-->

Notification

×

Iklan

Iklan

banner 728x90

Indeks Berita

Global Markets Economist Maybank Indonesia Myrdal Gunarto memperkirakan nilai tukar rupiah mulai masuk fase penguatan pada Agustus hingga akhir tahun

Sabtu, 21 Februari 2026 | Februari 21, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-02-20T19:43:19Z

 

Global Markets Economist Maybank Indonesia Myrdal Gunarto memperkirakan nilai tukar rupiah mulai masuk fase penguatan pada Agustus hingga akhir tahun ini jika tekanan global mereda dan ekonomi domestik berjalan sesuai desain pemerintah.

 


Jika pertumbuhan ekonomi terealisasi sesuai desain pemerintah, ia menilai rupiah pada akhir tahun berpeluang menguat mendekati asumsi APBN di kisaran Rp16.500 per dolar AS, terutama apabila aliran investasi langsung (FDI) dan dana asing ke pasar keuangan meningkat seiring prospek ekonomi yang positif serta minimnya tekanan di pasar saham.

“Jadi itu yang kita harapkan bisa membawa rupiah menguat pada akhir tahun,” kata Myrdal, Jumat.

Ia mencatat bahwa saat ini rupiah berada dalam kondisi undervalued. Neraca dagang tetap surplus dan arus dana di pasar surat utang negara masih mencatatkan net inflow, namun pasar saham mengalami outflow.

Menurutnya, secara fundamental surplus eksternal tersebut seharusnya mampu mengimbangi arus keluar dana di pasar saham sehingga rupiah masih memiliki ruang untuk menguat.

Namun, ia menyoroti adanya mismatch antara permintaan dan pasokan dolar di dalam negeri. Meski likuiditas valas dinilai memadai, realisasi pasokan disebut belum optimal.

“Ini dugaan kami, banyak eksportir terutama eksportir dari sumber daya alam nonmigas itu cenderung tidak all out untuk melakukan konversi dolar ke rupiah. Ini perkiraan saja. Karena kalau kita lihat dari sisi likuiditas valasnya sebenarnya positif,” kata Myrdal.

Ia juga memperkirakan, permintaan valas domestik meningkat pada periode Maret hingga Juli untuk kebutuhan pembayaran dividen investor asing serta impor yang naik seiring pertumbuhan ekonomi. Jika pasokan dolar tetap tersendat, rupiah berpotensi bergerak dinamis pada April hingga Juli.

Dihubungi terpisah, Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef) M Rizal Taufikurahman mencatat bahwa pelemahan rupiah saat ini lebih banyak dipicu faktor eksternal daripada penurunan fundamental domestik.

“Inflasi masih terkendali, pertumbuhan ekonomi bertahan di sekitar 5 persen, dan imbal hasil riil aset rupiah relatif menarik, sehingga secara valuasi rupiah cenderung undervalued. Tekanan utama datang dari kuatnya dolar AS akibat suku bunga global tinggi, arus modal ke aset aman, serta kenaikan premi risiko negara berkembang,” kata Rizal.

Ia memandang, peluang penguatan tetap ada meski tidak instan. Secara realistis, menurutnya, nilai yang lebih mendekati fundamental berada di kisaran Rp15.200-15.800 per dolar AS, sementara level di atasnya lebih mencerminkan dominasi sentimen global dan overshooting siklus keuangan, bukan perubahan struktur ekonomi.

Implikasinya, imbuh Rizal, koreksi rupiah sangat bergantung pada normalisasi eksternal khususnya penurunan suku bunga global dan stabilisasi yield US Treasury yang akan membuka kembali arus modal ke Surat Berharga Negara (SBN).

 

Ia mengingatkan bahwa dari sisi domestik, kredibilitas kebijakan fiskal, pengendalian inflasi oleh Bank Indonesia (BI), serta perbaikan transaksi berjalan melalui peningkatan ekspor bernilai tambah menjadi penentu.

Bagi dunia usaha, rupiah yang melemah memang menguntungkan eksportir dan sektor komoditas, tetapi menaikkan biaya impor bahan baku, energi, dan kewajiban utang valas sehingga menekan margin manufaktur.

“Dengan demikian, isu utama bukan sekadar kuat-lemahnya kurs, melainkan stabilitas dan prediktabilitasnya, karena volatilitas tinggi meningkatkan biaya lindung nilai dan menunda keputusan investasi,” kata Rizal.

×
Berita Terbaru Update