-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Andi Amran Sulaiman menyatakan stabilitas harga pangan menjadi salah satu kunci pengendalian inflasi. Keseimbangan harga dari tingkat produsen

Minggu, 18 Oktober 2026 | Oktober 18, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-10-17T20:33:46Z

 Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Andi Amran Sulaiman menyatakan stabilitas harga pangan menjadi salah satu kunci pengendalian inflasi. Keseimbangan harga dari tingkat produsen hingga konsumen membuat daya beli masyarakat dan aktivitas ekonomi tetap terjaga.



Amran menyebut inflasi Indonesia pada September 2026 tercatat sebesar 3,28%. Menurut dia, angka tersebut masih terkendali dibandingkan sejumlah negara lain yang menghadapi tekanan inflasi lebih tinggi akibat berbagai faktor ekonomi global.


"Inflasinya negara sahabat kemarin kan baru berkunjung, Arab Mesir, 12 persen inflasinya. Jadi kita bersyukur, Indonesia inflasi kita masih 3,28 persen dan terkendali," kata Amran dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu (17/10/2026).


Ia menjelaskan, pengendalian harga pangan perlu difokuskan pada komoditas strategis, seperti beras, telur, dan daging ayam ras, yang berpengaruh terhadap daya beli masyarakat.


Menurutnya, pemerintah berupaya mengatasi ketidakseimbangan harga di tingkat produsen maupun konsumen melalui penguatan produksi, operasi pasar, dan intervensi distribusi.


Menurut Amran, upaya menjaga inflasi selama dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dilakukan melalui kolaborasi pemerintah pusat dan daerah. Kebijakan tersebut diarahkan untuk menjaga stabilitas ekonomi sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional.


Ia menegaskan, keseimbangan kepentingan petani sebagai produsen dan masyarakat sebagai konsumen perlu dijaga. Surplus komoditas juga harus dikelola dengan baik agar tidak memicu gangguan harga yang merugikan petani maupun pembeli.


Amran menjelaskan, salah satu langkah yang ditempuh pemerintah untuk menjaga harga beras adalah memperluas operasi pasar. Amran telah meminta Perum Bulog menyalurkan beras medium dan premium guna menjaga keseimbangan pasokan serta harga di tingkat konsumen.


"Makanya operasi pasar, karena beras kita banyak. Saya sudah minta Bulog melakukan operasi pasar," ujar Amran.


Berdasarkan laporan Bapanas, stok beras komersial Bulog mencapai 15.880 ton per 14 Oktober 2026. Jumlah tersebut meningkat 120,25% dibandingkan sebulan sebelumnya yang tercatat sekitar 7.210 ton.


Selain beras komersial, stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) dalam bentuk beras kualitas medium di Bulog juga digunakan untuk mendukung stabilisasi harga. Penyalurannya dilakukan dengan harga di bawah harga eceran tertinggi (HET), termasuk melalui program bantuan pangan beras.


Untuk menjaga stabilitas harga hingga akhir tahun, Bapanas menambah penugasan program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) beras kepada Bulog sebanyak 74.180 ton dari sisa anggaran yang tersedia.


Realisasi penyaluran tambahan SPHP sejak awal Oktober hingga 14 Oktober mencapai 52.000 ton atau 70,19% dari target tambahan. Penyaluran tersebut ditujukan untuk mengantisipasi kekosongan beras SPHP di pasaran setelah penugasan sebelumnya sebanyak 828.000 ton selesai direalisasikan pada 23 September 2026.


Pemerintah juga menjalankan program bantuan pangan beras tahap ketiga untuk periode Oktober–Desember 2026. Program tersebut menyasar 33,24 juta penerima dengan kebutuhan CBP diperkirakan mencapai 997.000 ton.


×
Berita Terbaru Update