-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Sebanyak 22 kabupaten/kota di Jawa Timur (Jatim) telah menetapkan status darurat kekeringan.

Selasa, 01 September 2026 | September 01, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-08-31T18:21:42Z

 

Sebanyak 22 kabupaten/kota di Jawa Timur (Jatim) telah menetapkan status darurat kekeringan. Dari jumlah tersebut, 19 daerah menetapkan status siaga darurat, sedangkan tiga daerah lainnya berstatus tanggap darurat bencana.

 


Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Jawa Timur, Gatot Soebroto, mengatakan kondisi tersebut terjadi saat wilayah Jatim memasuki puncak musim kemarau pada Agustus 2026.

 

"Hingga hari ini sebagaimana informasi BMKG merupakan puncak musim kering. Dari potensi 29 kabupaten/kota di Jawa Timur yang punya daerah rawan kekeringan, sudah ada 22 kabupaten-kota yang membuat Surat Keputusan (SK) Siaga Darurat," ujar Gatot, Senin (31/8/2026).

 

Dari 22 kabupaten/kota yang telah menetapkan status darurat kekeringan, sebanyak 19 daerah berstatus siaga darurat.

 

Daerah tersebut yakni Bondowoso, Lamongan, Banyuwangi, Bangkalan, Blitar, Pasuruan, Trenggalek, Gresik, Malang, Jember, Sampang, Tulungagung, Ngawi, Pacitan, Ponorogo, Jombang, Bojonegoro, Pamekasan, dan Kota Batu.

 

Sementara itu, tiga daerah lainnya telah meningkatkan status menjadi tanggap darurat, yakni Kabupaten Mojokerto, Lumajang, dan Situbondo.

 

Penetapan status tersebut dilakukan pemerintah daerah sebagai dasar untuk mempercepat penanganan dampak kekeringan, terutama di wilayah yang mulai mengalami kesulitan mendapatkan air bersih.

 

Gatot mengatakan dari 22 wilayah yang menetapkan status darurat kekeringan, sebanyak 15 kabupaten/kota telah mengajukan permohonan bantuan distribusi air bersih kepada BPBD Jawa Timur.

 

BPBD Jatim kemudian melakukan pendataan untuk menentukan wilayah yang paling membutuhkan bantuan air bersih.

 

"Dan kita sudah melakukan pendataan, sudah dilakukan dropping air bersih, dan nanti tetap kita menunggu permintaan penduduk dari daerah mana yang sekiranya paling butuh untuk dilakukan dropping air bersih," katanya.

 

Distribusi air bersih dilakukan secara bertahap berdasarkan tingkat kebutuhan dan permintaan dari daerah terdampak. BPBD Jatim juga berkoordinasi dengan pemerintah daerah serta relawan untuk memastikan bantuan dapat menjangkau masyarakat yang mengalami kesulitan mendapatkan pasokan air.

 

Untuk mengantisipasi dampak kekeringan yang meluas, BPBD Jawa Timur telah menyiapkan berbagai kebutuhan penanganan, termasuk ribuan ritase distribusi air bersih. Selain air bersih, bantuan juga mencakup tandon air dan terpal bagi daerah yang membutuhkan.

 

Penyaluran tandon dan distribusi air bersih dilakukan dengan melibatkan berbagai unsur, termasuk relawan di wilayah terdampak.

 

BPBD Jatim memastikan penanganan akan terus disesuaikan dengan perkembangan kondisi di lapangan. Daerah yang membutuhkan bantuan air bersih dapat mengajukan permintaan agar distribusi segera dilakukan sesuai hasil pendataan dan skala prioritas.

 

×
Berita Terbaru Update