Gempa tektonik bermagnitudo (M) 7,1 yang mengguncang
Melonguane, Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara (Sulut), Sabtu (10/1/2026) malam,
dipicu oleh aktivitas deformasi batuan. Analisis geologi menunjukkan pergerakan
batuan terjadi di dalam Lempeng Maluku pada kedalaman dangkal.
Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG Daryono menjelaskan,
berdasarkan lokasi episentrumnya dan kedalamannya, guncangan ini merupakan
jenis gempa bumi dangkal. Analisis mekanisme sumber menunjukkan adanya
pergerakan batuan dengan kombinasi mendatar dan turun atau oblique normal.
Gempa M 7,1 Talaud Terasa hingga Ternate dan Warga Diminta
Waspada
"Hasil analisis menunjukkan gempa ini akibat adanya
aktivitas deformasi batuan dalam Lempeng Maluku," ujar Daryono dalam
keterangan tertulisnya, Sabtu (10/1/2026) malam.
Hingga pukul 22.20 WIB, sistem monitoring BMKG mencatat satu
kali aktivitas gempa susulan (aftershock). Gempa susulan tersebut berkekuatan
magnitudo 4,6 yang secara signifikan lebih kecil daripada guncangan utama.
Mekanisme pergerakan oblique normal pada kedalaman 17
kilometer ini dipastikan tidak memicu perubahan vertikal dasar laut secara
masif. Oleh karena itu, BMKG menyatakan gempa tersebut tidak berpotensi
menimbulkan tsunami di wilayah pesisir sekitarnya.
Masyarakat diimbau tetap waspada, namun jangan terpengaruh
oleh isu yang tidak bertanggung jawab mengenai kenaikan air laut.