-->

Notification

×

Iklan

Iklan

banner 728x90

Indeks Berita

Rupiah babak belur sejak awal Mei 2026

Rabu, 27 Mei 2026 | Mei 27, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-05-27T04:28:34Z

 

Pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) berdampak langsung pada ekonomi nasional karena memicu naiknya harga barang impor, biaya produksi industri, hingga utang luar negeri. Daya beli masyarakat akan tergerus akibat inflasi. Jika situasi berlangsung lama dan tidak diatasi serius, maka pelemahan kurs ini dapat berubah menjadi tekanan berlapis, bahkan gejolak domestik.

 


Rupiah babak belur sejak awal Mei 2026, seiring menguatnya dolar akibat suku bunga tinggi yang diterapkan Pemerintah Amerika Serikat (AS), ketegangan geopolitik, kenaikan harga minyak dunia, serta derasnya arus modal asing yang keluar dari Indonesia karena ketidakpastian domestik. Menyempitnya ruang fiskal akibat meningkatnya beban subsidi bahan bakar minyak (BBM), serta bertambahnya porsi belanja pemerintah untuk program, seperti makan bergizi gratis (MBG) dan Koperasi Merah Putih, turut memengaruhi daya tahan rupiah.

Pada Senin (18/5/2026) siang, nilai tukar rupiah di pasar spot exchange melemah 79,5 poin atau 0,45% ke level Rp 17.676 per dolar AS, rekor terburuk dalam sejarah.

 “Nilai tukar rupiah yang menurun tetap memengaruhi harga berbagai kebutuhan pokok karena banyak sektor ekonomi Indonesia masih bergantung pada barang impor dan harga global,” kata pakar ekonomi dari Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura) Fatkur Huda, Minggu (17/5/2026).

Indonesia hingga kini masih bergantung pada impor bahan baku industri, mesin, alat kesehatan, energi, serta komponen manufaktur. Saat rupiah kehilangan nilai, biaya impor langsung melonjak. Pelaku usaha tidak memiliki banyak ruang. Kenaikan ongkos produksi akhirnya diteruskan ke harga jual. Situasi ini mendorong inflasi bergerak naik secara perlahan, lalu menggerus kemampuan masyarakat membeli kebutuhan sehari-hari.

Kelompok masyarakat kelas menengah menjadi pihak yang paling cepat merasakan tekanan. Saat harga pangan, obat-obatan, elektronik, hingga kebutuhan rumah tangga meningkat, pendapatan tidak otomatis ikut naik. Ruang belanja menyempit. Masyarakat mulai menahan konsumsi. Jika kondisi berlangsung panjang, mesin pertumbuhan ekonomi kehilangan bahan bakar utamanya. Konsumsi rumah tangga selama ini menjadi penopang ekonomi nasional.

Fatkur mengatakan masyarakat bawah di perdesaan, seperti petani, nelayan, pelaku UMKM, dan pekerja informal, meski tidak memiliki mata uang dolar, tetapi merasakan langsung dampak anjloknya rupiah karena kenaikan harga pupuk, pakan ternak, hingga ongkos transportasi yang akan meningkatkan biaya produksi dan distribusi.

“Harga kebutuhan sehari-hari berpotensi ikut naik, sementara pendapatan masyarakat desa belum tentu mengalami peningkatan, sehingga dalam jangka panjang, kondisi ini dapat menurunkan daya beli masyarakat dan memperbesar tekanan ekonomi masyarakat kecil,” ujar Fatkur.

Industri manufaktur menghadapi ancaman lebih berat. Banyak sektor yang masih bergantung pada bahan baku impor membuat biaya produksi meningkat tajam akibat runtuhnya nilai rupiah. Tekanan biaya memaksa perusahaan mengurangi margin keuntungan. Pada kondisi ekstrem, perusahaan dapat menunda ekspansi, mengurangi kapasitas produksi, bahkan menekan jumlah tenaga kerja.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Kamdani mengatakan saat ini 70% bahan baku industri manufaktur nasional masih diimpor. Kontribusinya mencapai 55% dalam struktur biaya produksi.

“Dengan demikian, depresiasi rupiah langsung tecermin dalam peningkatan biaya," kata Shinta, Jumat (15/5/2026).

Menurutnya, industri petrokimia, plastik, makanan dan minuman, farmasi, hingga manufaktur berbasis energi, paling cepat terkena dampak lemahnya rupiah. Industri-industri tersebut memiliki sensitivitas tinggi terhadap fluktuasi kurs karena sebagian besar bahan bakunya dari luar negeri. Misalnya industri plastik. Harga nafta sebagai bahan baku utama kini naik signifikan sehingga mendorong harga resin meningkat puluhan persen. Kondisi ini memicu efek berantai pada industri kemasan dan berbagai sektor hilir lain yang menggunakan produk plastik.

“Harga nafta telah meningkat signifikan dan mendorong kenaikan harga resin hingga puluhan persen yang kemudian berdampak berantai pada industri kemasan dan sektor hilir,” ujarnya.

Risiko lain muncul pada utang luar negeri pemerintah dan swasta. Saat kurs dolar naik, nilai pembayaran utang dalam rupiah ikut membesar. Beban fiskal meningkat. Ruang anggaran menyempit. Kondisi serupa mengintai korporasi nasional yang memiliki pinjaman berbasis dolar tanpa perlindungan risiko memadai. Tekanan kurs dapat berubah menjadi tekanan keuangan.

Pasar modal ikut merasakan dampak dari runtuhnya nilai rupiah. Investor asing saat cenderung menghindari risiko dengan mencabut modal dari pasar saham dan obligasi domestik. Efek keluarnya arus modal menambah tekanan terhadap rupiah dan sentimen pasar memburuk.

Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Tiongkok atau China Chamber of Commerce baru-baru ini menyurati Presiden Prabowo Subianto menyampaikan iklim investasi di Indonesia makin tidak pasti, terutama pada sektor pertambangan dan hilirisasi nikel. Mereka juga menyoroti kenaikan pajak dan royalti, pengetatan aturan devisa hasil ekspor (DHE), pengurangan kuota bijih nikel, penegakan hukum yang dinilai berlebihan, hingga potensi munculnya ruang korupsi dan pemerasan.

 

Investor China memprotes pengurangan besar-besaran kuota tambang bijih nikel sejak awal 2026 dan hingga kini disebut sudah mencapai lebih dari 70% atau sekitar 30 juta ton secara total. Langkah Kementerian ESDM menaikkan harga patokan mineral (HPM) bijih nikel serta mengubah formula perhitungannya dengan memasukkan unsur kobalt, besi, dan mineral, dinilai telah membuat biaya komprehensif bijih nikel melonjak hingga 200%.

 

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia langsung menangguhkan kebijakan tersebut setelah ada keluhan dari Kadin China. “Kita sudah sepakati kita tangguhkan sementara sambil kita mencari formulasi yang baik, dengan tetap mengedepankan kepentingan negara dan juga kepentingan pengusaha. Harus sama-sama untung," katanya.

 

Defisit APBN

Lonjakan harga minyak mentah dan pelemahan nilai tukar rupiah berpotensi menambah beban defisit APBN hingga Rp 200 triliun. Berdasarkan simulasi Permata Institute of Economic Research (PIER), tambahan defisit APBN diperkirakan menembus lebih dari Rp 200 triliun apabila rata-rata nilai tukar rupiah berada pada level Rp 17.400 per dolar AS dan harga minyak mentah mencapai US$ 100 per barel.

 

“Dampak dari kenaikan harga minyak mentah dan juga pelemahan nilai tukar rupiah itu dalam kondisi asumsi tertentu ini bisa mendorong pelebaran defisit anggaran yang cukup besar,” kata Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede.

 

Pemerintah menetapkan target defisit APBN 2026 sebesar Rp 689,1 triliun atau setara 2,68% terhadap PDB. Meski saat ini ada saldo anggaran lebih (SAL) sekitar Rp 420 triliun yang dinilai cukup memadai, tetapi kenaikan inflasi dan depresiasi rupiah berkepanjangan berpotensi menggerus ruang fiskal tersebut dalam waktu dekat.

×
Berita Terbaru Update