-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) memproyeksikan laba konsolidasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) mencapai Rp 360 triliun pada 2026.

Jumat, 09 Oktober 2026 | Oktober 09, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-10-08T19:30:17Z

 Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) memproyeksikan laba konsolidasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) mencapai Rp 360 triliun pada 2026. Target itu optimistis dicapai seiring dengan berlangsungnya transformasi pengelolaan BUMN. 


Hal itu diungkapkan Chief Operating Officer (COO) Danantara sekaligus Kepala Badan Pengaturan (BP) BUMN Dony Oskaria saat menjadi pembicara dalam acara Investor Daily Summit 2026 di Hotel Raffles, Jakarta Selatan, Kamis (8/10/2026).


Dony memaparkan perbaikan portofolio dan fundamental BUMN mulai menunjukkan hasil signifikan terhadap profitabilitas entitas pelat merah.


"Dengan transformasi yang terjadi, kami berharap pada 2026 ini kita akan membukukan keuntungan paling tidak Rp 360 triliun. Dari Rp 360 triliun inilah yang akan menjadi engine of growth kita," ujar Dony dalam paparannya.


Dony mengungkapkan, berdasarkan laporan hasil audit kantor akuntan publik Ernst & Young (EY) yang saat ini tengah diaudit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), realisasi laba konsolidasi BUMN di bawah Danantara mencapai sekitar Rp 326 triliun.


Namun, sebagian keuntungan tersebut dialokasikan untuk pembersihan neraca keuangan, termasuk pencatatan penurunan nilai aset (impairment) dan pembenahan kekeliruan pencatatan buku masa lalu (financial engineering).


"Sebagian besar laba kita pakai untuk melakukan koreksi terhadap buku sebelumnya, sehingga kita membukukan laba sekitar Rp 276 triliun. Itu murni laba BUMN, itu untung kita. Setelah proses pembersihan ini tuntas, kita harapkan pada 2026 laba kita naik menjadi Rp 360 triliun," tegasnya.


Dony menjelaskan, kenaikan profitabilitas didorong langkah pelangsingan portofolio dari 1.074 anak-cucu usaha BUMN menjadi sekitar 200 perusahaan inti. Langkah tersebut dilakukan melalui pemangkasan rantai pasok dan penghapusan inefisiensi yang berhasil menekan kerugian langsung (direct loss) serta memangkas biaya operasional secara masif.



Salah satunya melalui efisiensi sektor hilir Pertamina berupa integrasi antara Patra Niaga, Kilang Pertamina Internasional (KPI), dan unit kilang yang berhasil menyumbang tambahan keuntungan hingga US$ 1 miliar atau sekitar Rp 15 triliun dalam 6 bulan.

Selain itu, perubahan model bisnis PT Pupuk Indonesia dinilai Dony berhasil memangkas harga pokok penjualan (HPP/COGS) sekaligus melipatgandakan margin laba hingga hampir 300%.


Kendati mencatat keuntungan, Dony memastikan laba BUMN tidak akan mengendap begitu saja. Melalui struktur Danantara Investment Management (DIM), dividen dari laba bersih tersebut akan diputar kembali menjadi instrumen investasi produktif dan dapat di-leverage melalui kerja sama dengan sektor swasta maupun skema kerja sama pemerintah dan badan usaha (KPBU).


"Yang kita investasikan adalah dividennya, bukan perusahaannya dijadikan jaminan. Dengan skema ini, dividen Rp 100 triliun bisa memiliki daya ungkit investasi berkali-kali lipat untuk membiayai proyek hilirisasi dan industrialisasi padat karya tanpa membebani fiskal negara," pungkas Dony.


×
Berita Terbaru Update