Global Markets Economist Maybank Indonesia Myrdal Gunarto
memperkirakan nilai tukar rupiah mulai masuk fase penguatan pada Agustus hingga
akhir tahun ini jika tekanan global mereda dan ekonomi domestik berjalan sesuai
desain pemerintah.
Jika pertumbuhan ekonomi terealisasi sesuai desain
pemerintah, ia menilai rupiah pada akhir tahun berpeluang menguat mendekati
asumsi APBN di kisaran Rp16.500 per dolar AS, terutama apabila aliran investasi
langsung (FDI) dan dana asing ke pasar keuangan meningkat seiring prospek
ekonomi yang positif serta minimnya tekanan di pasar saham.
“Jadi itu yang kita harapkan bisa membawa rupiah menguat
pada akhir tahun,” kata Myrdal, Jumat.
Ia mencatat bahwa saat ini rupiah berada dalam kondisi
undervalued. Neraca dagang tetap surplus dan arus dana di pasar surat utang
negara masih mencatatkan net inflow, namun pasar saham mengalami outflow.
Menurutnya, secara fundamental surplus eksternal tersebut
seharusnya mampu mengimbangi arus keluar dana di pasar saham sehingga rupiah
masih memiliki ruang untuk menguat.
Namun, ia menyoroti adanya mismatch antara permintaan dan
pasokan dolar di dalam negeri. Meski likuiditas valas dinilai memadai,
realisasi pasokan disebut belum optimal.
“Ini dugaan kami, banyak eksportir terutama eksportir dari
sumber daya alam nonmigas itu cenderung tidak all out untuk melakukan konversi
dolar ke rupiah. Ini perkiraan saja. Karena kalau kita lihat dari sisi
likuiditas valasnya sebenarnya positif,” kata Myrdal.
Ia juga memperkirakan, permintaan valas domestik meningkat
pada periode Maret hingga Juli untuk kebutuhan pembayaran dividen investor
asing serta impor yang naik seiring pertumbuhan ekonomi. Jika pasokan dolar
tetap tersendat, rupiah berpotensi bergerak dinamis pada April hingga Juli.
Dihubungi terpisah, Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan
Institute for Development of Economics and Finance (Indef) M Rizal
Taufikurahman mencatat bahwa pelemahan rupiah saat ini lebih banyak dipicu
faktor eksternal daripada penurunan fundamental domestik.
“Inflasi masih terkendali, pertumbuhan ekonomi bertahan di
sekitar 5 persen, dan imbal hasil riil aset rupiah relatif menarik, sehingga
secara valuasi rupiah cenderung undervalued. Tekanan utama datang dari kuatnya
dolar AS akibat suku bunga global tinggi, arus modal ke aset aman, serta
kenaikan premi risiko negara berkembang,” kata Rizal.
Ia memandang, peluang penguatan tetap ada meski tidak
instan. Secara realistis, menurutnya, nilai yang lebih mendekati fundamental
berada di kisaran Rp15.200-15.800 per dolar AS, sementara level di atasnya
lebih mencerminkan dominasi sentimen global dan overshooting siklus keuangan,
bukan perubahan struktur ekonomi.
Implikasinya, imbuh Rizal, koreksi rupiah sangat bergantung
pada normalisasi eksternal khususnya penurunan suku bunga global dan
stabilisasi yield US Treasury yang akan membuka kembali arus modal ke Surat
Berharga Negara (SBN).
Ia mengingatkan bahwa dari sisi domestik, kredibilitas
kebijakan fiskal, pengendalian inflasi oleh Bank Indonesia (BI), serta
perbaikan transaksi berjalan melalui peningkatan ekspor bernilai tambah menjadi
penentu.
Bagi dunia usaha, rupiah yang melemah memang menguntungkan
eksportir dan sektor komoditas, tetapi menaikkan biaya impor bahan baku,
energi, dan kewajiban utang valas sehingga menekan margin manufaktur.
“Dengan demikian, isu utama bukan sekadar kuat-lemahnya
kurs, melainkan stabilitas dan prediktabilitasnya, karena volatilitas tinggi
meningkatkan biaya lindung nilai dan menunda keputusan investasi,” kata Rizal.