Presiden Kolombia Gustavo Petro mengungkapkan harapannya
agar dialog dengan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dapat
menghentikan perang dunia. Pernyataan itu disampaikannya dalam wawancara dengan
CBS News, dikutip Minggu (11/1/2026).
Ini merupakan wawancara pertama Petro dengan media Amerika
Serikat setelah melakukan percakapan perdananya dengan Presiden Trump. Petro,
yang dikenal sebagai presiden Kolombia berhaluan kiri, mengaku senang mendapat
undangan untuk bertemu langsung di Gedung Putih pada awal Februari 2026.
Menurut Petro, komunikasi yang berkelanjutan dengan Trump
sangat penting di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik, terutama setelah
Amerika Serikat melancarkan serangan ke Venezuela dan menangkap presiden negara
tersebut. Ia menegaskan, apabila Amerika Serikat sampai menyerang Kolombia,
dampaknya akan sangat serius.
“Itu tanpa ragu akan
menyebabkan perang saudara, dan juga permusuhan terhadap Amerika Serikat yang
sebenarnya tidak pantas diterima Amerika Serikat. Itu akan menjadi kebijakan
yang bodoh," ungkapnya.
Dalam wawancara bersama koresponden CBS News, Lilia Luciano,
Petro menjelaskan Presiden Trump memberinya kesempatan untuk menyampaikan dua
poin utama dalam percakapan mereka.
Poin pertama berkaitan dengan keberhasilan Kolombia dalam
memerangi perdagangan narkoba. Petro menilai capaian tersebut kerap diabaikan
oleh narasi yang berkembang di Amerika Serikat.
“Keberhasilan kami dalam memerangi perdagangan narkoba di
Kolombia bertentangan dengan narasi yang mereka bangun di Amerika Serikat. Saya
menyebutnya kecemburuan politik [atas keberhasilan kami melawan] perdagangan
narkoba Kolombia, dan mereka tidak," ujarnya.
Ia bahkan menyebut Amerika Serikat tidak sepenuhnya memahami
capaian tersebut.
Selain isu narkoba, Petro juga mengangkat persoalan Venezuela
atas inisiatifnya sendiri.
Petro juga mengungkapkan kesan pribadinya terhadap
percakapan dengan Trump. Dari total 55 menit diskusi, Trump disebut memberi
Petro waktu bicara selama 40 menit.
“Ia berkata kepada saya, 'mereka telah mengatakan kebohongan
tentang Anda sebanyak yang mereka katakan tentang saya'," ujarnya.
Ketika ditanya apakah ia pernah merasa takut Trump akan
bertindak terhadap dirinya, Petro menjawab dengan nada serius, terutama melihat
situasi militer di kawasan.
“Lihat, yang paling saya takuti, dan saya tidak akan
mengatakan bahwa saya tidak takut ketika melihat helikopter terbang dan rudal
[di Venezuela], sementara kami bahkan tidak memiliki sistem pertahanan
udara," ujarnya.
Luciano kemudian menanyakan tujuan utama Petro datang ke
Gedung Putih, apakah untuk menghentikan konflik di Amerika Latin. Jawaban Petro
singkat dan tegas. “Untuk menghentikan perang dunia," ujarnya.