-->

Notification

×

Iklan

Iklan

banner 728x90

Indeks Berita

Jumlah korban tewas dalam gelombang protes nasional di Iran dilaporkan telah melampaui 3.000 orang

Minggu, 18 Januari 2026 | Januari 18, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-01-17T21:05:52Z

  

Jumlah korban tewas dalam gelombang protes nasional di Iran dilaporkan telah melampaui 3.000 orang. Informasi tersebut disampaikan kelompok pemantau hak asasi manusia pada Sabtu (17/1/2026), di tengah tanda-tanda meredanya aksi unjuk rasa setelah penindakan keras aparat keamanan.

 


Melansir CNBC, kelompok HAM berbasis di Amerika Serikat, Human Rights Activists News Agency (HRANA), menyebut telah memverifikasi sedikitnya 3.090 kematian. Dari jumlah tersebut, sebanyak 2.885 korban merupakan demonstran yang terlibat dalam aksi protes.

Sejumlah warga yang dihubungi Reuters menyatakan kondisi di ibu kota Tehran relatif tenang dalam empat hari terakhir. Meski drone masih terlihat berpatroli di udara, tidak tampak adanya aksi unjuk rasa besar pada Kamis dan Jumat. Situasi serupa juga dilaporkan terjadi di beberapa kota lain, termasuk wilayah utara Iran di pesisir Laut Kaspia.

Protes di Iran pecah sejak 28 Desember 2025 akibat tekanan ekonomi yang memburuk, sebelum berkembang menjadi demonstrasi besar-besaran yang menuntut diakhirinya pemerintahan ulama di Republik Islam Iran. Aksi tersebut memuncak dengan kekerasan luas pada akhir pekan lalu.

Menurut kelompok oposisi dan seorang pejabat Iran, jumlah korban jiwa dalam kerusuhan kali ini menjadikannya sebagai salah satu gelombang kerusuhan domestik paling mematikan sejak Revolusi Islam Iran pada 1979.

Di tengah situasi tersebut, kelompok pemantau internet NetBlocks melaporkan adanya kenaikan sangat tipis aktivitas internet di Iran setelah pemadaman selama sekitar delapan hari atau lebih dari 200 jam. Namun, tingkat konektivitas masih berada di kisaran 2% dari kondisi normal.

Beberapa warga Iran di luar negeri mengaku mulai bisa berkomunikasi secara terbatas dengan keluarga atau kerabat mereka di dalam negeri sejak Sabtu pagi.

Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa otoritas Iran telah membatalkan rencana eksekusi massal terhadap ratusan demonstran. Trump sebelumnya mengancam akan mengambil tindakan sangat keras jika Iran tetap melaksanakan hukuman mati tersebut. “Saya sangat menghormati fakta bahwa semua eksekusi yang dijadwalkan, yang kabarnya mencapai lebih dari 800 orang, telah dibatalkan oleh pimpinan Iran,” tulis Trump di media sosial.

Namun, pemerintah Iran tidak pernah secara resmi mengumumkan rencana eksekusi tersebut maupun info pembatalan.

                                                                                                                                                                                       

×
Berita Terbaru Update