Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkapkan kinerja perbankan sedikit melambat di bulan Juli 2025. Hal itu tercermin dari pertumbuhan kredit sebesar 7,03% yoy pada Juli 2025 dibandingkan pertumbuhan 7,77% yoy pada Juni 2025.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae mengatakan, moderasi pertumbuhan kredit perbankan terjadi seiring ketidakpastian perang dagang dan ketegangan geopolitik pada semester I 2025. Ini termasuk penerapan tarif impor oleh Amerika Serikat (AS), serta konflik di Timur Tengah.
"Kondisi global ini menekan perdagangan global dan memperlambat pertumbuhan ekonomi di berbagai negara, termasuk Indonesia," ujar Dian dalam keterangan tertulis, Minggu (24/8/2025).
Dian menuturkan, hasil revisi Rencana Bisnis Bank Umum (RBB) pada semester I tahun ini menunjukkan adanya penyesuaian target menjadi lebih konservatif. Revisi ini merupakan penyesuaian atas perubahan kondisi makroekonomi dan dinamika global.
Kendati demikian, OJK menilai, kinerja perbankan bulan Juli cukup positif di tengah dinamika perekonomian dan politik global. Pertumbuhan kredit bulan Juli didukung oleh kualitas aset yang tetap baik dengan non performing loan (NPL) terjaga di level 2,28%. Selain itu, Loan at Risk (LaR) menurun menjadi sebesar 9,68%.
Kredit investasi juga terpantau naik 12,42% yoy, didorong sektor ekspor seperti pertambangan, perkebunan, transportasi, industri, dan jasa sosial. Likuiditas juga terjaga dengan DPK tumbuh 7% yoy. Rasio AL/NCD dan AL/DPK masing-masing 119,43% dan 27,08%, jauh di atas ambang batas, mencerminkan permodalan perbankan yang kuat.
Di samping itu, permodalan perbankan juga masih solid dengan CAR yang terjaga tinggi sebesar 25,81% per Juni 2025, menunjukkan kesiapan perbankan dalam menyerap potensi risiko yang muncul ke depannya, terutama di tengah kondisi global yang volatil.
Dian memperkirakan, kinerja perbankan tetap stabil di tengah potensi perlambatan pertumbuhan kredit. Perbankan Indonesia dinilai memiliki daya tahan kuat di tengah perekonomian dan politik global.
"OJK memproyeksikan kinerja perbankan 2025 tetap stabil dengan pertumbuhan kredit yang sedikit termoderasi dari target," ungkapnya.
Lebih lanjut, Dian menjelaskan, optimisme tersebut sejalan dengan langkah bank untuk tetap berhati-hati dalam menyalurkan kredit, khususnya pada segmen berisiko tinggi. Namun, perbankan tetap ekspansif pada sektor-sektor yang berkontribusi besar terhadap perekonomian dan memiliki prospek baik.
Ke depan, perbankan tetap optimis seiring ekspektasi bahwa kondisi makroekonomi domestik akan membaik sehingga akan berdampak positif terhadap kinerja perbankan, serta keyakinan bahwa bank cukup mampu mengelola risiko. Selain itu, penurunan BI rate pada Mei dan Juli 2025 menjadi 5,25% berpotensi meningkatkan permintaan debitur.
Dari sisi penghimpunan dana, DPK diperkirakan tumbuh sejalan dengan upaya bank memperkuat sumber pendanaan untuk mendukung ekspansi kredit dan menjaga likuiditas. Pertumbuhan ini didorong oleh peningkatan dana dari nasabah korporasi, strategi peningkatan dana murah, serta masuknya dana pemerintah pusat ke bank daerah pada triwulan III 2025.