Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for
Development of Economics and Finance (Indef) M Rizal Taufikurahman menyatakan
kredit perbankan berpotensi untuk tumbuh sesuai dengan target Bank Indonesia
(BI), meskipun cenderung berkisar di batas bawah.
“Secara prospek, pertumbuhan kredit masih berpeluang berada
dalam kisaran target Bank Indonesia di level 8-12 persen, tetapi dengan
kecenderungan berada di batas bawah,” kata M Rizal Taufikurahman, Senin.
Ia menyampaikan momentum musiman selama Ramadan dan Lebaran,
akselerasi belanja pemerintah, serta dukungan kebijakan likuiditas
makroprudensial diharapkan dapat memberi dorongan jangka pendek bagi
pertumbuhan kredit.
Namun, tanpa pemulihan yang lebih kuat di sektor riil,
khususnya melalui investasi, dorongan terhadap pertumbuhan kredit akan
terbatas.
“Artinya, target mungkin tercapai secara agregat, tetapi
belum mencerminkan penguatan intermediasi yang berkualitas,” ujarnya.
Rizal menuturkan tantangan utama bagi sektor perbankan saat
ini adalah adanya kesenjangan antara likuiditas yang cukup longgar dengan
permintaan kredit yang masih lemah, di tengah peningkatan risiko kredit dan
tekanan terhadap margin.
Selain itu, ia menyoroti penyaluran kredit yang masih
terkonsentrasi pada sektor tertentu, sehingga belum menciptakan basis
pertumbuhan yang luas.
Menurut data Bank Indonesia (BI) di Jakarta, Jumat (27/3),
penyaluran kredit pada Februari 2026 tumbuh 8,9 persen year-on-year (yoy),
lebih rendah dibandingkan pada Januari 2026 yang sebesar 10,2 persen yoy.
Rizal mengatakan perlambatan pertumbuhan kredit tersebut
mencerminkan lemahnya transmisi antara likuiditas dan permintaan riil.
Ia menjelaskan, dari sisi permintaan, para pelaku usaha
masih cenderung wait and see di tengah ketidakpastian global dan tingginya cost
of capital (biaya modal), sehingga ekspansi investasi dan kebutuhan modal kerja
tertahan.
Ia menyatakan, rumah tangga juga belum cukup kuat menopang
permintaan kredit, tercermin dari kecenderungan konsumsi yang lebih hati-hati.
Sementara dari sisi supply, perbankan memperketat seleksi
penyaluran karena meningkatnya risiko, terutama di sektor-sektor yang sensitif
terhadap tekanan perekonomian global, sehingga meskipun likuiditas relatif
cukup, keinginan untuk melakukan ekspansi kredit belum sepenuhnya pulih.
Ia pun menekankan pentingnya untuk memastikan likuiditas
yang ada benar-benar berdampak ke sektor riil dan mendorong aktivitas ekonomi,
bukan hanya tertahan di instrumen keuangan.
“Dengan demikian, perbankan perlu memperkuat kualitas
intermediasi dengan memperluas pembiayaan ke sektor-sektor produktif yang lebih
resilient (tangguh), meningkatkan efisiensi agar pricing kredit lebih
kompetitif, dan menjaga kualitas aset,” ucap Rizal.
Senada dengan M Rizal Taufikurahman, Ekonom Lembaga
Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas
Indonesia (LPEM FEB UI) Teuku Riefky menyatakan kepada ANTARA bahwa penyaluran
kredit ke depannya masih terbatas karena ketidakpastian global dan domestik
yang masih tinggi.
Selain itu, perlambatan penyaluran kredit tersebut juga
disebabkan karena sejumlah periode libur panjang pada triwulan I tahun ini.
“Di Februari mulai memasuki periode banyak libur sehingga
hari kerja juga mulai berkurang. Kemudian, di Februari keluar warning
(peringatan) MSCI serta berbagai lembaga rating (pemeringkat) yang membuat
ketidakpastian meningkat,” imbuh Teuku Riefky.