-->

Notification

×

Iklan

Iklan

banner 728x90

Indeks Berita

Kalangan analis menilai fase terburuk pasar saham Indonesia kemungkinan telah berlalu. Seiring membaiknya sejumlah indikator ekonomi dan valuasi saham

Senin, 15 Juni 2026 | Juni 15, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-06-14T21:02:20Z

 Kalangan analis menilai fase terburuk pasar saham Indonesia kemungkinan telah berlalu. Seiring membaiknya sejumlah indikator ekonomi dan valuasi saham yang masih murah, investor dinilai mulai memiliki ruang untuk melakukan akumulasi saham.



Head of Equity Research Samuel Sekuritas Indonesia Prasetya Gunadi dan tim mengungkapkan terdapat sejumlah perkembangan yang mendukung pandangan bahwa tekanan terbesar terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) telah mereda.

Faktor pertama adalah penguatan nilai tukar rupiah. Secara historis, penguatan rupiah kerap menjadi salah satu indikator bahwa IHSG telah mendekati atau melewati titik terendahnya.

“Penguatan rupiah didorong oleh respons kebijakan yang makin tegas dari Bank Indonesia (BI),” tulis Prasetya dan tim dalam riset yang dikutip Minggu (14/6/2026).

Dalam satu bulan terakhir, BI telah menaikkan suku bunga acuan secara kumulatif sebesar 75 basis poin (bps), termasuk kenaikan 25 bps pada 9 Juni 2026 sehingga BI-Rate berada di level 5,5%.

Selain itu, penguatan rupiah dinilai berpotensi berlanjut apabila kebijakan tata kelola ekspor komoditas sumber daya alam seperti batu bara, crude palm oil (CPO), dan ferro alloy mampu mengurangi praktik under-invoicing atau pelaporan nilai ekspor yang lebih rendah dari nilai sebenarnya. Langkah tersebut berpotensi meningkatkan arus masuk devisa dolar AS ke Indonesia.

Dari sisi fiskal, pengeluaran pemerintah yang lebih rendah untuk program makan bergizi gratis (MBG) serta rasionalisasi anggaran koperasi desa juga dinilai dapat membantu menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Faktor positif lainnya datang dari kembalinya arus dana asing ke pasar saham domestik. Pada 12 Juni 2026, pasar saham Indonesia mencatat arus masuk dana asing bersih (net foreign inflow) sebesar Rp 287 miliar atau sekitar US$ 16 juta. Ini menjadi aliran dana asing bersih pertama sejak 20 Mei 2026. “Kondisi tersebut berpotensi memberikan tambahan sentimen positif terhadap rupiah,” tulis Prasetya.

Menurut Samuel Sekuritas, kenaikan IHSG sebesar 7,6% pada 9 Juni terjadi ketika valuasi pasar berada pada level yang sangat murah. Saat itu, pasar diperdagangkan pada rasio price to earnings (P/E) satu tahun ke depan sebesar 8,8 kali.

Level tersebut berada sekitar 11% di bawah batas minus dua standar deviasi historis dan 36% lebih rendah dibandingkan rata-rata lima tahun terakhir. “Kondisi ini membuat investor mulai melihat peluang akumulasi saham,” ungkap Prasetya.

Sebelumnya, IHSG sempat terkoreksi hingga 41% dari puncak ke titik terendah dalam kurun sekitar 4,6 bulan. Penurunan tersebut bahkan lebih dalam dibandingkan sejumlah periode krisis sebelumnya.

Sebagai perbandingan, IHSG pernah turun 23,9% pada 2013, melemah 25,4% pada 2015, serta terkoreksi 37,7% saat pandemi Covid-19. Adapun penurunan terdalam terjadi pada krisis keuangan global 2008 yang mencapai 60,7%.

“Menurut pandangan kami, pasar telah mencerminkan skenario yang setara dengan kondisi krisis besar, padahal kondisi fundamental saat ini tidak seburuk itu,” tulisnya.


×
Berita Terbaru Update