Iran tengah mengupayakan usulan perjanjian yang akan
menjamin hak untuk penggunaan nuklir secara damai tanpa senjata nuklir, kata
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dalam sebuah wawancara dengan stasiun
televisi RT, yang diterbitkan pada Rabu.
"Saya telah menginstruksikan tim saya untuk mengerjakan
rencana atau proposal yang dapat dilaksanakan, yang dapat menjamin tidak akan
ada senjata nuklir, sekaligus menjamin hak Iran untuk menggunakan teknologi
nuklir secara damai untuk pembangkit listrik, produksi obat-obatan, dan
pertanian," katanya.
Menteri tersebut juga menyatakan bahwa Iran masih belum
sepenuhnya mempercayai Amerika Serikat setelah serangan yang terjadi selama
negosiasi pada 2025 dan ingin memastikan insiden serupa tidak terulang.
Menanggapi pertanyaan tentang apakah Iran bersedia
meminimalkan atau mengurangi potensi rudal balistiknya, Araghchi mengatakan
bahwa otoritas Iran "hanya bernegosiasi tentang program nuklir kami dengan
AS." Isu rudal balistik tidak sedang dibahas, imbuhnya.
Menteri tersebut juga menambahkan bahwa Iran tidak memiliki
masalah dengan rakyat AS, tetapi memiliki masalah dengan kebijakan
pemerintahnya, yang "bermusuhan" terhadap Republik Islam.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio pekan lalu menyatakan
bahwa keberhasilan negosiasi dengan Iran bergantung pada keputusan terkait
jangkauan rudal balistik, program nuklir, dan hal-hal lainnya.
Pada 6 Februari, pembicaraan antara delegasi AS dan Iran
mengenai program nuklir Iran diadakan di ibu kota Oman, Muscat.
Presiden AS Donald Trump mengatakan pembicaraan berjalan
lancar dan akan berlanjut selama minggu ini.
Pada saat yang sama, Araghchi mengatakan pada Minggu bahwa
Teheran mempertahankan haknya untuk memperkaya uranium, bahkan jika hal
tersebut menyebabkan perang.