrikan otomotif asal Jerman, Mercedes-Benz, menghadapi tekanan cukup berat di tengah persaingan industri otomotif global yang semakin ketat. Kondisi tersebut membuka kemungkinan perusahaan menutup dua fasilitas produksinya di dalam negeri.

 

Mengutip CarsCoops pada Selasa (29/9/2026), langkah tersebut mengikuti jejak Volkswagen yang juga sedang menghadapi tekanan terhadap operasional manufakturnya di Jerman.

 

Kepala Produksi Mercedes-Benz Michael Schiebe mengatakan perusahaan masih berupaya mempertahankan seluruh fasilitas produksinya di Jerman. Namun, upaya tersebut bergantung pada kemampuan perusahaan meningkatkan efisiensi dan menekan biaya.

 

 “Tujuan jelas perusahaan adalah mempertahankan semua lokasi kami di Jerman,” kata Schiebe saat berbicara dengan pekerja di pabrik Sindelfingen.

 

Namun, Schiebe memperingatkan bahwa jika upaya tersebut tidak tercapai, Mercedes harus menutup satu pabrik perakitan dan satu fasilitas powertrain di Jerman.

 

Untuk itu, Mercedes perlu mencapai kesepakatan baru dengan serikat pekerja IG Metall terkait pengurangan biaya. Perusahaan juga meminta perubahan kondisi operasional guna meningkatkan produktivitas manufaktur di Jerman.

 

Ancaman tersebut langsung mendapat penolakan dari IG Metall. Serikat pekerja menilai ancaman penutupan pabrik bukan cara untuk menentukan masa depan perusahaan dan menyatakan siap memberikan perlawanan jika pekerja ditekan untuk memberikan konsesi.

 

Mercedes belum mengungkap fasilitas mana yang berpotensi ditutup. Saat ini, perusahaan mengoperasikan tiga fasilitas perakitan kendaraan dan tujuh pabrik powertrain di Jerman.

 

Tekanan terhadap Mercedes tidak hanya berasal dari tingginya biaya produksi di dalam negeri. Kebangkitan produsen China juga turut mengubah peta persaingan industri otomotif global.

 

Merek seperti BYD, Geely, GAC, dan Changan menawarkan kendaraan dengan harga yang dinilai lebih kompetitif dibandingkan banyak merek tradisional Eropa.

 

Dampaknya terlihat di China. Penjualan Mercedes pada kuartal kedua anjlok 30%, sementara perusahaan mencatat kerugian sekitar US$ 800 juta di pasar tersebut.

 

Pada sisi lain, tarif perdagangan turut memperberat tekanan terhadap perusahaan. Mercedes mencatat kerugian sekitar US$ 1,1 miliar akibat tarif Amerika Serikat sepanjang 2025.

 

Kondisi tersebut menunjukkan tantangan yang dihadapi Mercedes bukan sekadar soal penjualan, tetapi juga kemampuan mempertahankan struktur produksi di tengah perubahan peta persaingan otomotif dunia.

×
Berita Terbaru Update