Salah seorang penumpang KMP Batumandi menyayangkan minimnya penanganan awal saat kebakaran terjadi di kapal penyeberangan tersebut. Penumpang menduga kapal itu minim alat pemadam kebakaran yang tersedia di atas kapal.
Amir Syarifudin, salah seorang penumpang, menjelaskan bahwa jika peralatan keselamatan di atas kapal tersedia secara lengkap, kebakaran yang terjadi seharusnya dapat ditangani lebih awal sehingga tidak sampai separah itu.
Amir menambahkan, jika kapal dilengkapi water cannon, alat tersebut seharusnya dapat digunakan ketika alarm kebakaran berbunyi atau saat terdeteksi titik api. Dengan begitu, api bisa segera dipadamkan atau dihambat agar tidak semakin membesar dan menyebar.
"Kalau ada water canon, ketika ada api kan bisa langsung dipadamkan atau disemprot menggunakan alat tersebut, sehingga apinya tidak semakin membesar atau melebar," kata Amir kepada Beritasatu.com, Rabu (21/10/2026).
Amir menambahkan, api baru ditangani setelah kapal roro lain mendekat dan menyemprotkan air menggunakan water cannon ke KMP Batumandi.
Selain itu, Amir juga menyayangkan minimnya alat pemadam api ringan (APAR) yang tersedia di dalam kapal. Menurutnya, APAR seharusnya ditempatkan di sejumlah titik yang mudah dijangkau agar penanganan awal dapat dilakukan dengan cepat saat terjadi insiden.
"Ada apar yang ukuran 20 kilo, tetapi posisinya berada di dek atas, jadi saat mau dibawa turun, saling berdesakan dan bertabrakan dengan penumpang yang panik dan berlarian ke atas dek kapal," tambah Amir.
Amir juga menduga KMP Batumandi tidak memiliki pompa air yang dapat digunakan untuk penanganan kebakaran. Dugaan tersebut muncul lantaran, saat insiden terjadi, ia tidak melihat adanya alat pemadam atau penyemprot air yang diaktifkan di kapal tersebut.
“Saya berharap perusahaan atau pemilik kapal melengkapi sarana dan prasarana keselamatan bagi penumpang maupun kapal, sehingga dampak insiden serupa dapat diminimalkan dan keselamatan penumpang lebih terjamin,” ucapnya.
