-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

PT Nindya Karya (Persero) memperkuat sinergi dengan kemitraan melalui strategic partnership forum (SPF) 2026. Forum tersebut menjadi wadah evaluasi kerja sama

Minggu, 13 September 2026 | September 13, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-09-12T18:33:55Z

 


PT Nindya Karya (Persero) memperkuat sinergi dengan kemitraan melalui strategic partnership forum (SPF) 2026. Forum tersebut menjadi wadah evaluasi kerja sama sekaligus menyelaraskan kebutuhan proyek perusahaan dengan para mitra pemasok.

 

Direktur Utama PT Nindya Karya (Persero) Firmansyah mengatakan, mitra bisnis merupakan bagian penting dalam mendukung keberlangsungan operasional dan pencapaian kinerja perusahaan. Karena itu, hubungan kemitraan perlu dibangun melalui kolaborasi yang terbuka, profesional, dan berorientasi pada kinerja.

 “Hubungan dengan mitra merupakan bagian penting dalam ekosistem bisnis Nindya Karya. Karena itu, diperlukan kolaborasi yang kuat, transparan, profesional, dan berorientasi pada kinerja agar setiap proyek dapat berjalan dengan baik dan memberikan hasil terbaik,” ujar Firmansyah kepada wartawan, Sabtu (12/9/2026).

 

Kegiatan yang berlangsung selama dua hari tersebut dihadiri 60 perwakilan mitra bisnis. Forum ini menjadi momentum untuk mempererat komunikasi dan kolaborasi antara jajaran manajemen Nindya Karya dengan para mitra.

 

Diskusi membahas perkembangan proyek, pengalaman dan pembelajaran selama pelaksanaan kerja sama, serta berbagai hal yang perlu diperhatikan dalam menghadapi proyek-proyek mendatang. Aspek rantai nilai dan keuangan turut menjadi pembahasan untuk menjaga efektivitas dan keberlangsungan hubungan kerja sama.

 

Kegiatan dilanjutkan dengan diskusi interaktif mengenai pentingnya proses kerja sama yang semakin terintegrasi, efisien, dan responsif terhadap kebutuhan proyek.

 

Forum tersebut juga membahas pentingnya menjaga mutu, tata kelola, serta kesehatan hubungan bisnis antara Nindya Karya dan para mitra.

 

Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Nindya Karya Sri Haryanto mengatakan, mandor memiliki peran penting sebagai ujung tombak keberhasilan pelaksanaan proyek. Menurutnya, mandor dan mitra kerja merupakan bagian dari ekosistem strategis perusahaan.

 

“Menurut kami, mandor atau mitra kerja hadir sebagai mitra strategis yang bersama-sama dengan PT Nindya Karya (Persero) dengan tujuan yang sama, yaitu menghasilkan pekerjaan terbaik, sehingga perlu untuk menjaga komitmen bersama dalam mengoptimalkan waktu, biaya dan produktivitas,” ucapnya.

 

Melalui SPF 2026, Nindya Karya mendorong hubungan kerja sama yang lebih luas dan berkembang menjadi kemitraan jangka panjang. Perusahaan juga menegaskan komitmennya membangun ekosistem rantai pasok yang kuat, profesional, dan berkelanjutan.

 

Dukung Swasembada Garam Nasional

Selain memperkuat kemitraan bisnis, Nindya Karya dipercaya pemerintah untuk mendukung pengembangan swasembada garam nasional. Salah satunya melalui pembangunan kawasan industri garam yang diharapkan meningkatkan kapasitas produksi garam dalam negeri sekaligus memperkuat ketahanan pangan.

 

Pihaknya terus mempercepat pembangunan infrastruktur kawasan pergaraman terpadu. Infrastruktur tersebut dirancang untuk mendukung peningkatan kapasitas produksi garam dan mengurangi ketergantungan terhadap garam impor.

 

Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan mengatakan, pembangunan K-SIGN diharapkan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Rote Ndao dan Provinsi Nusa Tenggara Timur.

 

"Jika kita ingin mandiri, maka produksi harus diperkuat agar hasilnya dinikmati oleh masyarakat kita sendiri," ujar Zulkifli Hasan, Sabtu (1/8/2026).

 

Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan seluruh pemangku kepentingan menjadi kunci agar proyek tersebut memberikan dampak ekonomi yang berkelanjutan.

 

Bangun Sekolah Rakyat di 20 Lokasi

Nindya Karya juga mendukung program strategis pemerintah melalui pembangunan Sekolah Rakyat. Pembangunan tersebut tersebar di 20 lokasi di empat provinsi sebagai bagian dari upaya pemerintah memperluas akses pendidikan yang berkualitas dan merata.

 

Ke-20 lokasi tersebut berada di Sulawesi Selatan, Sumatera Utara, Jawa Timur, dan Maluku. Kehadiran fasilitas pendidikan itu diharapkan meningkatkan akses pendidikan, termasuk bagi masyarakat di kawasan tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).

 

Sebanyak 20 lokasi pembangunan meliputi Kabupaten Bone, Kabupaten Sinjai, Kota Makassar, Kabupaten Takalar, Kota Medan, Kabupaten Deli Serdang, Kabupaten Serdang Bedagai, Kabupaten Tapanuli Selatan, Kota Padang Sidempuan, Kota Pasuruan, Kabupaten Pasuruan, Kota Kediri, Kabupaten Kediri, Kabupaten Malang, Kota Blitar, Kabupaten Trenggalek, Kabupaten Jember, Kabupaten Banyuwangi, Kota Tual, dan Kabupaten Maluku Tengah.

 

Sekolah Rakyat dibangun sebagai kompleks pendidikan terpadu. Fasilitasnya mencakup gedung sekolah jenjang SD, SMP, dan SMA, rumah susun guru, asrama siswa, kantin, masjid, gedung ibadah, hingga gedung serbaguna.

 

Nindya Karya Garap Dua Bendungan

Nindya Karya juga mendukung program strategis nasional melalui penyelesaian dua bendungan yang diresmikan Presiden Prabowo Subianto. Kedua bendungan tersebut merupakan bagian dari lima bendungan yang diresmikan pemerintah untuk memperkuat ketahanan air, pangan, dan energi nasional.

 

Peresmian lima bendungan dipusatkan di Bendungan Meninting, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat. Selain Bendungan Meninting, Presiden meresmikan Bendungan Jlantah di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, Bendungan Sidan di Kabupaten Gianyar, Bali, Bendungan Keureuto di Kabupaten Aceh Utara, Aceh, serta Bendungan Rukoh di Kabupaten Pidie, Aceh.

 

Dua dari lima bendungan tersebut merupakan proyek yang dikerjakan Nindya Karya, yakni Bendungan Meninting di Nusa Tenggara Barat dan Bendungan Rukoh di Aceh.

 

Bendungan Meninting memiliki kapasitas tampung mencapai 9,91 juta meter kubik. Bendungan ini mampu melayani irigasi seluas 1.559 hektare dan menyediakan air baku sebesar 0,15 meter kubik per detik.

 

Selain itu, Bendungan Meninting diproyeksikan mengurangi risiko banjir di area seluas 59 hektare. Bendungan tersebut juga memiliki potensi pembangkit listrik melalui PLTA berkapasitas 0,80 MW dan PLTS terapung sebesar 9,23 MW.

 

Sementara itu, Bendungan Rukoh di Kabupaten Pidie, Aceh, dibangun untuk memperkuat sistem irigasi dan mendukung produktivitas sektor pertanian di wilayah tersebut.

×
Berita Terbaru Update