-->

Notification

×

Iklan

Iklan

banner 728x90

Indeks Berita

Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) memastikan ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) di wilayah terdampak bencana di Provinsi Aceh tetap terjaga

Senin, 19 Januari 2026 | Januari 19, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-01-18T21:50:28Z

 


Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) memastikan ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) di wilayah terdampak bencana di Provinsi Aceh tetap terjaga, meskipun akses jalan di sejumlah titik masih mengalami keterbatasan.

Kepala BPH Migas Wahyudi Anas menyampaikan bahwa pihaknya bersama PT Pertamina Patra Niaga terus berupaya menormalisasi distribusi BBM, khususnya di Kabupaten Bener Meriah dan Aceh Tengah, Provinsi Aceh.

“Secara umum, pasokan BBM di provinsi ini dalam kondisi aman. Untuk wilayah terdampak bencana, sebanyak 97% SPBU telah kembali beroperasi,” kata Wahyudi dilansir dari Antara, Minggu (18/1/2026).

Ia menegaskan, meskipun terdapat infrastruktur jalan yang terputus, distribusi BBM tetap diupayakan menjangkau masyarakat hingga ke wilayah terpencil, seperti Desa Uning Mas, Kecamatan Pintu Rime Gayo, Kabupaten Bener Meriah.

“Saat ini Aceh diberikan keringanan pembelian BBM bersubsidi secara manual, tidak menggunakan barcode, agar masyarakat tidak melakukan panic buying, mempermudah aktivitas sehari-hari, sekaligus mendukung pengoperasian genset yang diberikan pemerintah untuk penerangan sementara,” papar Wahyudi.

Berdasarkan hasil pemantauan BPH Migas, kebijakan keringanan pembelian BBM subsidi dan kompensasi tersebut berjalan efektif serta sesuai dengan kebutuhan masyarakat terdampak bencana, sekaligus mendukung proses pemulihan pascabencana.

Wahyudi menambahkan, akses menuju Bener Meriah dan Aceh Tengah yang masih dalam tahap perbaikan menyebabkan kapasitas armada mobil tangki yang dapat melintas di wilayah tersebut terbatas, yakni sekitar 8 kiloliter (kl).

Kondisi ini mendorong penerapan sistem distribusi khusus di lapangan dengan memanfaatkan jerigen atau drum yang disediakan Pertamina. BBM kemudian diangkut menggunakan kendaraan double cabin 4x4 untuk menjangkau desa-desa yang terisolasi.

Sebagai penopang pasokan, suplai BBM dari Integrated Terminal Lhokseumawe juga disiapkan melalui hub distribusi di Blang Rakal.

“Kami telah meninjau langsung lokasi hub suplai atau fuel terminal bayangan di Blang Rakal, Bener Meriah. BBM dari Integrated Terminal Lhokseumawe diangkut menggunakan truk tangki berkapasitas 16 kl, kemudian dipindahkan ke truk yang lebih kecil berkapasitas 8 kl," katanya.

"Selanjutnya, penyaluran dilakukan secara estafet ke lokasi terdampak menggunakan jerigen atau drum. Ini merupakan bukti kehadiran negara di daerah bencana,” tambah Wahyudi.

Lebih lanjut, ia mengungkapkan kebutuhan Biosolar di Aceh sepanjang 2025, termasuk untuk penanganan bencana alam, mencapai 428.324 kl. Sementara itu, realisasi penyaluran Pertalite, termasuk untuk kebutuhan kebencanaan, tercatat sebesar 576.147 kl.


×
Berita Terbaru Update