-->

Notification

×

Iklan

Iklan

banner 728x90

Indeks Berita

Perusahaan keamanan siber CrowdStrike menyebut kelompok peretas yang terkait dengan China menjadi ancaman spionase terbesar bagi perusahaan teknologi

Rabu, 10 Juni 2026 | Juni 10, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-06-09T23:48:58Z

 Perusahaan keamanan siber CrowdStrike menyebut kelompok peretas yang terkait dengan China menjadi ancaman spionase terbesar bagi perusahaan teknologi selama setahun terakhir.



Temuan tersebut muncul di tengah meningkatnya investasi global pada sektor kecerdasan buatan (AI).

Seperti dilansir dari Reuters, dalam laporan yang dirilis Selasa (9/6/2026), CrowdStrike menyatakan aktivitas peretasan yang dikaitkan dengan China sejalan dengan prioritas strategis pemerintah negara tersebut, terutama dalam pengembangan teknologi, perolehan kekayaan intelektual, serta pengumpulan informasi yang memiliki nilai ekonomi dan strategis.

Laporan itu menemukan sektor teknologi kembali menjadi target utama baik bagi pemerintah asing maupun kelompok kejahatan siber. Industri yang paling banyak disasar meliputi perusahaan perangkat keras komputer, layanan teknologi informasi dan konsultasi, semikonduktor, serta pengembang perangkat lunak.

CrowdStrike tidak mengungkap identitas perusahaan yang menjadi sasaran serangan siber tersebut.

Kedutaan Besar China di Washington menolak temuan tersebut. Pemerintah China menegaskan pihaknya menentang aktivitas peretasan dan memerangi tindakan tersebut sesuai hukum yang berlaku.

Periode penelitian CrowdStrike mencakup rentang 1 April 2025 hingga 31 Maret 2026. Menurut Senior Vice President sekaligus Head of Counter Adversary Operations CrowdStrike Adam Meyers, lonjakan valuasi dan investasi pada perusahaan teknologi berbasis AI menjadikan sektor tersebut semakin menarik bagi pelaku spionase siber.

Pada 23 April lalu, Kantor Kebijakan Sains dan Teknologi Gedung Putih menuduh sejumlah entitas berbasis di China menjalankan kampanye sistematis untuk memperoleh model AI yang dikembangkan perusahaan-perusahaan Amerika Serikat secara diam-diam.

Meyers menilai persaingan pengembangan AI antara Amerika Serikat dan China semakin intensif. Ia menyebut China memiliki ambisi menjadi pemimpin global dalam teknologi AI pada 2030 sehingga berbagai laboratorium pengembangan AI maupun perusahaan pengembang model khusus berpotensi menjadi target utama.

Menanggapi tuduhan tersebut, juru bicara Kedutaan Besar China di Washington menyatakan negaranya menolak segala bentuk fitnah yang mengatasnamakan keamanan siber.

China juga menilai kerja sama dengan Amerika Serikat dalam pengembangan dan tata kelola AI perlu terus ditingkatkan.

Selain China, CrowdStrike juga menyoroti ancaman dari kelompok peretas yang terkait dengan Korea Utara. Salah satu modus yang banyak ditemukan adalah penggunaan identitas palsu untuk memperoleh pekerjaan jarak jauh di perusahaan teknologi.

Menurut laporan itu, pendapatan para pekerja tersebut sebagian besar disalurkan kepada pemerintah Korea Utara. Posisi mereka di dalam perusahaan juga dinilai dapat dimanfaatkan untuk mengumpulkan informasi intelijen.

Sementara itu, kelompok peretas yang dikaitkan dengan Rusia dan Iran juga disebut aktif menargetkan sektor teknologi di Amerika Serikat dan negara-negara lain untuk tujuan pengumpulan intelijen maupun serangan menggunakan perangkat lunak berbahaya.

CrowdStrike turut mencatat peningkatan aktivitas kelompok kejahatan siber yang berorientasi pada keuntungan finansial. Selama periode pengamatan, jumlah iklan yang menawarkan akses ke sistem milik perusahaan teknologi meningkat sekitar 30%, menandakan semakin tingginya aktivitas perdagangan akses ilegal di dunia siber.


×
Berita Terbaru Update