Menjelang pekan pencairan Tunjangan Hari Raya (THR) bagi
banyak pekerja menyambut momen Lebaran, semakin tinggi juga penipuan digital
yang mengincarnya.
Berdasarkan data seperti temuan VIDA sepanjang 2025
menemukan lonjakan kasus penipuan digital paling banyak terjadi menjelang dan
saat pencairan (THR).
Momentum ini ditandai dengan meningkatnya aktivitas
transaksi dan mobilitas masyarakat yang secara tidak langsung membuka lebih
banyak celah bagi pelaku untuk melancarkan aksinya.
Oleh karena itu, Founder & Group CEO VIDA Niki Luhur
dalam keterangannya yang diterima di Jakarta, Minggu. mengimbau masyarakat
harus semakin waspada dan mengenal jenis penipuan-penipuan digital yang mungkin
terjadi agar tidak terjebak.
"Penipuan selalu beradaptasi. Setiap kali sistem
pertahanan diperkuat, pelaku menguji ulang, menyesuaikan teknik, dan kembali
dengan metode yang lebih kompleks dan sistematis. Mereka memanfaatkan celah
keamanan, kelemahan literasi digital masyarakat, serta momentum tertentu untuk
melancarkan aksinya," kata Niki.
Niki membagikan setidaknya ada dua modus penipuan yang perlu
diwaspadai menjelang momen THR kali ini.
Pertama ada phising atau smishing. Metode ini melibatkan
berbagai cara untuk memancing korban mengklik tautan dan memasukkan data
pribadi seperti username, password, dan One-Time Password (OTP) via SMS.
Contohnya, pelaku dapat menyamar sebagai instansi logistik
ataupun ada nomor tidak diketahui memberikan tawaran promo Ramadhan palsu.
Modus ini juga berkembang melalui metode fake BTS yang tahun
lalu ramai dan ditemukan oleh Pemerintah. Metode penipuan ini memungkinkan
pesan palsu terkirim secara massal dan tampak seolah berasal dari institusi
resmi sehingga terlihat meyakinkan bagi penerima sehingga harus diwaspadai.
Selanjutnya, penipuan kedua ialah malware. Metode penipuan
ini memancing korban untuk mengunduh aplikasi berbahaya dalam bentuk file APK.
Modus yang digunakan beragam dan paling sering ditemukan
ialah pelaku mengirim dokumen seolah itu adalah dokumen penting seperti dokumen
status pengiriman paket, undangan pernikahan, hingga dokumen lain yang tampak
relevan bagi korban.
Apabila tidak jeli, setelah terunduh, aplikasi tersebut
dapat terpasang otomatis ke gawai korban dan memungkinkan pelaku memantau
perangkat dari jarak jauh, termasuk mengakses password serta berbagai informasi
sensitif yang tersimpan maupun digunakan di dalam perangkat.
Kedua modus ini memiliki pola yang serupa, yaitu berupaya
memperoleh akses terhadap password atau kredensial pengguna.
Hal ini menunjukkan bahwa password semata tidak lagi cukup
menjadi benteng keamanan di era digital yang semakin kompleks.
Agar dapat mencegah penipuan ini menjerat masyarakat di masa
jelang Lebaran tahun ini, Niki menyebutkan ada dua aspek yang harus dilindungi
yakni perangkat yang dimiliki serta identitas biometrik.
Keduanya berkaitan erat karena perangkat yang dimiliki
merujuk pada ponsel pintar, tablet, maupun laptop mungkin saja menyimpan akses
identitas digital yang di masa kini menjadi penting sebagai gerbang menuju ke
layanan krusial seperti layanan finansial.
Maka dari itu, memberikan proteksi tambahan pada perangkat
yang dimiliki menjadi penting agar kejadian-kejadian penipuan ini tidak
membobol akses krusial.
VIDA juga mendorong gerakan bernama #JanganAsalKlik agar
masyarakat di momen penting jelang pencairan THR bisa lebih teliti saat
menerima pesan digital. Masyarakat baiknya tidak sembarang mengklik tautan,
mengunduh aplikasi, maupun membagikan informasi pribadi agar tak terjerat
modus-modus penipuan tersebut.