Motorola siap meluncurkan perangkat terbarunya, Razr Fold, yang menandai langkah berani mereka memasuki kategori ponsel lipat gaya buku (book-style) jelang perhelatan CES 2026 di Las Vegas, Amerika Serikat. Langkah ini menantang dominasi Samsung, yang selama ini memimpin pasar foldable premium dengan lini Galaxy Z Fold.
Ponsel lipat ini diklaim membawa fitur canggih, integrasi
AI, dan fokus pada produktivitas. Hadinya ponsel buatan Motorola ini diyakini
sangat strategis mengingat pertumbuhan pasar ponsel lipat yang signifikan.
Dikutip Webpronews, Selasa (6/1/2025), analis industri memproyeksikan pengiriman ponsel lipat akan meningkat sebesar 38 persen pada tahun 2026. Motorola, yang sebelumnya sukses dengan model clamshell atau lipat vertikal ikonik Razr, kini beralih ke format lipat horizontal yang terbuka seperti buku catatan, menawarkan pengalaman layar dalam yang luas dan berorientasi pada multitasking.
Berbeda dengan model Razr sebelumnya yang mengandalkan daya
tarik nostalgia, Razr Fold diposisikan sebagai perangkat yang berfokus pada
produktivitas dan konsumsi media. Bocoran yang muncul menggarisbawahi bahwa
perangkat ini terinspirasi dari paten yang diajukan Motorola, menunjukkan
desain yang menekankan fungsi multitasking untuk membedakannya dari pesaing
seperti Galaxy Z Fold milik Samsung.
Layar luar Razr Fold dikabarkan akan jauh lebih fungsional
dibandingkan model Razr lama, memungkinkan pengguna berinteraksi cepat tanpa perlu
membuka ponsel sepenuhnya. Ketika dibentangkan, perangkat ini menawarkan
pengalaman menyerupai tablet, menarik bagi pengguna yang menginginkan efisiensi
dalam paket yang ringkas.
“Aspek penting lainnya adalah kualitas pembuatan, di mana
Razr Fold diperkirakan memiliki engsel yang lebih tahan lama serta profil yang
lebih ramping dibandingkan beberapa foldable gaya buku lain,” analisa
Webpronews.
Laporan awal mengindikasikan bahwa Razr Fold akan dilengkapi
dengan spesifikasi kelas premium yang disesuaikan untuk kebutuhan konsumen dan
profesional. Layar utama disebut-sebut memiliki resolusi tinggi dengan refresh
rate tinggi untuk menghadirkan performa yang mulus. Sistem kamera juga
dikabarkan mengalami peningkatan signifikan, berpotensi menyaingi flagship
non-lipat, dengan dukungan kecerdasan buatan untuk fotografi dan videografi.Motorola
juga disebut akan memperkuat perangkat ini dengan integrasi AI, termasuk
penggunaan Google Gemini AI yang telah terlihat pada model Razr+ terbaru.
Integrasi tersebut diharapkan mencakup asisten cerdas untuk meringkas
informasi, pembuatan konten kreatif, serta fitur produktivitas yang dirancang
khusus untuk pengalaman layar ganda. Daya tahan baterai, yang kerap menjadi
perhatian utama pada ponsel lipat, diyakini akan ditingkatkan melalui
penggunaan chipset yang lebih efisien dan optimasi perangkat lunak.
Langkah ini membawa implikasi strategis besar bagi Motorola.
Dengan memanfaatkan warisan merek Razr yang telah diakui secara luas,
perusahaan berupaya memadukan nostalgia dengan teknologi mutakhir. Keahlian
perusahaan induknya, Lenovo, khususnya dari divisi laptop, diharapkan
menghadirkan sinergi tambahan, terutama dalam aspek produktivitas dan integrasi
lintas perangkat.
Harga menjadi faktor penentu utama di pasar foldable yang
sangat kompetitif. Meski ponsel lipat gaya buku umumnya dibanderol mahal,
sejumlah bocoran mengisyaratkan bahwa Razr Fold kemungkinan akan dipasarkan
dengan harga yang lebih rendah dibandingkan pesaing utamanya. Strategi harga
yang agresif ini berpotensi menjadikannya pilihan menarik bagi konsumen yang
menginginkan inovasi ponsel lipat dengan biaya lebih terjangkau.
Menjelang CES 2026, spekulasi pun semakin menguat bahwa Motorola
akan melakukan pratinjau atau pengumuman resmi Razr Fold di ajang tersebut.
Antisipasi di kalangan komunitas teknologi terbilang tinggi, meskipun tetap
disertai skeptisisme mengenai kemampuan Motorola dalam menandingi ekosistem dan
integrasi perangkat lunak yang telah lama dibangun Samsung.
Keberhasilan Razr Fold nantinya akan sangat bergantung pada
kualitas eksekusi, terutama dalam mengatasi tantangan umum ponsel lipat seperti
keandalan engsel dan visibilitas lipatan layar. Jika Motorola mampu memenuhi
ekspektasi yang beredar, peluncuran ini berpotensi tidak hanya merevitalisasi
merek mereka, tetapi juga memperkuat posisi Motorola sebagai inovator yang
berani menantang status quo di pasar smartphone premium.