Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Marco Rubio
menyatakan pemerintahan AS di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump siap
mengambil tindakan militer baru terhadap Venezuela. Langkah ini akan diambil
jika kepemimpinan sementara negara itu menyimpang dari harapan AS.
Dalam kesaksian yang telah disiapkan untuk sidang di hadapan
Komite Hubungan Luar Negeri Senat, Rubio mengatakan AS tidak sedang berperang
dengan Venezuela, namun para pemimpin sementara negara itu tengah bekerja sama.
Meski demikian, pemerintahan Trump tidak akan
mengesampingkan pilihan untuk penggunaan kekuatan keras seperti pengerahan
militer tambahan jika diperlukan setelah serangan untuk menangkap mantan Presiden
Nicolás Maduro pada awal Januari 2026.
“Kami siap menggunakan kekuatan untuk memastikan kerja sama
maksimal jika metode lain gagal. Kami berharap opsi itu tidak akan diperlukan,
tetapi kami tidak akan pernah menghindar dari tugas kami kepada rakyat Amerika
dan misi kami di dunia ini,” ungkap Rubio, dalam keterangan resmi yang dirilis
oleh Departemen Luar Negeri AS, dilansir dari AP, Rabu (28/1/2026).
Dalam sidang yang berfokus pada Venezuela, Rubio membela
keputusan Trump untuk mencopot Nicolas
Maduro dari jabatannya untuk menghadapi tuduhan perdagangan narkoba di AS,
melanjutkan serangan militer terhadap kapal-kapal yang dicurigai menyelundupkan
narkoba, dan menyita kapal tanker minyak Venezuela yang dikenai sanksi.
Dia juga menolak tuduhan yang menyebut orang nomor di AS itu
telah melanggar konstitusi dengan melancarkan aksinya terhadap Venezuela
tersebut.
“Tidak ada perang melawan Venezuela, dan kami tidak
menduduki negara itu. Tidak ada pasukan AS di lapangan. Ini adalah operasi
untuk membantu penegakan hukum,” tutup Rubio.