Inggris dan Prancis akan memimpin misi militer internasional
untuk memastikan kebebasan navigasi di Selat Hormuz segera setelah
"kondisi memungkinkan," kata Perdana Menteri Inggris Keir Starmer
pada Jumat (17/4).
Pernyataan itu disampaikan setelah Starmer mengikuti KTT
internasional yang diselenggarakan Prancis untuk keamanan maritim di Selat
Hormuz.
"Saya dapat memastikan bahwa, bersama dengan Prancis,
Inggris akan memimpin misi multinasional untuk melindungi kebebasan navigasi
segera setelah kondisi memungkinkan,” kata Starmer kepada wartawan setelah KTT
yang diikuti perwakilan 49 negara tersebut.
Ia menegaskan bahwa misi pertahanan tersebut sepenuhnya
bersifat damai guna menjamin keamanan pelayaran komersial dan mendukung
pembersihan ranjau.
Lebih dari belasan negara telah menyatakan kesediaan mereka
untuk mengirim peralatan militer ke Selat Hormuz setelah gencatan senjata
berkelanjutan antara Iran dan AS disepakati, kata Starmer.
Ia mengundang semua pihak yang bersedia untuk bergabung
dalam misi tersebut.
Starmer juga mengumumkan pertemuan perwakilan kementerian
pertahanan negara-negara yang berpartisipasi dalam misi tersebut, yang
dijadwalkan akan berlangsung minggu depan di London.
"Selat itu harus segera dibuka kembali, tanpa pungutan
dan tanpa pembatasan,” ujar Starmer.
Pada 13 April, Angkatan Laut AS mulai memblokade semua lalu
lintas maritim yang masuk dan keluar dari pelabuhan-pelabuhan Iran di kedua
sisi Selat Hormuz yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas alam
cair dunia.
Washington membebaskan kapal-kapal selain Iran untuk
melintasi Selat Hormuz, selama mereka tidak membayar pungutan kepada Teheran.
Otoritas Iran belum mengumumkan pemberlakuan pungutan,
tetapi telah membahas rencana tersebut.
Pada 28 Februari, AS dan Israel melancarkan serangan
terhadap di Iran, hingga menyebabkan kerusakan dan korban sipil.
Iran menanggapi dengan menyerang wilayah Israel dan sejumlah
fasilitas militer AS di Timur Tengah.
Banyak negara di kawasan ini bahkan menutup sebagian atau
seluruh wilayah udaranya, di tengah risiko serangan rudal dan pesawat nirawak.