Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar
Widyasanti mengatakan pola konsumsi masyarakat Indonesia sudah bergeser ke
konsumsi berbasis experience atau pengalaman, seperti transportasi, restoran,
hotel dan perjalanan wisata.
“Ini menunjukkan bahwa pola konsumsi masyarakat kita sudah
lebih cenderung mengonsumsi yang lebih ke experience dibandingkan belanja
baju,” kata Amalia di Jakarta, Selasa.
Amalia menjelaskan perubahan tersebut terlihat dari komponen
konsumsi rumah tangga pada Triwulan I-2026, ketika pertumbuhan tertinggi tidak
lagi berasal dari belanja pakaian dan alas kaki, melainkan dari transportasi
serta restoran dan hotel.
Menurut dia, mobilitas masyarakat selama periode Ramadhan
dan Idul Fitri 1447 H turut mendorong perubahan pola konsumsi tersebut.
BPS mencatat jumlah perjalanan wisatawan nusantara tumbuh
13,14 persen secara tahunan pada Triwulan I-2026.
Amalia menjelaskan data wisatawan nusantara dihitung
menggunakan mobile positioning data melalui kerja sama dengan tiga penyedia layanan
telekomunikasi, yakni Telkomsel, XL, dan Indosat.
Ia menjelaskan metode tersebut merekam pergerakan masyarakat
antardaerah, namun tetap menjaga kerahasiaan identitas individu.
“Kami mengukur wisatawan nusantara itu bukan dengan survei,
tetapi dengan bagaimana mereka melakukan mobilitas yang terekam dari mobile
positioning data,” ujarnya.
Selain pola perjalanan, perubahan konsumsi juga terlihat
dari cara masyarakat bertransaksi yang semakin banyak dilakukan secara digital.
Amalia menyebut transaksi perdagangan melalui sistem
elektronik tumbuh 27,8 persen secara tahunan, sedangkan secara kuartal
meningkat 6,19 persen pada Triwulan I-2026.
Sementara itu, transaksi menggunakan Quick Response Code
Indonesian Standard (QRIS) tumbuh 111,94 persen secara tahunan.
Menurut Amalia, perubahan pola konsumsi dan transaksi
tersebut tidak terlepas dari struktur demografi Indonesia yang semakin
didominasi generasi muda.
Berdasarkan hasil Survei Penduduk Antar Sensus yang dirilis
BPS pada 5 Mei 2026, generasi milenial dan Generasi Z (Gen Z) mencakup hampir
49 persen dari total penduduk.
Jika ditambah generasi setelah Gen Z (post-Gen Z)yang
berusia di bawah 12 tahun dengan porsi 19,65 persen, maka sekitar 68 persen
penduduk Indonesia berasal dari kelompok milenial, Gen Z, dan post-Gen Z.
“Inilah yang menyebabkan pola konsumsi masyarakat kita sudah
berubah tidak seperti zaman dulu,” ungkap Amalia.
Ia mengatakan perubahan tersebut penting dibaca oleh pelaku
usaha dan pembuat kebijakan karena konsumsi masyarakat tetap menjadi penopang
utama ekonomi domestik.