-->

Notification

×

Iklan

Iklan

banner 728x90

Indeks Berita

Pemerintah menyatakan kelanjutan kebijakan insentif di sektor otomotif pada 2026 masih dalam tahap evaluasi menyeluruh. Pemerintah mempertimbangkan besarnya dukungan fiskal

Kamis, 15 Januari 2026 | Januari 15, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-01-14T20:08:08Z

 


Pemerintah menyatakan kelanjutan kebijakan insentif di sektor otomotif pada 2026 masih dalam tahap evaluasi menyeluruh. Pemerintah mempertimbangkan besarnya dukungan fiskal yang telah digelontorkan dalam beberapa tahun terakhir serta perkembangan investasi industri kendaraan bermotor.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, dalam dua tahun terakhir pemerintah telah menyalurkan insentif otomotif dengan nilai mencapai Rp 7 triliun.

Pada saat yang sama, investasi di sektor otomotif, khususnya kendaraan listrik menunjukkan tren peningkatan yang cukup signifikan.

 “Otomotif silakan di-review. Karena otomotif sudah kita berikan insentif selama dua tahun terakhir dan nilainya Rp 7 triliun dan investasi di sektor otomotif terutama EV sudah meningkat,” ujar Airlangga saat menghadiri Indonesian Business Council (IBC) Business Outlook 2026 di Jakarta, Rabu (14/1/2026).

Ia menambahkan, masuknya sejumlah produsen kendaraan listrik global ke Indonesia turut memperkuat alasan perlunya peninjauan ulang kebijakan insentif. Beberapa merek seperti VinFast dan BYD mulai menanamkan investasi, mengikuti langkah Hyundai yang lebih dahulu hadir di Tanah Air.

Dengan perkembangan tersebut, pemerintah ingin memastikan arah kebijakan ke depan tidak sekadar memperpanjang insentif yang sudah ada, tetapi benar-benar mendorong penguatan industri otomotif nasional secara berkelanjutan.

“Sehingga ke depannya ini akan didorong untuk (pengembangan) mobil nasional,” tambah Airlangga.

Terkait usulan lanjutan dari Kementerian Perindustrian, Airlangga menyebut pembahasan saat ini masih berfokus pada kajian yang lebih fundamental.

Evaluasi dilakukan secara lintas segmen, mulai dari kendaraan ramah lingkungan berbiaya rendah (low cost green car/LCGC) hingga kendaraan listrik dan teknologi hibrida.

“Karena yang lebih substantial kan berarti harus mulai dari evaluasi dari LCGC sampai kepada EV, plug-in hybrid, hybrid. Jadi sifatnya lebih menyeluruh,” pungkasnya.

×
Berita Terbaru Update