Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) pada Kamis (9/4)
menyatakan telah menetapkan rute maritim alternatif di Selat Hormuz dengan
alasan risiko ranjau laut di tengah ketegangan dengan Amerika Serikat.
Angkatan Laut (AL) IRGC memperingatkan adanya "situasi
perang" di Teluk dan Selat Hormuz serta kemungkinan keberadaan ranjau laut
di jalur utama, menurut laporan Mehr News Agency yang melampirkan peta rute
tersebut.
Semua kapal yang melintasi jalur strategis itu harus
mengikuti rute alternatif "hingga pemberitahuan lebih lanjut" dan
berkoordinasi dengan AL IRGC guna memastikan keselamatan pelayaran dan menghindari
potensi ranjau laut.
"Mengingat kondisi perang di Teluk dan Selat Hormuz
serta potensi ranjau laut di jalur utama, semua kapal harus mematuhi rute
navigasi alternatif," kata AL IRGC dalam pernyataannya.
Untuk lalu lintas masuk, kapal diarahkan berlayar ke utara
dari Teluk Oman, melewati Pulau Larak, dan melanjutkan perjalanan menuju Teluk.
Untuk lalu lintas keluar, kapal berangkat dari Teluk,
melewati selatan Pulau Larak, dan menuju Teluk Oman.
Situasi di Selat Hormuz masih belum stabil di tengah
penutupan total oleh Iran dan pembukaan bersyarat setelah pengumuman gencatan
senjata sementara dengan Amerika Serikat.
Sumber di pemerintah Pakistan mengatakan bahwa delegasi AS
dan Iran akan mengadakan pembicaraan "langsung" di Islamabad untuk
mencapai "gencatan senjata permanen" guna mengakhiri perang yang
telah berlangsung sejak 28 Februari.
Negosiasi yang dijadwalkan dimulai Sabtu itu kemungkinan
berlangsung lebih dari satu hari, kata sumber tersebut.