Tim SAR Gabungan secara resmi menghentikan operasi pencarian
korban kecelakaan laut KM Putri Sakinah yang tenggelam pada 26 Desember 2025.
Penutupan pencarian terhadap satu warga negara Spanyol tersebut dilakukan
melalui upacara resmi yang dipimpin Bupati Manggarai Barat, Edi Stasius Endi,
di Pelabuhan Marina Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur, Jumat (9/1/2026), pukul
15.00 Wita.
Menanggapi penutupan operasi SAR tersebut, pegiat pariwisata
Labuan Bajo, Mateus Siagian, mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk
bersama-sama memulihkan kepercayaan publik terhadap pariwisata Labuan Bajo,
sekaligus menjadikan tragedi ini sebagai momentum pembenahan menyeluruh.
Mateus terlebih dahulu menyampaikan belasungkawa mendalam
kepada keluarga korban. Ia menegaskan, duka yang dirasakan bukan hanya milik
keluarga, tetapi juga masyarakat Labuan Bajo secara keseluruhan.
“Kehilangan orang
tercinta dalam peristiwa seperti ini meninggalkan luka yang sangat dalam. Rasa
duka itu juga kami rasakan sebagai sesama manusia,” ujarnya.
Ia juga memberikan apresiasi kepada seluruh pihak yang
terlibat sejak hari pertama pencarian, mulai dari Basarnas, TNI, Polri,
Pemerintah Daerah Manggarai Barat, nelayan, masyarakat sekitar, hingga insan
media.
“Semua telah mencurahkan tenaga, waktu, dan empati, tidak
hanya untuk menemukan korban, tetapi juga untuk menguatkan keluarga yang
ditinggalkan,” kata Mateus
Setelah lebih dari dua pekan, kawasan Taman Nasional Komodo
kembali dibuka dan pencarian korban dinyatakan selesai. Meski demikian, Mateus
berharap keajaiban tetap menyertai setiap orang yang melintas di perairan
tersebut.
“Kini harapan hanya bisa kita serahkan kepada Tuhan. Semoga
siapa pun yang beraktivitas di perairan Taman Nasional Komodo selalu diberi
mata dan hati yang peka, barangkali keajaiban itu masih ada,” tuturnya.
Ia menilai peristiwa ini meninggalkan dampak emosional yang
kuat bagi masyarakat. Menurutnya, simpati warga Labuan Bajo mengalir tanpa
henti dan mencerminkan kuatnya rasa kemanusiaan.
“Labuan Bajo bukan sekadar destinasi wisata. Ia adalah
komunitas yang memiliki empati dan kepedulian,” ujarnya.
Namun, di balik duka, Mateus menegaskan adanya tanggung
jawab moral untuk memastikan keselamatan wisatawan di masa depan.
“Ribuan bahkan
ratusan ribu orang mempercayakan keselamatan mereka saat berwisata ke Labuan
Bajo. Ini bukan hanya soal citra atau ekonomi, tetapi soal tanggung jawab moral
agar tragedi serupa tidak terulang,” tegasnya.
Bahkan dirinya berharap Pemerintah Daerah Manggarai Barat
melakukan evaluasi menyeluruh terhadap insiden tersebut, mulai dari proses
keberangkatan kapal hingga penyebab tenggelamnya.
“Semua harus dikaji secara detail. Jika diperlukan, buat
aturan baru yang lebih tegas dan berpihak pada keselamatan, tidak hanya untuk
wisata laut, tetapi juga wisata darat, air terjun, dan kawasan hutan,” katanya.
Mateus juga mengajak seluruh pihak memanfaatkan momentum
awal 2026 sebagai titik kebangkitan pariwisata Labuan Bajo.
“Mari kita bangun
kembali citra positif Labuan Bajo dengan fondasi utama keamanan dan
keselamatan,” ucapnya.
Ia menekankan pentingnya peningkatan standar keselamatan,
termasuk penghentian praktik-praktik tidak bertanggung jawab seperti
pelanggaran prosedur dan penggantian kapal yang tidak sesuai aturan.
“Inspeksi kapal harus dilakukan secara serius, tanpa
kompromi. Awak kapal perlu pelatihan keselamatan yang memadai. Gunakan momen
duka ini untuk berbenah dengan jujur dan terbuka,” ujarnya.
Menurut Mateus, Labuan Bajo layak menyandang predikat
destinasi super premium, bukan hanya karena keindahan alamnya, tetapi juga
karena komitmen melindungi setiap nyawa yang berkunjung.
Sementara itu, Bupati Manggarai Barat Edi Stasius Endi menyampaikan apresiasi kepada Tim SAR Gabungan atas kerja keras selama proses pencarian.
“Pencarian korban bukanlah tugas yang mudah karena harus
menghadapi arus dan gelombang di perairan Labuan Bajo. Namun Tim SAR Gabungan
berhasil menemukan tiga dari empat korban. Atas nama pribadi dan pemerintah
daerah, saya turut berduka cita sedalam-dalamnya kepada keluarga korban,”
ungkapnya.